Fiqih

Cara Duduk Shalat Witir Satu Rakaat

Cara Duduk Shalat Witir Satu Rakaat

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Duduk Dalam Shalat Witir Satu Rakaat. Selamat membaca.


Pertanyaan:

Bismillah, Ustad bagaimana cara duduk shalat witir yang hanya satu rakaat? Terima kasih.

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Bismillah.

Duduknya shalat witir yang hanya 1 rakat dikembalikan dengan perbedaan ulama dalam masalah duduk iftirasy ataupun duduk tawarruk.

Bagi yang mengatakan bahwa duduk tawarruk dilakukan duduk yang dibarengi dengan salam baik itu satu rakaat ataupun lebih maka ia melakukan duduk tawarruk. Sebagaimana yang dianut dalam madzhab syafi`i.

Seperti riwayat lain dari hadits Abu Humaid dengan lafazh-lafazh lain yang mendukung pendapat madzhab Syafi’i, di antaranya:

.حَتَّى إِذَا كَانَتِ السَّجْدَةُ الَّتِي فِيْهَا التَّسْلِيْمُ, أَخَّرَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَقَعَدَ مُتَوَرِّكًا عَلَى شِقِّهِ الْأَيْسَرِ

Hingga tatkala sampai sujud terakhir yang ada salamnya, maka Nabi mengeluarkan kaki kirinya dan beliau duduk dengan tawarruk di atas sisi kiri beliau.” (HR. Abu Dawud no 963 dan Ibnu Majah no 1061).

Di antaranya juga:

.حَتَّى إِذَا كَانَتِ السَّجْدَةُ الَّتِي تَكُوْنُ خَاتِمَةَ الصَّلَاةِ رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْهُمَا وَأَخَّرَ رِجْلَهُ وَقَعَدَ مُتَوَرِّكًا عَلَى رِجْلِهِ

Hingga tatkala sampai pada sujud yang merupakan penutup shalat, maka beliau mengangkat kepalanya dari dua sujud tersebut dan beliau mengeluarkan kakinya serta duduk tawarruk di atas kakinya.” (HR. Ibnu Hibban no 1870).

Namun bila ia berpendapat bahwa duduk tawarruk tidaklah dilakukan kecuali hanya pada shalat yang memiliki 3 rakaat atau lebih maka hendaknya ia melakukan duduk iftirasy. Sebagaimana keumuman dari dalil yang menjelaskan tentang sifat duduknya Rasulullah shallahu alaihi wasallam ketika shalat, seperti dalam riwayat dalam hadits Wail bin Hujr radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

.رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِيْنَ جَلَسَ فِي الصَّلَاةِ اِفْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika duduk dalam shalat beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy).” (HR. Ibnu Khuzaimah no 691).

Dalam lafazh yang lain:

.فَلَمَّا جَلَسَ يَعْنِي لِلتَّشَهُّدِ افْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى يَعْنِي عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

Maka tatkala beliau duduk untuk tasyahhud, beliau menghamparkan kaki kirinya dan meletakkan tangan kirinya di atas pahanya , dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy).” (HR. Tirmidzi no 292).

Dalam lafazh yang lain:

وإذا جَلَسَ افْتَرَشَ

Dan jika Nabi duduk (dalam sholat) beliau beriftirasy” (HR At Thabraani dalam Al-Mu’jam Al-Kabiir 22/33 no 78).

Syaikh Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang bagaimana cara duduk tasyahud untuk shalat witir, beliau menjawab:

“Seseorang pada saat shalat witir duduk iftirasy, karena pada asalnya duduk dalam shalat adalah iftirasy. Kecuali jika ada dalil yang menunjukkan yang lain. Oleh karenanya, kami katakan: ‘dia duduk iftirasy tatkala shalat witir, dan dia tidak duduk tawarruk kecuali pada shalat yang memiliki dua tasyahud, maka duduk tawarruk dilakukan tatkala tasyahhud akhir karena adanya perbedaan antara tasyahhud akhir dan tasyahhud awal. Demikianlah sunnah. Wallahu A’lam” (Majmuu’ Fataawaa wa Rasaail Syaikh Al ‘Utsaimiin 14/159 no 784).

Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab kitab fikih terkait shalat banyak disebutkan bahwa pembahasan duduk tawarruk dan istirasy dimasukkan dalam pembahasan Sunnah Sunnah shalat, bukan dalam bab wajibnya shalat. Memanglah seseorang tetap berusaha untuk menjalankan Sunnah sesuai dengan ilmu yang dia pelajari namun bila ia mendapatkan adanya perbedaan dalam masalah ini, terlebih dalam bab ini adalah masalah khilaf klasik di antara ulama, hendaknya ia berlapang dada kepada saudaranya tanpa harus menyalahkan atau menyesatkannya. Silakan untuk menjelaskan apa yang ia kuatkan tanpa harus merendahkan pendapat yang berseberangan dengannya. Dengan sikap seperti ini apa pun yang dilakukan seseorang selama berlandaskan dalil dari Al-Quran dan assunnah dengan landasan prinsip keilmuan yang benar berharap semua berada pada jalan kebenaran yang diridhai oleh Allah azza wajalla. Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Senin, 8 Jumadil Awwal 1443 H/ 13 Desember 2021 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik disini

Baca Juga :  Terlupa Satu Rakaat Setelah Salam

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button