Adab & Akhlak

Bolehkah Mencela Saudara Muslim Yang Berbuat Keburukan?

Pendaftaran AISHAH Online Angkatan 2

Bolehkah Mencela Saudara Muslim Yang Berbuat Keburukan?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Bolehkah Mencela Saudara Muslim Yang Berbuat Keburukan? Selamat membaca.

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum ustadz. Semoga Allah selalu merahmati ustadz dan seluruh umat muslim. Ustadz, jika pendapat orang2 yang bodoh tersebar dan ada kejelekannya juga di kalangan umat muslim, sampai kapankah dia harus dicela?

Bagaimana hukum mencelanya setelah dia bertaubat dan berusaha untuk menghilangkan kejahilannya? Jazakallahu khairan.

Ditanyakan oleh Santri Mahad BIAS


Jawaban:
Waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh

Tidak boleh seseorang mencela saudaranya dalam keadaan apapun, karena itu bukanlah akhlak seorang muslim. Sebagaimana firman Allah Ta’ala ,”

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki mencela kumpulan yang lain, boleh jadi yang dicela itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan mencela kumpulan lainnya, boleh jadi yang dicela itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim “ (QS. Al Hujuraat :11)

Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan: “Padahal boleh jadi pihak yang dicela itu justru lebih baik daripada pihak yang mencela. Bahkan inilah realita yang sering terjadi. Mencela hanyalah dilakukan oleh orang yang hatinya penuh dengan akhlak yang tercela dan hina serta kosong dari akhlak mulia. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Cukuplah seseorang berbuat keburukan jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim” (HR Muslim)  (Taisiir Al Kariimi Ar Rahman).

Bila ada kekurangan dalam diri saudara kita hendaknya kita mencoba membantu memperbaiki dirinya atau lebih baik diam bila tidak bisa membantu perbaikian dirinya.

Bila kita tidak mau disakiti maka janganlah menyakit, pun bila tidak mau dibenci maka berusaha tidak membenci dengan kekurangan yang dimiliki saudara kita. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,”

Baca Juga:  Bolehkah Orang Mampu Memanfaatkan Layanan yang Diberikan Untuk Orang Kurang Mampu?

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” [HR. Bukhari, no. 13 dan Muslim, no. 45]

Tunjukkanlah kesalahan dan kebodohan yang dialami oleh saudara kita, dengan tidak menjadikan celaan kepada dirinya, atau menyebarkan aibnya sebagai bahan tertawaan atau celaan, terlebih di media sosial. Sebagai bentuk saling mencintai diantara muslim dan saling mengingatkan.

Fudhail bin Iyâdh rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Mukmin itu akan senantiasa menutupi dan menasihati; sedangkan orang munafik dan pendosa senantiasa akan membuka aib serta mencela.”

Seorang ulama salaf menyatakan, “Saudaramu yang selalu mengingatkanmu kepada Allâh, memberitahukan aib-aibmu itu lebih baik bagimu daripada yang menaruh beberapa uang dinar di tanganmu.”

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

[TS_Poll id="2"]

المؤمن مرآة أخيه، والمؤمن أخو المؤمن؛ يكف عليه ضيعته، ويحوطه من ورائه

“Seorang Mu’min adalah cermin bagi saudaranya. Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin yang lain. Dia tidak merusak harta miliknya dan menjaga kepentingannya.” (Hasan) Ash Shahihah (6/923): [Abu Dawud: 40-Kitab Al Adab, 49-Bab Fin Nashihah].

Semoga Allah menjaga kita semua dari buruknya akhlak dan praktek keimanan yang masih minimal dalam kehidupan kita semua. Aamiin,

Wallahu A’lam

Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله

Kamis, 7 Jumadil Awal 1444H / 1 Desember 2022 M 


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di sini

Akademi Shalihah Menjadi Sebaik-baik Perhiasan Dunia Ads

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button