Begini Cara Menyikapi Resesi bimbingan islam
Begini Cara Menyikapi Resesi bimbingan islam

Cara Islami Menyikapi Resesi

1. Makna
2. Tanda dan efek resesi
3. Solusi Akhirat & Solusi Dunia

Bicara tentang perekonomian memang selalu jadi bahasan yang panjang, saat ekonomi membaik dan harta bertambah maka kekayaan jadi ujian, saat ekonomi memburuk dan harta menipis maka kemiskinan jadi hantu yang menakutkan. Tak diragukan lagi bahwa harta adalah fitnah yang nyata, Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً ، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sejatinya setiap ummat itu memiliki fitnah, dan fitnah ummatku adalah harta”
[HR Tirmidzi 2258]

Saat ini sebagian besar dari kita sedang merasakan betul fitnah tersebut, apalagi jika dikaitkan dengan bahasan yang sedang viral dikalangan Ekonom akhir-akhir ini; Resesi.

Saya dalam hal ini bukan seorang Ekonom yang akan membahas detail tentang resesi, melainkan lebih kepada cara Islam Menyikapi Resesi. Tapi setidaknya kita mulai dulu dari makna resesi, dalam istilah ekonomi resesi atau kemerosotan adalah kondisi ketika produk domestik bruto (GDP) menurun, bahasa sederhananya ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun.

Sementara majalah Forbes menjelaskan makna resesi adalah penurunan signifikan dalam kegiatan ekonomi yang berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Dan tanda-tanda resesi pun sebenarnya juga sudah banyak kita jumpai, mulai dari pendapatan menurun, kemiskinan bertambah, pinjaman macet melonjak, hutang pemerintah terus bertambah, PHK dimana-mana, dan lain-lain.

Dalam kasus harian rumah tangga juga sudah banyak kita dapati tetangga yang mengeluh, ngirit-ngirit uang belanja, motong uang jajan, stop jalan-jalan, emosi saat nagih hutang, dan semisalnya, walaupun dengan embel-embel covid-19.

Takut jatuh miskin? Perhatikan firman Allah ‘Azza wa Jalla

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya serta karunia. Dan Allah Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui”
(QS Al-Baqoroh 268)

Sungguh, berkurangnya harta tidak selalu tercatat sebagai musibah yang mengenaskan, bisa jadi resesi ekonomi ini justru tercatat sebagai kebaikan besar yang belum kita pikirkan, saat saldo rekening terus berkurang tapi iman tidak goncang, saat perut lebih sering lapar tapi tawakkal tidak goyah, semua itu Insya Allah akan meringankan hisab kita kelak di akhirat dan memudahkan jalan kita menuju Surga.

Lalu apa yang pertama kali harus kita dilakukan?

Yang pertama kali harus kita lakukan adalah memahami sepenuhnya bahwa ini merupakan Kehendak & Kuasa Allah, mempercayai tanpa tapi, sabar, lalu ber-Istirjaa’.
Allah Ta’ala berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنْ الأَمْوَالِ وَالأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرْ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan; ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji´uun’
(QS Al-Baqoroh 155-156)

Mengapa kita perlu sabar dan istirjaa’? Karena Allah puji orang-orang yang berbuat demikian,

أُوْلَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُوْلَئِكَ هُمْ الْمُهْتَدُونَ

“Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”
(QS Al-Baqoroh 157).

Bagaimana solusi dari Resesi ini? Solusinya ada 2; solusi Akhirat dan solusi Dunia.

1. Solusi Akhirat, ada 4 hal yang bisa kita lakukan;

Pertama, Istighfar

Istighfar adalah bentuk penghambaan diri yang menjadi solusi ampuh dari segala permasalahan, Nabi Nuh ‘alaihi salam menyampaikan kepada kaumnya dan diabadikan Allah dalam firmanNya;

فَقُلۡتُ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارٗا يُرۡسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡكُم مِّدۡرَارٗا وَيُمۡدِدۡكُم بِأَمۡوَٰلٖ وَبَنِينَ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ جَنَّٰتٖ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ أَنۡهَٰرٗا

“Maka aku katakan kepada mereka; ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sejatinya Dia adalah Maha Pengampun. Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta serta anak-anakmu. Juga menjadikan untukmu kebun-kebun serta menjadikannya (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”
(QS Nuh 10-12)

Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan lebih detail tentang khasiat istighfar

مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا ، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا ، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa melazimkan atau memperbanyak istighfar niscaya Allah memberikan jalan keluar dari setiap kesedihannya, kelapangan dari setiap kegundahannya, dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka”
[HR Abu Daud 1518, Ibnu Majah 3819]

Maka mulai sekarang perbanyaklah istighfar, yang biasanya sebatas dzikir selepas sholat naikkan menjadi 70x dalam sehari, yang sudah 70x dalam sehari naikkan menjadi 100x dalam sehari, yang sudah 100x dalam sehari naikkan lebih dari itu, Insya Allah hati akan tenang dan solusi pun akan datang.

Kedua, Taqwa

Taqwa adalah solusi berikutnya, kita semua sepakat bahwa taqwa adalah asas kebahagiaan serta jalan keberuntungan di dunia maupun di akherat. Allah menerangkan secara berulang dalam Surat Ath-Tholaq

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar”
(QS Ath-Tholaq 2)

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam semua urusannya”
(QS Ath-Tholaq 4)

Jika Allah telah menjaminkan jalan keluar dan kemudahan bagi orang yang bertaqwa, pantaskah kita semua meremehkan Taqwa?

Ketiga, Tawakkal

Seorang mukmin itu sudah sepantasnya selalu bertawakal kepada Allah, menyandarkan hatinya dan menyerahkan semua urusannya kepada Allah

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”
(QS Ath-Tholaq 3)

Dari ‘Umar bin Khottob, ia berkata bahwa Rosululloh shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian benar-benar bertawakkal pada Allah, tentu kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang”
[HR Tirmidzi 2344]

Yakinilah bahwa kecerdasan maupun logika anda sebagai manusia sangat terbatas, dan keterbatasan itulah yang seharusnya menyadarkan anda untuk bertawakkal kepada Sang Pentipta, Allah Jalla wa ‘Alaa.

Keempat, Syukur

Hal yang terakhir ini adalah hal yang sering kita lupakan, yakni syukur. Bagaimana mungkin syukur saat musibah? Kita perlu tetap bersyukur saat ditimpa musibah minimal karena 2 sebab, karena Allah masih memberikan kepada kita kasih sayang sehingga Allah uji kita dengan musibah yang akan memudahkan hisab di akhirat, dan karena Allah belum mencabut seluruh nikmatNya atas kita, masih ada nyawa yang melekat, jantung yang berdetak, waktu untuk bersujud, makanan untuk mengganjal perut, dan lain-lain. Yang mana semua nikmat itu akan bertambah ketika kita bersyukur.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sejatinya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sejatinya adzab-Ku sangat pedih”
(QS Ibrohim 7)

Rosululloh shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang Mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat kesusahan, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya”
[HR Muslim 2999]

Memang syukur saat musibah itu bukan hal yang ringan, tapi disitulah kualitas iman kita jadi sorotan.

2. Solusi Dunia

Kalau resesi ini disebabkan makhluk Allah bernama virus Covid-19, Dan jika lawan dari virus berarti vaksin maka kita tunggu saja kapan rilisnya vaksin tersebut. Tapi karena hal itu bukan ranah kita, mari kita fokus pada solusi aplikatif yang bisa kita praktekkan sehari-hari. Apa itu? Cerdas dalam berbelanja.

Dari sudut pandang ekonomi, 2 hal yang banyak membantu masyarakat saat krisis adalah tabungan dan asset. Beruntunglah orang yang sejak dulu gemar menabung sehingga punya tabungan, sebab di zaman resesi seperti ini menjual asset bukanlah hal yang mudah. Kasus yang paling banyak dijumpai adalah MANTAB alias Mangan Tabungan (makan dari hasil tabungan), maka bersikap cerdas dalam mengelola keuangan dan mengunakan tabungan adalah hal yang harus dipelajari, jangan terlalu erat menggenggam uang tapi juga jangan terlalu mudah melepas uang. Istilah lainnya, harus tahan selera tapi jangan tahan belanja, karena yang dimaksud cerdas disini adalah belanja sesuai kebutuhan

Hal yang tak kalah penting lainnya adalah membelanjakan harta kepada para pedagang kecil, niatkan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, sedekah, serta membantu ekonomi mereka. Tumbuhkan niat yang berlapis-lapis saat belanja, sehingga kita bisa menuai banyak pahala dan membantu sesama karena perputaran uang yang lebih merata.

Ibnu Mubarok rohimahulloh, salah satu ‘Ulama besar dari kalangan Tabi’in mengatakan,

رب عمل صغير تعظمه النية، ورب عمل كبير تصغره النية

“Bisa jadi amalan yang kecil menjadi besar pahalanya karena niat. Dan bisa jadi amalan yang besar menjadi kecil pahalanya karena niat”
(Kitab Jami’ Al ‘Ulum Wa Al Hikam 1/35)

Diantara bentuk ketidakcerdasan yang kita dapati di masyarakat adalah penyalahgunaan program pemulihan ekonomi nasional, beberapa pedagang sepeda menyampaikan bahwa omzet penjualannya meningkat karena banyak pelanggan baru yang menggunakan dana BLT 600rb dari pemerintah. SubhanAllah, alangkah sayangnya jika bantuan itu digunakan untuk hal yang sifatnya bukan kebutuhan primer.

Sebaliknya, tidak sedikit diantara kita yang over khawatir bahkan sampai pesimis bahwa ekonomi bisa pulih seperti dulu lagi. Akibatnya? Suudzon sama Allah, seakan-akan Dzat Yang Maha Kuasa tidak bisa membuat Indonesia kembali Berjaya, seakan-akan kita semua akan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan, padahal Allah Ta’ala telah berfirman

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ

“Bukankah Allah yang akan mencukupi (segala kebutuhan) hamba-Nya?”
(QS Az Zumar 36).

Karenanya ikhwatal iman ahabbakumulloh, saudara-saudariku sekalian yang mencintai Sunnah dan dicintai oleh Allah..
Mari kita sama-sama mempertebal iman, mengambil semua sebab ikhtiar yang telah disebutkan diatas, sembari meyakini bahwa yang pertama kali menolong kita adalah Allah Jalla wa’ Alaa, bukan keputusan pemerintah, bukan pula usaha online atau yang lainnya. Kalau toh anda Pusing? Galau? Lelah? Bahkan sampai terbaring sakit? Tenanglah.. Semua itu bukan hanya menimpa kita sebagai umat Muslim, orang-orang Kafir pun juga merasakan yang sama, dan yang membedakan kita dengan mereka adalah balasan kebaikan yang Allah berikan kepada kita di Akhirat,

إِن تَكُونُواْ تَأۡلَمُونَ فَإِنَّهُمۡ يَأۡلَمُونَ كَمَا تَأۡلَمُونَۖ وَتَرۡجُونَ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا يَرۡجُونَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”
(QS An-Nisa 104)

Semoga Allah berkahi semua urusan kita, dan menggolongkan kita sebagai hamba yang yakin bahwa semua keputusan serta ketetapan Allah adalah yang terbaik.

WAllahu A’lam

Ditulis oleh:
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Selasa, 28 Dzulhijjah 1441 H/ 18 Agustus 2020 M



Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI IMAM SYAFI’I Kulliyyatul Hadits, dan Dewan konsultasi Bimbingan Islam,
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله  
klik disini