Bolehkah Membaca Kitab Taurat atau Kitab Agama Lain Untuk Sekedar Ingin Tahu bimbingan islam
Bolehkah Membaca Kitab Taurat atau Kitab Agama Lain Untuk Sekedar Ingin Tahu bimbingan islam

Bolehkah Membaca Kitab Taurat atau Kitab Agama Lain Untuk Sekedar Ingin Tahu?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang mencintai Allah ta’ala berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang bolehkah membaca kitab taurat atau kitab agama lain untuk sekedar ingin tahu?
selamat membaca.


Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Semoga Allah ta’ala melindungi ustadz dan tim bimbingan Islam.

Ustadz, mendengarkan atau membaca kitab Allah yang lain, yaitu Taurat. Karena hanya penasaran bagaimana kitab tersebut dibaca, apakah setelah mendengarkan (cuma sebentar) akan berpengaruh pada Aqidah ya Ustadz?
Padahal tidak ada maksud apapun hanya sekedar ingin tau kitab tersebut apakah bacaannya sama dengan Al-Qur’an atau tidak. Hukumnya bagaimana kalau hanya sekedar mendengarkan saja?

(Disampaikan oleh Fulanah, Sahabat BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Tidak selayaknya hal tersebut dilakukan, apalagi hanya karena penasaran. Jika kita sudah meyakini kebatilan sesuatu tidak masuk akal rasanya jika kita penasaran terhadap kebatilan itu. Jika kita sudah meyakini haramnya khamar tidak perlu kita merasa penasaran dengan rasanya khamr lalu berkeinginan untuk mencobanya meski sedikit. Ini adalah cara berlogika yang aneh menurut hemat kami. Selebihnya Al-Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz pernah ditanya dengan pertanyaan serupa berikut redaksi pertanyannya :

في آخر أسئلة هذه السائلة تقول: هل يجوز لنا أن نقرأ في كتب الأديان الأخرى غير الإسلام من باب حب الاستطلاع والتعرف على الديانات الأخرى؟

“Pada bagian akhir pertanyaan ini penanya berkata :
Apakah kita boleh membaca kitab agama selain Islam disebabkan karena suka menelaah dan ingin berkenalan dengan agama-agama lain?”

Beliau menjawab :

لا ينبغي لا، لا ينبغي قراءة التوراة ولا الإنجيل ولا غيرها؛ لأنها قد تورث شكًا وشبهة، والرسول روي عنه ﷺ أنه لما رأى عمر يقرأ في شيء من التوراة قال: أفي شك يا ابن الخطاب؟ لقد جئتكم بها بيضاء نقية، لو كان موسى حيًا ما وسعه إلا اتباعي.
المقصود: أنه لا ينبغي للمسلم أن يقرأ الكتب الأخرى من التوراة والإنجيل وغيرها، إلا من تدعو الحاجة إلى قراءته كالعلماء الذين يريدون أن يردوا على اليهود والنصارى من كتبهم، فإذا دعت الحاجة للعالم الذي يرد عليهم ويبين أباطيلهم أن يراجع كتبهم حتى يرد عليهم منها فلا بأس عند الحاجة لأهل العلم والبصيرة. نعم

“Tidak selayaknya membaca kitab taurat, injil dan yang lainnya. Karena hal tersebut bisa menyebabkan munculnya keraguan serta syubhat. Pernah diriwayatkan dari Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau pernah melihat Umar membaca beberapa bagian dari kitab taurat, beliau bersabda :

Adakah keraguan wahai anak Al-Khathab ? sungguh aku telah membawa syariat ini dengan terang benderang. Seandainya Musa hidup maka ia tidak akan memiliki pilihan lain melainkan mengikuti aku.

Maksudnya seorang muslim tidak selayaknya membaca kitab-kitab agama lain seperti taurat, injil dan yang lainnya. Melainkan bagi orang yang memiliki kebutuhan atasnya. Seperti ulama yang ingin membantah terhadap yahudi dan nasara dengan menggunakan kitab mereka.

Apabila ada kebutuhan bagi ulama untuk membantah mereka dan menjelaskan kebatilan mereka, maka ia boleh menelaah kitab-kitab mereka hingga mereka mampu membantah mereka. Jadi tidak mengapa ketika ada kebutuhan bagi para ulama yang memiliki ilmu dan bashirah untuk membacanya.”
(Fatawa Syaikh Bin Baz no. 13812).

Selanjutnya kita bisa lebih menyibukkan diri membaca Al-Qur’an disertai tafsirnya yang teramat sangat banyak lagi bergizi bagi jiwa dan akal kita. Ini jauh lebih bermanfaat dan berguna bagi keimanan, ketauhidan demi meraih kebahagiaan kita di dunia dan akhirat.

Semoga bermanfaat,
Wallahu ta’ala a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله
Senin, 05 Muharram 1441 H/ 24 Agustus 2020 M



Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله  
klik disini