Cara Menghitung Persentase Untung Rugi Sesuai Syariat

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlak mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang cara menghitung persentase untung rugi sesuai syariat.

Selamat membaca.

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustadz, Ana kerjasama dengan seseorang.

Misal:

Ana: si A (pengelola dan uang 15jt)

Seseorang: si B (hanya uang 35jt)

A bekerjasama dengan B dengan prosentase bagi hasil 65:35.

Lalu, bagaimana hitungan prosentase bagi ruginya yang sesuai syar’i?

Kemudian, datang C ingin investasi.

Dan A menawarkan sahamnya 30% dijual ke C dengan persetujuan B.

Jadi, uang dari C untuk pribadi si A, karena menurutnya saham dia sudah dibeli 30%.

Jadi A hanya mendapatkan 35% sebagai pengelola.

B mendapatkan 35% sebagai pemodal.

C mendapatkan 30% juga hanya pemodal yang beli saham dari A.

Bolehkah kasus di atas?

(Disampaikan oleh sahabat BiAS).

Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Sistem Musyarakah

Skema saham di atas adalah tanam modal dengan sistem musyarakah (masing-masing pihak sebagai pemodal dan pengelola) atau mudharabah (ada pihak yang sebagai pemodal tanpa pengelola dan ada pihak yang sebagai pengelola tanpa pemodal), jika ketentuan untung ruginya ditanggung bersama oleh kedua belah pihak maka hukumnya boleh, sah dan halal.

Namun, sebelum tanam modal hendaknya pelajari dulu seluk beluk perusahaannya, apakah berkegiatan dalam usaha-usaha mubah atau usaha-usaha haram? Usaha mubah seperti pertanian, garmen, atau makanan ringan dan semisalnya. Sementara usaha haram seperti rokok, minuman keras, asuransi, dan semisalnya. Kesimpulannya jelas, jangan sampai kita menjadi agen-agen keburukan dengan turut andil dalam usaha haram.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ

Baca Juga:  Apakah Durhaka Tidak Menemani Ibu Yang Sakit Hingga Meninggal

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” (QS. Al-Maidah, 2).

Bagaimana Jika Ada Percampuran Antara Usaha yang Mubah Dengan yang Haram?

Seperti produk makanan ringan tapi saham mayoritasnya dari minuman keras, maka yang seperti ini tidak boleh.

Dalam kaidah fiqh disebutkan,

إِذَا اجْتَمَعَ الحَلاَلُ وَالْحَرَامُ، غُلِّبَ الْحَرَامُ

“Apabila bercampur antara yang halal dengan yang haram, yang lebih dikuatkan adalah yang haram”

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan kita agar bersikap wara’

من اتقى الشُّبهات فقد استبرأ لدينه وعرضه

“Barang siapa menghindari syubhat, berarti ia telah menjaga agama dan kehormatannya” (HR. Bukhari, 50 dan Muslim, 2996).

Adapun pembagian keuntungan alias prosentase bagi hasil antara pemodal dan pengelola, maka syariat Islam sangat luwes dalam hal ini yakni berdasarkan kesepakatan dua belah pihak, tapi untuk kerugian tetap ditanggung oleh pemodal saja. Sebagaimana kaidah yang sebutkan oleh para ‘Ulama,

يستحق الربح إما بالمال أو بالعمل أو بالضمان

Baca Juga:  Hukum Rias Pengantin dan Menyikapi Suami Malas Shalat Wajib

“Hak mendapat keuntungan itu dipengaruhi oleh modal, pekerjaan, atau risiko kerugian” (Jamharah al-Qawaid al-Fiqhiyah).

Ini sejalan dengan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam,

الْخَرَاجُ بِالضَّمَانِ

“Hasil itu sebanding dengan resiko rugi yang ditanggung” (HR. Abu Daud, 3510).

Catatannya hanya satu, hendaknya kesepakatan dilakukan didepan dan se-transparan mungkin agar semua pihak saling ridho, jangan sampai ada sesuatu yang mengganjal di kemudian hari karena samarnya akad dan pembagian.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menegaskan,

لاَ يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلاَّ بِطِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ

“Tidaklah halal harta seorang muslim kecuali dengan dasar kerelaan jiwa darinya” (HR. Ahmad, 5/72 dan Al-Baihaqi, 6/100).

Sehingga untuk kasus diatas, Insya Allah boleh selama keikutsertaan si C diketahui dan diridhoi si A, sebab saham bukan hanya tentang untung rugi tapi juga tentang kepemilikan bersama dan tanggung jawab.

Wallahu A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:

Baca Juga:  Bagaimana Cara Taubat Dari Zina dan Aborsi?

Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله

Rabu, 16 Ramadhan 1442 H / 28 April 2021

Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله

Beliau adalah Alumni STDI IMAM SYAFI’I Kulliyyatul Hadits, dan Dewan konsultasi Bimbingan Islam,

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله  klik disini