Artikel

Cara Belajar Islam: Kiat Sukses Memahami Ilmu (Bagian 2)

Cara Belajar Islam: Kiat Sukses Memahami (Ilmu Bagian 2)

Baca artikel sebelumnya: Cara Belajar Islam: Kiat Sukses Memahami Ilmu (Bagian 1)

Kiat Keempat : Mengarahkan Tekad kepada ilmu Al-Quran dan As-Sunnah

Cara Belajar Agama: Kiat Sukses Memahami Ilmu

Sejatinya semua ilmu yang bermanfaat pasti kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Adapun ilmu lainnya bisa berupa ilmu yang membantu memahami keduanya, maka cukup dipelajari sesuai dengan kadar yang dibutuhkan, dan bisa pula berupa ilmu yang tidak berhubungan dengan keduanya, maka tidak ada mudharat untuk tidak mengetahuinya.

Betapa indahnya perkataan ‘Iyadh Al-yahsubi dalam kitabnya (Al-Ilma’):

Ilmu hanya ada ada pada Al-Quran dan As-Sunnah.

Selain keduanya hanya akan menyesatkan dari jalan yang ditempuh

Ilmu Al-Quran dan Ilmu Sunnah

Yang disandarkan dari tabi’in dari sahabat Rasulullah.

Inilah ilmu para salaf dahulu rahimahumullah, kemudian pada zaman setelahnya mulai banyak pembahasan-pembahasan yang tidak bermanfaat. Karena itu para salaf lebih banyak ilmunya, sedangkan orang-orang setelahnya lebih banyak bicaranya.

Hammad bin Zaid berkata: Aku bertanya kepada Ayyub Sikhtiyani: Mana yang lebih banyak ilmunya, masa sekarang atau masa sebelumnya? Maka beliau pun menjawab: masa sekarang lebih banyak bicaranya, sedangkan ilmu lebih banyak pada masa sebelumnya.

Kiat Kelima : Menempuh Jalan Yang Mengantarkan Kepada Ilmu

Cara Belajar Islam: Kiat Sukses Memahami Ilmu

Segala tujuan itu pasti ada jalannya sendiri. Siapa yang menempuh jalan tersebut maka dia akan mendapatkan apa yang dia cari, dan siapa yang berpaling dari jalannya dia tidak akan menemukan apa yang dia cari. Begitu pula dengan ilmu, siapa yang salah memilih jalan dalam menunut ilmu maka dia akan tersesat dan tidak akan meraih apa yang ia cari, bisa jadi dia mendapatkan sedikit faedah setelah dia berlelah ria.

Muhammad Murtadha bin Muhammad Azzubaidi – penulis kitab Taajul ‘Arus- telah menyebutkan jalan untuk mencari ilmu di dalam syair beliau yang beliau namakan – Alfiyyatussanad-, beliau berkata:

 

Seribu tahun pun seseorang tidak akan bisa mendapatkan semua ilmu

Maka ambillah yang paling penting dari setiap cabang ilmu

Dengan menghafal matan jami’ yang diakui

Dibawah bimbingan seorang guru yang ahli dan patut diteladani

Jalan ilmu dibangun diatas dua pondasi, siapa yang mengamalkan keduanya maka dia adalah orang yang mengagungkan ilmu, sebab dia menempuh jalan yang akan mengantarkannya kepada ilmu tersebut:

1. Menghafal matan yang menjadi sandaran dan mencakup banyak permasalahan. Hafalan merupakan keharusan bagi seorang penuntut ilmu, jika ada yang mengira dirinya bisa meraih ilmu tanpa menghafal maka sejatinya dia sedang mencari sebuah kemustahilan. Dan matan yang dihafal adalah matan yang mencakup banyak masalah dan diakui oleh para ulama.

2. Dibawah bimbingan guru yang ahli. Ambillah pemahaman ilmu kepada seorang guru yang memiliki dua sifat berikut:
Pertama: Orang yang ahli dan menguasai ilmu, yaitu seorang yang dikenal dengan ketekunannya menuntut ilmu sampai pada tingkatan penguasaan ilmu, sehingga dia memiliki keahlian pada bidangnya.
Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari sahabat Ibnu Abbas:

تَسْمَعُونَ ويُسْمَعُ مِنكُمْ ويُسْمَعُ مِمَّنْ سَمِعَ مِنكُمْ

“Kalian (sahabat) mengambil ilmu dariku, kemudian orang setelahnya mengambil ilmu dari kalian dan orang setelahnya mengambil ilmu dari murid kalian”.

Makna hadits ini dilihat dari keumuman lafazhnya bukan dari orang yang diajak bicara. Dan telah menjadi aturan baku menuntut ilmu pada umat ini yaitu, sebuah generasi mengambil ilmu dari generasi sebelumnya.

Adapun sifat kedua yaitu guru tersebut bisa membimbing murid-muridnya, dan sifat ini terpenuhi ketika seorang guru memiliki dua sifat:

1. Pantas dijadikan sebagai tauladan dan panutan dalam tingkah lakunya.
2. Menguasai metode – metode pengajaran; pandai dalam mengajar, mengetahui apa yang cocok untuk diajarkan kepada muridnya dan apa yang tidak, sesuai dengan metode pengajaran yang telah dijelaskan oleh assyathibi dalam kitabnya (al-Muwafaqaat).

Kiat Keenam: Mempelajari Cabang-Cabang ilmu dengan Mendahulukan yang Terpenting

Cara Belajar Islam: Kiat Sukses Memahami Ilmu

Ibnul Jauzi berkata didalam kitabnya (Shoidul Khotir): Mengumpulkan semua cabang ilmu adalah hal yang terpuji.

Pelajarilah ilmu di setiap cabangnya, jangan sampai tidak tahu

Orang mulia adalah orang yang memahami banyak hal.

Syaikh dari guru-guru kami, yaitu Syaikh Muhammad bin Mani’ berkata dalam kitab (Irsyadut Thullab):

Seseorang yang tahu bahwa dirinya memiliki kompetensi untuk mempelajari berbagai cabang ilmu, tidak pantas meninggalkan salah satu cabang ilmu yang bermanfaat baginya dalam memahami alquran dan sunnah. Begitu pula seorang penuntut ilmu tidak boleh mencela ilmu yang tidak dia pahami lalu merendahkan ahlinya, karena ini adalah bentuk kekurangan dan sifat yang hina. Orang yang berakal akan berbicara dengan ilmu dan diam dengan penuh ketenangan, jika tidak demikian dia akan menjadi seperti yang dikatakan penyair:

Ada kabar bahwa sahl mencela karena kebodohannya

Ilmu-ilmu yang tidak dipahami oleh dirinya

Ilmu-ilmu yang jika dipelajari, maka dia tidak akan mencelanya

Tapi begitulah, lebih mudah untuk puas dengan kebodohan dirinya

Mempelajari banyak cabang ilmu akan bermanfaat jika berpegang kepada dua pokok:

1. Mendahulukan cabang ilmu yang paling penting, yaitu ilmu yang dibutuhkan untuk memenuhi kewajiban beribadah kepada Allah.
2. Menargetkan pada masa awal belajar untuk menguasai kitab-kitab ringkas disetiap cabang ilmu. Jika seorang penuntut ilmu selesai dari tahap tersebut, barulah dia mendalami ilmu yang dia pandang cocok dengan dirinya dan paling sanggup untuk dipelajari, baik satu cabang ilmu atau lebih.

Dalam sebuah syair masyarakat syinqith disebutkan:

Jika dirimu ingin mengusai satu cabang ilmu, maka selesaikanlah

Sebelum selesai, maka ilmu selainnya tinggalkanlah

Janganlah mempelajari ilmu secara bersamaan

Ibarat dua anak kembar tidak akan keluar secara bersamaan

Namun, siapa yang mengetahui bahwa dirinya mampu mempelajari banyak disiplin ilmu dalam satu waktu, silakan dia lakukan. Ini merupakan pengecualian dari keadaan manusia pada umumnya.

Kiat Ketujuh : Belajar Sejak Dini serta Mengoptimalkan Masa Muda

Cara Belajar Islam: Kiat Sukses Memahami Ilmu

Imam Ahmad berkata: Aku tidaklah mempermisalkan masa muda kecuali seperti sesuatu yang ada di lengan bajuku lalu dia jatuh. Ilmu lebih mudah diserap dan melekat kuat pada usia muda. Hasan Al-Bashri berkata: Menuntut Ilmu ketika kecil seperti mengukir di atas batu.

Kuatnya ilmu yang melekat ketika masih kecil, seperti kuatnya bekas ukiran pada batu. Siapa yang mengoptimalkan masa mudanya, dia akan mencapai tujuannya, dan ketika telah tua dia akan merasa puas dengan usahanya.

Optimalkanlah masa mudamu, duhai pemuda.

Karena manusia akan menikmati jerih payahnya di masa tua.

Namun, jangan sampai ada yang berprasangka bahwa orang tua tidak bisa lagi belajar, bahkan para sahabat Rasulullah ﷺ banyak yang belajar di masa tua. Hal ini disebutkan Imam Bukhari dalam pembahasan “Kitab Ilmu” dari kitab shohihnya.

Adapun sebab susahnya belajar di masa tua adalah sebagaimana dijelaskan oleh Al-Mawardy dalam kitabnya ((Adabud Dunya wad Din)) adalah karena masa tua adalah masa banyaknya kesibukan, problematika, dan pikiran. Siapa yang bisa mengatasi hal tersebut, dia akan mendapatkan ilmu.

Bersambung….

Baca artikel selanjutnya: Kiat Sukses Memahami Ilmu (Bagian 3)

Disusun oleh:
USTADZ MUHAMMAD IHSAN, S.Ag., M.HI.  حفظه الله
Rabu, 30 Muharram 1443 H/ 8 September 2021 M


Ustadz Muhammad Ihsan, S.Ag., M.HI. حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini

Baca Juga :  Kalimat La Ilaha Illallah

USTADZ MUHAMMAD IHSAN, S.Ag., M.HI.

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2011 – 2015, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2016 – 2021 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Dauroh Syaikh Sulaiman & Syaikh Sholih As-Sindy di Malang 2018, Beberapa dars pada dauroh Syaikh Sholih Al-’Ushoimy di Masjid Nabawi, Dauroh Masyayikh Yaman tahun 2019, Belajar dengan Syaikh Labib tahun 2019 – sekarang | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Kegiatan bimbingan islam

Related Articles

Back to top button