Artikel

Cara Belajar Islam: Kiat Sukses Memahami Ilmu (Bagian 3)

Kiat Sukses Memahami Ilmu (Bagian 3)

Baca artikel sebelumnya: Kiat Sukses Memahami Ilmu (Bagian 2)

Kiat Kedelapan: Meninggalkan Sikap Buru-buru dalam Meraih Ilmu

Cara Belajar Islam: Kiat Sukses Memahami Ilmu

Ilmu tidak bisa dikuasai sekaligus, sebab hati tidak akan sanggup. Ilmu itu berat bagaikan beratnya batu saat dibawa. Allah berfirman:

إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا

“Kami akan mewahyukan kepadamu perkataan yang berat.” (QS Al-Muzammil : 5)

Maksudnya adalah Alquran. Jika Allah menyifati Alquran dengan perkataan yang berat padahal telah dimudahkan, sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ

“Dan sesungguhnya kami telah memudahkan al- quran untuk dihafal”. (QS Al-Qamar : 17)

Lalu bagaimanakah dengan ilmu lainnya?!

Inilah hikmah diturunkannya Alquran berangsur-angsur, berdasarkan keadaan dan kejadian yang dialami oleh Rasulullah ﷺ. Allah berfirman:

وقالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلا نُزِّلَ عَلَيْهِ القُرْآنُ جُمْلَةً واحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤادَكَ ورَتَّلْناهُ تَرْتِيلًا

“Orang – orang kafir berkata mengapa Alquran itu tidak diturunkan sekaligus, begitulah, karena Allah ingin meneguhkan hatimu, dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar).” (QS Al-Furqan : 32)

Ayat ini adalah dalil untuk tidak tidak tergesa-gesa ketika menuntut ilmu dan mempelajarinya secara bertahap, sebagaimana diungkapkan oleh Al-Khotib Al-Baghdady dalam kitabnya (Al-Faqih wal Mutafaqqih), begitu pula dengan Ar-Raghib Al-Ashfahany dalam kitabnya (Muqaddimah Jami’ Tafsir).

Diantara syair Ibnu Nahhas al-Halaby adalah:

Hari ini sedikit besokpun demikian
Dari intisari ilmu yang didapatkan
Dengan begitulah seseorang bisa meraih hikmah
Sejatinya kumpulan tetasan air adalah asal mula air bah

Tidak tergesa-gesa dan bertahap dalam mempelajari ilmu inilah yang mengharuskan seseorang memulai perjalanan ilmiyyahnya dengan matan-matan ringkas disetiap cabang ilmu, dalam bentuk hafalan dan mendengarkan penjelasan guru, dan tidak menyibukkan diri untuk menela’ah kitab-kitab tebal yang belum bisa dia pahami. Siapa yang membaca buku-buku tebal tersebut, maka dia telah mencelakai agamanya dan melanggar aturan ilmu itu sendiri, bahkan bisa jadi dia akan kehilangan ilmu tersebut.

Diantara perkataan penuh hikmah yang pernah dituturkan oleh Abdul Karim Ar-Rifa’iy – salah seorang ulama damaskus pada abad sebelumnya adalah: Makanan orang dewasa adalah racun bagi anak bayi.

Kiat Kesembilan: Sabar dalam Belajar dan Mengajar

Cara Belajar Islam: Kiat Sukses Memahami Ilmu

Segala sesuatu yang berharga tidak akan bisa diperoleh kecuali dengan kesabaran. Dan hal yang paling berat dirasakan saat mencari sesuatu yang berharga tersebut adalah memaksa jiwa untuk bersabar. Karena itu kita diperintahkan bersabar dan menguatkan kesabaran dalam mengokohkan dasar keimanan begitupula dalam meraih kesempurnaan iman. Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu ……” [QS Ali ‘Imran:200]

Allah ta’ala juga berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya…” (QS Al-Kahf : 28)

Yahya bin Abi Katsir menafsirkan ayat ini, beliau berkata: Maksudnya adalah majelis ilmu. Seseorang tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan kesabaran. Yahya bin Abi Katsir juga pernah berkata: Ilmu tidak akan didapatkan dengan bersantai. Hanya dengan bersabar seseorang bisa keluar dari kubang kejahilan dan dengan bersabar pulalah kelezatan ilmu bisa dirasakan. Sabar dalam ilmu ada dua tahapan:

  1. Sabar saat mencari ilmu. Sebab menghafal, memahami ilmu dan hadir di majelis ilmu butuh kesabaran begitupula dalam menunaikan hak sang guru.
  2. Sabar saat menyampaikan dan menyebarkan ilmu. Dibutuhkan kesabaran saat duduk mengajar, begitu pula saat berusaha memahamkan para murid dan menyikapi ketergelinciran mereka.

Dan hal yang lebih sulit dari dua kesabaran diatas adalah sabar untuk selalu bersabar pada dua tahapan tersebut dan istiqamah menjalaninya. Setiap orang mencoba untuk meraih cita-cita, namun sedikit yang bisa istiqamah dalam menggapainya.

Kiat Kesepuluh: Senantiasa Menjaga Adab Ilmu

Cara Belajar Islam: Kiat Sukses Memahami Ilmu

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam kitabnya (Madarijus Salikin): Adab merupakan kunci kebahagiaan dan kesuksesan seseorang, begitupula kurangnya adab merupakan sebab celaka dan kesengsaraannya, kebaikan dunia dan akhirat hanya bisa diraih dengan adab, dan tidaklah seseorang terhalang dari kebaikan tersebut kecuali karena kurangnya adab.

Seseorang tidak akan mendapatkan derajat tinggi tanpa adab. Walaupun dia memiliki kedudukan dan kemuliaan nasab. Ilmu hanya pantas diperoleh oleh orang yang menerapkan adab, baik saat sendirian, saat belajar, bersama teman, maupun ketika bersama gurunya.

Yusuf bin Husein berkata: Dengan beradab engkau akan memahami ilmu.

Karena ketika seseorang beradab, dia akan dipandang sebagai orang yang pantas menerima ilmu, maka seorang guru pun akan bersemangat mengajarinya. Sedangkan orang yang tidak beradab, sungguh ilmu terlalu berharga daripada disia-siakan olehnya.

Berawal dari inilah, dahulu memberikan perhatian besar kepada adab sebesar perhatian mereka terhadap ilmu.
Ibnu Sirin berkata: Dahulu mereka mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu.

Bahkan sebagian mereka lebih mendahulukan belajar adab sebelum mereka menimba ilmu. Malik bin Anas pernah bertutur kepada seorang pemuda quraisy: Duhai anak saudaraku, pelajarilah adab sebelum engkau menunut ilmu.

Dan dahulu mereka menampakkan kebutuhan mereka terhadap adab. Suatu hari Makhlad bin Husein berkata kepada Abdullah bin Mubarak: Kita lebih membutuhkan adab daripada ilmu yang banyak.

Begitu pula, dahulu mereka mewasiatkan dan mengarahkan penuntut ilmu untuk mempelajari adab. Malik berkata: Dahulu ibundaku sambil memasangkan imamah dikepalaku berpesan: Pergilah ke majelis Rabi’ah – yakni Ibnu Abi Abdirrahman, ahli fikih penduduk Madinah pada zamannyapelajarilah adabnya sebelum mengambil ilmunya.

Sungguh penyebab banyaknya penuntut ilmu zaman sekarang terhalang dari ilmu dikarenakan mereka meremehkan masalah adab. Suatu hari Laits bin Sa’ad sedang memperhatikan para penuntut ilmu, lalu beliau melihat sesuatu yang sepertinya tidak beliau sukai, maka beliaupun berkata:

“Apa ini? Kalian lebih membutuhkan sedikit adab daripada ilmu yang banyak.”

Lalu, apa yang akan dikatakan oleh Laits apabila melihat keadaan para penuntut ilmu di zaman sekarang?!.

Kiat Kesebelas: Menjaga Ilmu dari Hal yang Menyelisihi dan Meruntuhkan Maruah

Cara Belajar Islam: Kiat Sukses Memahami Ilmu

Siapa yang tidak menjaga ilmu maka ilmupun enggan menjaganya, sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Asy-Syafi’i. Siapa yang meninggalkan marwah dengan menjerumuskan dirinya dalam kejelekan, maka sejatinya dia telah meremehkan dan tidak mengagungkan ilmu. Dia telah menjerumuskan dirinya dalam kehinaan sehingga tidak pantas lagi disematkan nama ilmu pada dirinya.

Wahb bin Munabbih pernah berkata: Orang yang menghinakan dirinya tidak akan menjadi ahlul hikmah.
Marwah sebagaimana yang dijelaskan oleh Majduddin Ibnu Taimiyyah dalam kitab Muaharrar dan diikuti oleh cucu beliau pada sebagian fatwanya, bermakna: Menggunakan segala sesuatu yang bisa menghiasi dan memperindah dirinya dan menjauhi segala sesuatu yang membuat dirinya hina.

Seorang berkata kepada Abu Muhammad Sufyan bin ‘Uyainah: Engkau telah memahami semua hukum di dalam Al-Quran, lalu mana dalil menjaga marwah? Beliaupun menjawab dalilnya pada firman Allah ta’la:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah pemaaf, perintahkanlah orang mengerjakan yang ma’ruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh.” (Al-A’raf 199)

Di dalam ayat ini terdapat marwah, adab dan akhlaq yang mulia. Diantara adab yang senantiasa harus dimiliki seorang penuntut ilmu adalah menghias dirinya dengan sikap marwah dan menjauhi segala sesuatu yang dapat meruntuhkannya, seperti; mencukur habis jenggot, sering menoleh ketika berjalan, menjulurkan kaki tanpa ada kebutuhan di keramaian, berteman dengan orang yang buruk perangainya, orang fasik dan orang yang tidak tahu malu, atau bergulat dengan anak-anak.

Kiat Ketigabelas: Memilih Sahabat yang Sholih dalam Menuntut Ilmu

Cara Belajar Islam: Kiat Sukses Memahami Ilmu

Memilih teman merupakan sebuah keharusan bagi kehidupan manusia. Oleh karenanya, penuntut ilmu memerlukan seorang teman untuk membantu dan menyemangatinya saat menuntut ilmu. Persahabatan dalam ilmu akan sangat membantu seseorang dalam mencapai tujuannya asalkan tidak ada mafsadah di dalamnya.

Seorang yang ingin mencapai puncak ilmu haruslah mencari sahabat yang shalih guna membantunya. Karena sahabat memilki pengaruh yang kuat dalam diri seseorang. Abu Dawud dan Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi ﷺ bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Agama seseorang seperti agama sahabatnya, maka kalian harus memperhatikan dengan siapa kalian berteman.”

Ar-Raghib Al-Ashfahany berkata: Pengaruh seorang teman bukan hanya lewat obrolan dan saat bergaul dengannya saja, bahkan hanya dengan melihatnya, bisa memberikan pengaruh.

Hendaknya yang dijadikan teman adalah orang yang bergaul demi mencari keutamaan bukan sekedar manfaat duniawi ataupun kepuasaan. Karena pergaulan manusia biasanya didasari tiga hal : keutamaan, manfaat duniawi dan kepuasan, sebagaimana yang disebutkan oleh guru dari guru kami, yaitu Muhammad al-Khadir bin Husein di dalam kitabnya (Rasailul Ishlah).

Maka jadikanlah teman yang memilki keutamaan sebagai sahabat, karena engkau akan dikenal dari tingkah laku sahabatmu. Ibnu Mani’ mewasiatkan para penuntut ilmu di dalam kitabnya (Irsyadut Thullab) : Jauhilah bergaul dengan orang bodoh, orang yang tidak tahu malu, terkenal buruk akhlaqnya dan orang pandir; karena bergaul dengan orang – orang semacam itu hanya akan menyebabkan kesengsaraan bagi seseorang.

Bersambung….

Baca artikel selanjutnya: Kiat Sukses Memahami Ilmu (Bagian 4)

Disusun oleh:
USTADZ MUHAMMAD IHSAN, S.Ag., M.HI.  حفظه الله
Rabu, 30 Muharram 1443 H/ 8 September 2021 M


Ustadz Muhammad Ihsan, S.Ag., M.HI. حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini

 

Baca Juga :  Merantaulah...

USTADZ MUHAMMAD IHSAN, S.Ag., M.HI.

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2011 – 2015, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2016 – 2021 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Dauroh Syaikh Sulaiman & Syaikh Sholih As-Sindy di Malang 2018, Beberapa dars pada dauroh Syaikh Sholih Al-’Ushoimy di Masjid Nabawi, Dauroh Masyayikh Yaman tahun 2019, Belajar dengan Syaikh Labib tahun 2019 – sekarang | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Kegiatan bimbingan islam

Related Articles

Back to top button