Buat Muslimah, Kerja Atau Mendidik Anak Setelah Menikah?

Pendaftaran Grup WA Madeenah

Buat Muslimah, Kerja Atau Mendidik Anak Setelah Menikah?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Buat Muslimah, Kerja Atau Mendidik Anak Setelah Menikah? selamat membaca.

Pertanyaan:

Bismillah, izin bertanya ustadz. Bagaimana ya ustadz hukum mengenai perempuan dan cita-cita?

Setelah hijrah, saya baru mengetahui bahwa perempuan baiknya menetap dirumahnya. Saat ini saya bingung ustadz, ibu saya selalu menanyakan kapan saya mendaftar kerja (saya S2).

Sebenarnya suami sudah mengizinkan, apabila saya ingin bekerja (namun tetap harus memperhatikan adab keluar rumah). Saya tidak ingin menyia-nyiakan amanah orang tua yang telah diberikan kepada saya sedari kecil, sedangkan saat ini susah untuk mencari lingkungan kerja/kampus khusus perempuan. Mohon solusinya ustadz. Jazakumullah khayr.

Ditanyakan oleh Sahabat AISHAH (Akademi Shalihah)


Jawaban:

Bismillah

Yang tepat, perempuan setelah menikah itu bukan mengubur cita -citanya tapi menyesuaikan cita-citanya dengan fitrah yang telah Alloh berikan dan tetapkan. Menjadi dosen? Mungkin dianggap baik karena bisa menyampaikan ilmu atau mengajari para mahasiswa.

Tapi pertanyaannya, apakah mahasiswa yang telah diajarinya itu bisa memberikan potensi pahala lebih besar daripada mengajari anak sendiri? Bisa memberi kebaikan akhirat lebih besar daripada anak sendiri?

Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan do’a anak shalih” [HR Muslim 1631]

Bahkan dalam hadits diatas ada faedah yang tersamarkan yakni seruan untuk menikah, memperbanyak keturunan dan mendidik anak-anak menjadi shalih-shalihah, sehingga kebermanfaatannya kembali kepada kita setelah meninggal kelak. Kalau diperhatikan ujung-ujungnya akan kembali pada memaksimalkan pengajaran anak, khususnya jika telah menjadi ibu.

Kenapa?
Karena untuk mendapatkan anak yang shalih, selain hidayah dari Allah sebagai sebab utama, kita juga perlu sedekah (mengeluarkan harta atau fasilitas selain nafkah wajib) dan ilmu (yang bermanfaat), sehingga terkumpul-lah 3 hal yang terus mengalir pahalanya dalam 1 tujuan besar; ‘mengajari anak’.

Atau jangan-jangan Anda lebih menganggap, ‘kan jadi dosen itu bergengsi, lebih prestisius, dll?’

Sungguh saya berharap hal itu tidak ada dipikiran Anda, karena gelar dan pujian oranglain di dunia yang sebentar ini jelas tidak ada apa-apanya dibanding pujian Allah di akhirat yang kekal abadi.

Lalu kalau tidak boleh jadi dosen, nanti siapa yang mengajari para mahasiswa? Sejatinya tidak ada yang melarang untuk menjadi dosen. Yang jadi problem adalah dosennya bukan hanya untuk para mahasiswi, tapi juga para mahasiswa yang mayoritas puber, atau minimalnya tertarik dengan lawan jenis.

Simak bagaimana kabar langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang fitnah bagi wanita yang keluar rumah,

اَلْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا اِسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

“Wanita itu aurat, jika ia keluar dari rumahnya maka setan mengikutinya (menghiasinya dalam pandangan lelaki hingga terfitnah)” [HR Tirmidzi 1173]

Tidak sedikit kita dengar berita dosen terfitnah dengan mahasiswanya, atau mahasiswa terfitnah dengan dosennya, bahkan menjadi bahan pembicaraan dan khayalannya. Na’udzubillah.

Belum lagi dengan mayoritas lingkungan yang ikhtilat, pakaian yang diatur ketat, serta pemikiran yang serba bebas atau penuh syubhat. Jika memang ada kampus yang bisa menjamin bebas dari itu semua, silahkan..

Dan yang tidak kalah penting adalah jangan sampai menganggap menjadi ibu rumah tangga sebuah kehinaan, sungguh berada didalam rumah bukanlah sebuah aib bagi seorang istri, justru ia sedang melaksanakan tanggung jawab yang utama. Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَالْمَرْأَةُ فِى بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

“Dan wanita menjadi pemimpin di rumah suaminya, dia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai orang yang diurusnya” [HR Bukhari 2232]

وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ

“Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya” [HR Bukhari 4801]

Kalau ingin membahagiakan orangtua, jelaskan dahulu bahwa cara membahagiakan bukan hanya dengan berkerja, menjadi istri yang sholihah dan ibuk yang baik bagi cucu-cucu mereka adalah hal yang sangat membahagiakan, bahkan secara tidak langsung sedang menyiapkan hadiah terbaik berupa pahala mengalir untuk orangtua di akhirat kelak.

Namun jika benar-benar ingin bekerja, pastikan hak Allah dan hak keluarga (suami & anak-anak) tidak ada yang terlalaikan, tidak ada pelanggaran syariat dan kewajiban sebagai ibu bisa tertunaikan dengan baik.

Wallahu A’lam
Semoga Allah memperbaiki segala urusan kita semua, Aamiin

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Marwan Hadidi, M.Pd.I حفظه الله
Kamis, 9 Syaban 1444H / 2 Maret 2023 M


Ustadz Marwan Hadidi, M.Pd.I حفظه الله
Beliau adalah Alumni STAI Siliwangi Bandung & Pascasarjana di Universitas Islam Jakarta jurusan PAI.
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mardan Hadidi, M.PD.I حفظه الله  klik disini

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button
situs togel dentoto https://sabalansteel.com/ https://dentoto.cc/ https://dentoto.vip/ https://dentoto.live/ https://dentoto.link/ situs togel situs toto toto 4d dentoto omtogel http://jeniferseo.my.id/ https://seomex.org/ omtogel https://omtogel.site/