Fiqih

Bolehkah Membangun Kubur?

Bolehkah Membangun Kubur?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Bolehkah Membangun Kubur? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Bolehkah membuat semen di atas kuburan dengan alasan agar bisa dikenali, dan menjaga agar kuburannya tidak rata dengan tanah sehingga dapat diziarahi oleh keluarganya jika mereka pulang kampung? Jazaakallah khairan katsiran atas jawabannya ustad.

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Apakah kuburan diperbolehkan untuk di semen, dengan alasan supaya tidak hilang dan diziarahi kembali?

Kembali dengan melihat petunjuk para pendahulu kita dalam memperlakukan makam atau kuburan? Apakah mereka menyuruh untuk membaguskan dan membangunnya dengan sedemikian rupa sehingga makam tidak akan hilang dan tidak boleh digantikan dengan orang lain yang barusan tiada?

Bila ini dilakukan, maka tinggal menanti bagaimana susahnya manusia akan dikuburkan karena tidak banyak sisa tempat yang dipergunakan untuk pemakaman, karena lahan akan semakin sulit di samping fitnah dan pelanggaran dari apa yang telah dilarang oleh nabi Muhammad shallahu alaihi wasallam untuk membangun dan meninggikan kuburan.

Baca Juga :  Tidur Ketika Sholat, Batal Atau Tidak?

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari hadits Jabir radhiallahu’anhu, beliau berkata:

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melarang kuburan dikapur, diduduki, dan dibangun” At Tirmidzi dan ulama hadits yang lain juga meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang shahih, namun dengan lafadz tambahan:

وَأَنْ يُكْتَبَ عَلَيْهِ

“dan (juga dilarang) ditulisi”

Karena hal itu termasuk bentuk sikap ghuluw (berlebih-lebihan), sehingga menahannya.

Maka doakanlah mereka orang orang yang tercinta sebanyak banyaknya, kapan pun dan di mana pun kita berada tanpa harus melanggar syariat yang telah di ajarkan oleh nabi kita Muhammad shallahu alaihi wasallam.

Setiap doa insyaallah akan diterima, walaupun wujud kubur tidak didapatkan di hadapannya.

Imam al-Nawawi dalam al-Adzkar mengatakan bahwa ulama menyepakati doa yang disampaikan orang yang masih hidup kepada orang meninggal, manfaat dan pahalanya sampai kepada mereka sebagaimana firman Allah ta`alaa,”

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang“.” (QS. Al Hasyr: 10)

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Kamis, 26 Rabiul Akhir 1443 H/ 2 Desember 2021 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik disini

Baca Juga :  Menggunakan Produk yang Mengandung Alkohol Membatalkan Wudhu?

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button