Cara Mengenal Allah Sehingga Hati Menjadi Tenang

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang cara mengenal Allah sehingga hati menjadi tenang.
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu menjaga ustadz dan keluarga. Saya mau bertanya ustadz.

Saya mau tanya. Bagaimana cara mengenal Allah, mengetahui siapa Allah itu? kemudian meyakini Allah sampai akhirnya mencintai Allah?
Sebab perkara ini membuat saya selalu bertanya-tanya dan hidup dengan hati ragu.

(Disampaikan oleh Fulan, Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Mengenal Allah harus dengan cara Allah, karena Allah belum pernah ada yang berjumpa langsung dengan-Nya  di dunia ini, maka tiada cara untuk mengenalnya kecuali melalui apa yang Allah beritahukan sendiri tentang dirinya kepada para hamba-Nya. Semua melalui lisan para nabi dan para Rasul-Nya. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

 يَاأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَآأُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللهَ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanatNya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”
(QS. Al Maidah:67)

Baca Juga:  Bolehkah Aqiqah Dengan Sapi?

Allah juga berfirman :

رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللهِ حُجَّةُُ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(QS An Nisaa’:165)

Dari para Nabi dan Rasul kita mengenal Allah dan mengenal kewajiban kita sebagai seorang hamba. Untuk menunjukkan bahwa memang benar seorang hamba mengenal RabbNya. Sebagaimana firman Allah ta’ala,

 وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُون

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu.”
[Adz Dzaariyaat:56].

Juga firmanNya:

وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّنُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلآ أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya : “Bahwasanya tidak ada Ilah(yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.”
(QS Al Anbiyaa’:25).

Dari sini maka kita tidak akan mungkin bisa mengenal Allah kecuali dengan mempelajari segala sesuatu yang telah diterangkan oleh Rasul-Nya tentang Dzat-NYa, apa hak-hak-Nya yang harus dijaga dan kewajiban apa yang semestinya para hamba jalankan untuk mengabdi kepada-Nya.

Baca Juga:  Taqlid Dalam Bermazhab

Hanya dengan cara itu seorang hamba mengenal Allah, dengan ilmu bukan dengan mimpi dan bualan dusta yang banyak disebarkan. Belajar dari sumbernya, dari alquran dan as-sunnah (hadits) dengan pemahaman yang dijelaskan oleh para sahabat Rasulullah. Kita tidak butuh khayalan dan kedustaan, yang kita butuhkan adalah penjelasan valid dari pihak dan sumber yang benar. tanpa penambahan dan pengurangan.

Dari bukti kenabian berupa al-quran dan al-hadist yang sahih kita bisa mengenal Allah, yang kemudian di dukung dengan bukti nyata dari alam semesta dan makhluk di sekitar untuk meyakinkan bahwa kita tidak mungkin tercipta tanpa adanya Dzat yang Maha Pencipta dan Maha Hebat dari seluruh makhluk-Nya.

Utamanya bila seseorang belajar tentang ilmu tauhid, ilmu tentang Allah dan kewajiban mengesakan Allah. Ilmu yang sangat di tekankan oleh Nabi Muhammad shallahu alaihi wasallam ketika mendakwahkan ajaran islam. Tidak tanggung tangung, selama tiga belas tahun lamanya Rasulullah berjuang mengenalkan hakikat Allah ta’ala kepada kaumnya di Mekkah, walau banyak rintangan sampai akhirnya terusir dari tempat kelahirannya.

فقد قال ابن رجب: أفضل العلم: العلم بالله وهو العلم بأسمائه وصفاته وأفعاله، التي توجب لصاحبها معرفة الله وخشيته ومحبته وهيبته وإجلاله وعظمته والتبتل إليه والتوكل عليه والصبر عليه، والرضا عنه والانشغال به دون خلقه. انتهى

Berkata Ibnu Rajab, ”Paling mulianya ilmu adalah ilmu tentang Allah yaitu ilmu terhadap nama, sifat dan kehendak-Nya, yang menuntut kepada para hamba untuk mengetahui Allah, takut, cinta, tunduk, mengagungkan, memuliakan dan beribadah kepada-Nya, serta bertawakal kepada-Nya, bersabar atas kuasanya dan menyibukkan diri hanya kepada-Nya, bukan kepada makhluk-Nya.”

Bisa di ikhtisarkan, bahwa cara mengenal Allah  adalah dengan cara belajar  ilmu syar’i, atau dengan membaca ayat ayatnya yang syar’iyyah (dari dalil al-quran dan as-sunnah), dengan penuh tadabbur (penghayatan) . Atau juga dengan cara memperhatikan dengan segala makluk-Nya yang  bisa di rasakan dengan panca indera kita, untuk meyakinkan bahwa Allah dzat yang Maha Besar.

Baca Juga:  Bolehkah Bekerja di Perusahaan yang di Sebagian Transaksi ada Riba?

Itulah sekilas, usaha untuk lebih mengenal Allah, sampai akhirnya kita benar benar Mencintai Allah dan Allahpun cinta kepada hamba karena pengabdianNya.

Semoga dengan usaha kita mengenal Allah, Allah akan memberikan kebahagian kepada kita semua.

Wallahu ta’ala a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله
Selasa, 30 Rabiul Akhir 1442 H/ 15 Desember 2020 M



Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله 
klik disini