Membahagiakan Diri Sendiri Sebelum Membahagiakan Orang Lain

Membahagiakan Diri Sendiri Sebelum Membahagiakan Orang Lain

Pertanyaan

بسم اللّه الرحمن الر حيم
السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Ustadz, ana mau tanya
Apakah dibenarkan dalam Islam seseorang yang memiliki prinsip : “Membahagiakan diri sendiri dulu baru bisa memikirkan, membahagiakan orang lain”?

(Sahabat BiAS T06 G-12)

Jawaban

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Ada rincian didalamnya, jika kebahagiaan tersebut berkaitan dengan masalah materi keduniaan berupa harta, makanan, pakaian dan seterusnya. Islam justru menganjurkan untuk lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ازهد بما في أيدي الناس يحبك الناس

“Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya kamu akan dicintai oleh mereka”. (HR. Ibnu Majah 4102 dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Shahihul Jami’ : 922).

Namun jika kebahagiaan di sini berkaitan dengan masalah ibadah wajib, maka kita mementingkan diri kita dari yang lain.

Misalnya kita diajak shalat wajib tidak boleh kita ucapkan : Kamu duluan aja yang shalat, ntar saya belakangan saja, karena saya mengutamakan orang lain.

Atau ada wanita telanjang berkata : Ini baju aku kamu pakai saja biar saya telanjang keliatan auratnya ndak apa apa karena saya mengutamakan kepentingan orang lain, yang penting aurat kamu tertutup saya keliatan biarin saja.

Ini kesalahan fatal. Karena menutup aurat itu wajib, seharusnya kita mendahulukan diri kita dalam hal kewajiban ini.

Karena tidak ada iitsaar (mengutamakan orang lain) dalam hal ketaatan yang WAJIB dan ibadah yang WAJIB.

Adapun dalam ibadah yang tidak wajib kadang iitsaar diperbolehkan dan banyak contoh hal ini dari kalangan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Wallahu a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh :

Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله

Jum’at, 03 Rabi’ul Awwal 1438 H / 02 Desember 2016 M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS