hotMuamalah

Bolehkah Kasir Alfam*rt/Indom*rt Membeli ‘Tebus Murah’ Yang Tidak Diambil Pembeli

Bolehkah Kasir Alfam*rt/Indom*rt Membeli ‘Tebus Murah’ Yang Tidak Diambil Pembeli

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Bolehkah Kasir Alfam*rt/Indom*rt Membeli ‘Tebus Murah’ Yang Tidak Diambil Pembeli, selamat membaca.


Alhamdulillah, wassolatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du.

Sebelumnya sudah pernah dibahas terkait hukum tebus murah yang dilakukan oleh pihak toko retail semisal alfam*rt & indom*rt, dan kesimpulan hukumnya sudah disebutkan dalam artikel berikut: Hukum Tebus Murah di Alfam*rt, Indom*rt dan Semisalnya, Bolehkah?

Kemudian timbul pertanyaan, terkadang ada konsumen yang memiliki hak untuk tebus murah karena sudah belanja mencapai nominal tertentu, namun konsumen tersebut memilih tidak mengambil kesempatan tebus murah, karena pihak konsumen tidak mengambil, biasanya pihak kasir bertanya pada konsumen “kalau tebus murah tidak diambil, apakah boleh kami yang menebusnya?”.

Kejadian tersebut sering didapati di toko retail yang menerapkan promo tebus murah, pertanyaannya, ketika kemudian kita mengatakan boleh, silakan kepada pihak kasir, dan akhirnya barang ditebus oleh si kasir itu sendiri, bagaimana syariat memandang hal ini?


1. Posisi Kasir dalam Keberlangsungan Akad

Pertama: Kita harus tahu terlebih dahulu posisi si kasir ini dalam pandangan syariat sebagai apa dalam keberlangsungan akad jual beli.

Jika kita lihat, posisi kasir ini adalah sebagai pekerja yang dipekerjakan oleh pemilik toko, dia dipekerjakan oleh pemilik toko untuk menjualkan barang di toko tersebut. Jadi status kasir/karyawan ini adalah orang yang disewa/dibeli jasanya untuk menjualkan barang.

Dari sedikit analisis ini bisa kita katakan bahwa menurut tinjauan fiqih bahwa kasir ini sebagai wakil dari pemilik barang, seorang yang dijadikan wakil untuk menjualkan barang, dan wakil ini digaji, sehingga dalam fiqih dikatakan bahwa akad yang terjadi antara si kasir dengan pemilik toko adalah al-wakalah bil ujroh/perwakilan dengan bayaran. Apakah perwakilan dengan bayaran ini dibolehkan dalam syariat?

Disebutkan oleh al-Imam Ibnu Qudamah al-Hanbali:

وَإِنْ وُكِّلَ فِي بَيْعٍ أَوْ شِرَاءٍ أَوْ حَجٍّ ، اسْتَحَقَّ الْأَجْرَ إذَا عَمِلَهُ

“Jika seseorang dijadikan sebagai wakil dalam urusan penjualan atau pembelian, atau haji, ia berhak mendapatkan bayaran jika sudah menunaikannya”. (Al-Mughny juz:7 hal:205).

Syaikh Abdul Karim al-Hudhoir, salah satu ulama besar Saudi Arabia juga menjelaskan:

لا شك أن من كُلف ببيع سلعة أو بأي عمل فيه جهد وتعب أنه له أجرة

“Tidak diragukan lagi, bahwa seorang yang diberikan beban untuk menjualkan barang, atau beban untuk melakukan pekerjaan yang dibutuhkan keseriusan atau keletihan, baginya boleh mendapatkan bayaran”. Lihat: https://ar.islamway.net/fatwa/76012/%D8%A3%D8%AE%D8%B0-%D8%A7%D9%84%D9%88%D9%83%D9%8A%D9%84-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%A8%D9%8A%D8%B9-%D8%A3%D8%AC%D8%B1%D8%A9-%D9%85%D9%86-%D8%AB%D9%85%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%B3%D9%84%D8%B9%D8%A9

Dari sedikit paparan di atas, berarti masalah perwakilan dengan adanya bayaran hukumnya dibolehkan menurut penjelasan para ulama.


2. Bolehkah Wakil (Kasir) Membeli Barang Untuk Dirinya Sendiri?

Kedua: Setelah kita mengetahui bahwa kasir/karyawan toko tersebut statusnya adalah sebagai wakil pemilik toko untuk menjualkan barang, maka kemudian muncul pertanyaan, bolehkah seorang wakil untuk menjualkan barang, ia membeli barang tersebut untuk dirinya sendiri? Alias ia tidak menjualnya pada orang lain?

Dalam fiqih, perkara ini masuk dalam masalah الوكيل بالبيع هل يجوز أن يشتري لنفسه؟ (seorang wakil dalam penjualan barang, bolehkah ia membeli barang tersebut untuk dirinya sendiri?).

Dalam masalah ini ulama berbeda pendapat, mayoritas ulama melarangnya, dan sebagian membolehkan.

a. Pendapat Yang Melarang

Di antara sebab kenapa hal tersebut dilarang adalah karena hal berikut:

  1. Karena urf/kebiasaan yang berlaku dalam penjualan, yaitu seorang menjual barang pada orang lain, bukan untuk diri sendiri.
  2. Adanya tuhmah/tuduhan yang mengarah pada wakil jika ia membeli barang itu untuk dirinya sendiri, karena dimungkinkan ia membelinya dengan harga di bawah pasar, namanya membeli pasti ingin harga yang murah, sehingga ini merugikan pihak yang memberikan perwakilan (pemilik barang).
  3. Tidak terlaksananya ijab & qabul dalam jual beli, karena dua hal tersebut harusnya muncul dari dua pelaku transaksi, adapun seorang membeli dari dirinya sendiri, berarti dia merangkap sebagai dua pelaku, sebagai penjual dan sebagai pembeli, yang demikian tidak diperkenankan dalam akad.

Itu beberapa alasan yang menjadikan akad tersebut tidak diperkenankan, selengkapnya bisa dilihat di fatwa islamweb di bawah Kementrian Wakaf Qatar berikut: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/25424/%D8%A7%D9%84%D9%88%D9%83%D9%8A%D9%84-%D8%A8%D8%A7%D9%84%D8%A8%D9%8A%D8%B9-%D9%87%D9%84-%D9%8A%D8%AC%D9%88%D8%B2-%D8%A3%D9%86-%D9%8A%D8%B4%D8%AA%D8%B1%D9%8A-%D9%84%D9%86%D9%81%D8%B3%D9%87

b. Pendapat Yang Membolehkan

Namun ada kondisi di mana sebagian ulama membolehkan bagi seorang wakil dalam penjualan barang kemudian ia membelinya untuk dirinya sendiri, dibolehkan yakni ketika pihak pemberi perwakilan (pemilik barang) mengizinkan bagi si wakil untuk membeli barang tersebut, di antara yang membolehkan transaksi ini disebutkan dalam salah satu pendapat Madzhab Syafii oleh Jalalud dien al-Mahally dalam syarah al-Minhaj berikut:

ولو أذن له الموكل في البيع لنفسه أو ابنه الصغير صح بيعه لهما في وجه

“Jika pemberi perwakilan dalam penjualan mengizinkan pada wakil untuk membeli barang untuk dirinya sendiri, atau putranya yang masih kecil, sah jual beli untuk keduanya, ini dalam satu sudut pandang Madzhab Syafii”. Lihat: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/25424/%D8%A7%D9%84%D9%88%D9%83%D9%8A%D9%84-%D8%A8%D8%A7%D9%84%D8%A8%D9%8A%D8%B9-%D9%87%D9%84-%D9%8A%D8%AC%D9%88%D8%B2-%D8%A3%D9%86-%D9%8A%D8%B4%D8%AA%D8%B1%D9%8A-%D9%84%D9%86%D9%81%D8%B3%D9%87

Al-Imam Ibnu Qudamah al-Hanbali mengatakan:

وإذا أذن للوكيل أن يشتري من نفسه جاز له ذلك

“Jika si wakil diberikan izin (oleh pemberi perwakilan) untuk membeli bagi dirinya sendiri, yang demikian diperbolehkan”. (al-Mughni juz:7 hal:231).

Jadi, ada kondisi khusus di mana si wakil yang seharusnya ditugaskan untuk menjual barang pada orang lain, tapi justru ia menjual barang tersebut untuk dirinya sendiri (alias dia sebagai konsumennya), kondisi pembolehan ini adalah ketika pihak pemberi perwakilan (pemilik barang) membolehkan dan mengizinkan bagi si wakil untuk membelinya.

Ini pendapat yang kami anggap lebih kuat yakni bolehnya si wakil membeli barang untuk dirinya ketika diizinkan oleh pembeli perwakilan, terkhusus jika harga barangnya sudah jelas/ditetapkan, sehingga tidak didapati tuhmah/tuduhan memainkan harga yang bisa merugikan pemilik barang.


3. Kesimpulan, Bolehkah Kasir Membeli Tebus Murah?

Jika kita tarik ke masalah tebus murah yang dilakukan oleh kasir/karyawan toko retail ketika ia membeli barang tebus murah yang harusnya dijual ke orang lain, tetapi justru ia beli untuk dirinya sendiri, yang demikian ini boleh hukumnya dengan syarat pemilik toko mengizinkan, jika tidak ada izin dari pemilik toko maka transaksinya tidak sah menurut tinjauan fiqih.

Wallahu a’lam bis showab.

Disusun oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Rabu, 11 Rabiul Akhir 1443 H/ 17 November 2021 M



Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله klik disini

Baca Juga :  Bagaimanakah Hukumnya Memberikan Kelonggaran Dengan Mengangsur Pembayaran

Ustadz Setiawan Tugiyono, Lc., M.HI

Beliau adalah Alumni D2 Mahad Aly bin Abi Thalib Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bahasa Arab 2010 - 2012 , S1 LIPIA Jakarta Syariah 2012 - 2017, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2018 - 2020 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah, Dauroh Masyayikh Ummul Quro Mekkah di PP Riyadush-shalihin Banten, Daurah Syaikh Ali Hasan Al-Halaby, Syaikh Musa Alu Nasr, Syaikh Ziyad, Dauroh-dauroh lain dengan beberapa masyayikh yaman dll | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Belajar bersama dengan kawan-kawan di kampuz jalanan Bantul

Related Articles

Back to top button