Muamalah

Bolehkah Pemberi Hutang Memberikan Makanan Kepada Penghutang? Apakah Termasuk Riba?

Bolehkah Pemberi Hutang Memberikan Makanan Kepada Penghutang? Apakah Termasuk Riba?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan bolehkah pemberi hutang memberikan makanan kepada penghutang? Apakah termasuk riba? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalamualaikum ustadz. Semoga Allah senantiasa melindungi dan memberkahi ustadz dan keluarga. Izin bertanya ustadz.

Ada seorang memiliki 2 rumah lalu menjual 1 rumahnya kepada si A dengan cara kredit.

Dalam masa kredit si A dan keluarganya sering mengirimkan makanan kepada orang tersebut dan orang tersebut pun terkadang membalasnya dengan mengirimi makanan pula.

Bagaimana status hukum makanan dari si A ke orang tersebut ustadz. Apakah termasuk riba? Dan bagaimana pula hukum makanan yang diberikan orang tersebut kepada si A, apakah termasuk riba pula? Mohon penjelasannya. Jazaakallahu khair.

Baca Juga:  Hukum Menjual Jasa Perawatan Jenazah

(Ditanyakan oleh Sahabat BIAS melalui Grup WA)


Jawaban:

Kreditur adalah pihak yang berperan memberikan bantuan pembiayaan atau utang, sedangkan debitur adalah penerimanya.

Masalah pihak debitur sedekah makanan pada kreditur rumah perlu perincian;

Pertama. Jika pihak yang berutang secara kredit ini suka mengantarkan makanan pada pihak kreditur (pemberi utang) ini adalah terkenal dengan sifat kedermawanannya, seperti mengantarkan makanan juga pada tetangga, terlebih pada keluarga dan kerabat, maka ini adalah sifat mulia dan bukan riba.

Kedua. Apabila pihak yang berutang adalah tidak terkenal dengan kedermawanannya, tetangga juga gak dikasih sedekah makanan, pun pada keluarga dekat biasa saja perlakuannya, maka makanan pemberian pada pihak kreditur ini dihitung sebagai riba menurut pendapat yang shahih.

Baca Juga:  Muslimin Harus Memenuhi Syarat-Syarat yang Telah Disepakati Sebelumnya

Hal ini karena pemberian kredit atau utangan disertai imbalan manfaat, maka masuk riba hukumnya. Karena pada hakikatnya itu adalah pinjaman atau penangguhan pembayaran alias utang, maka pihak yang meminjami (memberikan piutang) tidak boleh mengambil manfaat apa pun dari pihak yang dipinjami, entah manfaat berupa sedekah, hadiah, diskon, cashback dan semisalnya, karena manfaat ini terhitung sebagai riba, sebagaimana dalam kaidah fiqih:

كل قرض جر نفعا فهو ربا

“Setiap piutang/qardh yang menarik kemanfaatan, maka kemanfaatan tersebut terhitung sebagai riba”.

Adapun pihak yang memberi utang secara kredit ini (kreditur), jika dia mengantarkan makanan pada debitur, maka hal ini adalah sedekah dan bukan riba.

Baca Juga:  Bagaimana Status Uang Iuran yang Hangus Karena Tidak Mengikuti Kegiatan Wisata?

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag.
حفظه الله
Selasa, 25 Dzulhijjah 1443 H/ 25 Juli 2022 M


Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

Ustadz Fadly Gugul, S.Ag

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2012 – 2016 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Takhosus Ilmi di PP Al-Furqon Gresik Jawa Timur | Beliau juga pernah mengikuti Pengabdian santri selama satu tahun di kantor utama ICBB Yogyakarta (sebagai guru praktek tingkat SMP & SMA) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Dakwah masyarakat (kajian kitab), Kajian tematik offline & Khotib Jum’at
Back to top button