Bolehkah Mempekerjakan Tukang Bangunan di Bulan Ramadhan bimbingan islam
Bolehkah Mempekerjakan Tukang Bangunan di Bulan Ramadhan bimbingan islam

Bolehkah Mempekerjakan Tukang Bangunan di Bulan Ramadhan?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki adab dan akhlak yang luhur berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang bolehkah mempekerjakan tukang bangunan di bulan ramadhan?.
Silahkan membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah Azza wa Jalla selalu menjaga Ustadz & keluarga.

Ustadz, saya mau tanya. Bagaimana hukumnya bila kita mempekerjakan tukang bangunan untuk merenovasi rumah kita pada bulan Ramadhan dan secara otomatis mereka tidak melaksanakan puasa ramadhan?

(Disampaikan oleh Fulan, Member grup WA BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du

Buruh bangunan atau pekerja keras lainnya bisa berpuasa ketika mereka bekerja, hanya saja pekerjaan yang dipilih adalah lebih ringan daripada pekerjaan-pekerjaan sebelumnya.

Patokannya adalah mereka berniat puasa dari malam hari (sahur), dan jika keadaan menghendaki/memaksa harus berbuka karena berbahaya bagi tubuh, ini adalah persoalan kemudian ketika kerja.

Terdapat kaidah yang umum dalam syariat,

الضرورات تبيح المحظورات

“Kondisi dharurat membolehkan melanggar larangan.”
(lihat al-Wajiz fi Idhah Qawaid Fiqhiyah, hal. 234).

Ketua Lembaga Dewan Fatwa Tetap dari negeri haramain, Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah berfatwa;

الأصل وجوب صوم رمضان ، وتبييت النية له من جميع المكلفين من المسلمين ، وأن يصبحوا صائمين إلا من رخص لهم الشارع بأن يصبحوا مفطرين ، وهم المرضى والمسافرون ومن في معناهم

“Hukum asalnya wajib puasa ramadhan dan berniat untuk puasa sebelum subuh bagi seluruh kaum muslimin. Dan wajib bagi mereka untuk menjalani puasa sejak pagi, kecuali bagi mereka yang mendapatkan keringanan dari syariat untuk tidak puasa. Seperti orang sakit, musafir, dan yang disamakan dengan mereka.”

وأصحاب الأعمال الشاقة داخلون في عموم المكلفين وليسوا في معنى المرضى والمسافرين ، فيجب عليهم تبييت نية صوم رمضان وأن يصبحوا صائمين ، ومن اضطر منهم للفطر أثناء النهار فيجوز له أن يفطر بما يدفع اضطراره ثم يمسك بقية يومه ويقضيه في الوقت المناسب

“Sementara pekerja keras, termasuk muslim mukallaf, dan mereka tidak bisa digolongan dengan orang sakit atau musafir. Sehingga wajib bagi mereka untuk berniat piasa ramadhan dan menahan makan minum sejak pagi. Namun jika diantara mereka ada yang terpaksa membatalkan puasa di siang hari, itu dibolehkan sekedar menutupi kondisi darurat yang dia alami, kemudian melanjutkan puasa di sisa harinya, lalu nanti diqadha di lain hari.”

ومن لم تحصل له ضرورة وجب عليه الاستمرار في الصيام ، هذا ما تقتضيه الأدلة الشرعية من الكتاب والسنة ، وما دل عليه كلام المحققين من أهل العلم من جميع المذاهب

“Sementara mereka yang tidak terpaksa membatalkan puasa, tetap wajib melanjutkan puasanya. Demikian kesimpulan berdasarkan dalil-dalil syar’i yang bersumber dari al-Quran dan sunah, dan kesimpulan dari keterangan para ulama muhaqqiq (peneliti) dari semua madzhab.”

Kemudian beliau menyarankan agar pemerintah memberikan perhatian kepada para pekerja keras ini agar tetap bisa puasa ramadhan, misalnya dengan mengubah jadwal kerjanya di malam hari atau beban kerjanya diturunkan dengan gaji yang sama.
(Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 14/245).

Adapun anda sebagai pemilik rumah bisa meringankan beban kerja mereka atau dengan berinovasi (semisal renovasi rumah bisa mulai di sore atau di malam hari/ lembur ) atau memilih pekerjaan renovasi rumah di bulan selain bulan Ramadhan yang membuat para pekerja rumah buruh bangunan bisa berpuasa. Sekiranya di kemudian hari, mereka tetap tidak puasa di bulan Ramadhan, maka hal tersebut adalah tanggungjawab mereka dan bukan anda pemilik rumah. Anda boleh menasehati dengan cara terbaik.

Semoga Allah Ta’ala memudahkan niat luhur para hamba terlaksana dan menyempurnakannya dengan amalan shaleh yang diterima. Aamiin.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Selasa, 20 Muharram 1442 H / 08 September 2020 M



Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini