Bolehkan Memberi Upah Kepada Pengelola Tabungan?

Pendaftaran Grup WA Madeenah

Bolehkan Memberi Upah Kepada Pengelola Tabungan?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab bolehkan memberi upah kepada pengelola tabungan? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Ahsanallaahu ‘alaykum ustadz. Afwan ustadz ana mau bertanya. Di sekolah ana mengadakan kegiatan menabung. Tabungan itu bisa diambil saat akhir semester,p ertanyaan ana bolehkah saat ana mau mengambil tabungan, ana memberikan upah kepada guru yang mengelola tabungan itu.

(Ditanyakan oleh Sahabat BIAS via Instagram Bimbingan Islam)


Jawaban:

Tabungan yang dilakukan di sekolah biasanya hanya sebatas pengumpulan uang yang kemudian dijaga oleh orang yang diamanahi untuk menjaga. Jika uang tersebut benar begitu adanya, yakni hanya sebatas dikumpulkan dan dijaga, maka hakikatnya ini adalah wadiah (titipan), dan apakah boleh seorang yang menitipkan memberikan upah kepada orang yang dititipkan barang padanya? Jawabannya adalah boleh, dalam fatwa islamweb disebutkan:

الأجرة على الوديعة وهي مشروعة في الجملة سواء كانت الأجرة مقابل حفظها أو مقابل المحل الذي يحفظها فيه المودع لديه في الراجح

“Upah atas barang yang dititipkan (wadiah) secara global disyariatkan, entah upahnya itu atas dasar pengganti tenaga untuk menjaga barang titipan, ataukah pengganti biaya tempat untuk meletakkan barang titipan yang dijaga oleh orang yang dititipi, ini menurut pendapat yang dianggap rojih”. Lihat: https://www.islamweb.net/

Namun di sisi lain, di sini kita lihat adalah bahwa pihak yang dititipi adalah seorang guru, yang mana guru itu adalah seorang yang memang sudah digaji oleh pihak sekolah atas pekerjaan dia sebagai guru di sekolah, yang tentunya tugas dia sebagai guru tidak hanya sebatas mengajar ilmu, namun juga mendidik dan membiasakan kegiatan baik kepada para siswanya, yang mana itu semua adalah tugas yang dengannya ia berhak mendapat gaji di sekolah. Nah, jika memang dia sudah mendapat gaji dari pekerjaannya (termasuk mendidik murid untuk hidup hemat dengan menabung), maka sebaiknya dia tidak lagi mendapat upah, hadiah, atau bentuk apapun itu, karena ditakutkan bisa masuk kepada larangan hadist hadaya al-‘ummal (hadiah untuk karyawan) yang dilarang. Disebutkan dalam hadist:

هدايا العمال غلول؟

“Hadiah untuk para pekerja adalah ghulul (khianat)”. (H.R al-Baihaqi).

Ketika hadiah untuk mereka dilarang, maka kita pun juga dilarang untuk memberikannya, dalam kaidah fiqih dikatakan:

ما حرم أخذه حرم إعطاؤه

“Sesuatu yang haram untuk diambil, maka memberikannya pun juga terlarang”.

Kami belum mengatakan secara pasti bahwa upah, atau hadiah kepada guru tersebut terlarang secara pasti, namun ada beberapa indikator yang mengarahkan kepada hukum keharaman, jadi saran kami untuk berhati-hati supaya tidak masuk kepada praktek amaliah yang tidak diperbolehkan. wallahu a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Jumat, 22 Syaban 1443 H/ 25 Maret 2022 M


Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله klik disini

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button
situs togel dentoto https://sabalansteel.com/ https://dentoto.cc/ https://dentoto.vip/ https://dentoto.live/ https://dentoto.link/ situs togel situs toto toto 4d dentoto omtogel http://jeniferseo.my.id/ https://seomex.org/ omtogel https://omtogel.site/