Bolehkah Beras Subsidi Untuk Anak Yatim Dijual Kembali?

Bolehkah Beras Subsidi Untuk Anak Yatim Dijual Kembali?

Pertanyaan

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Ustadz, afwan…
Ana ingin bertanya. Di kampung kami ada panti asuhan yang mendapatkan subsidi beras dari pemerintah. Kemudian pihak panti tersebut menjual beras kepada warga sekitarnya.

Yang Ana tanyakan, bolehkah beras subsidi tersebut dijual dan bolehkah warga membelinya, Ustadz?

Jazaakallahu khayran atas jawabannya…

(Hilda, SAHABAT BiAS T05 G-03M)

Jawaban

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Boleh jika seizin pemilik beras, dalam hal ini anak-anak yatim tersebut. Jika anak-anak tersebut belum cukup matang dalam mengelola harta, maka boleh pihak panti (wali yatim) untuk menjualnya jika dipandang penjualan beras tersebut lebih bermanfaat bagi si yatim. Dan kelak keuntungannya diberikan kepada anak-anak yatim tersebut.

Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz berkata :

قد أمر الله سبحانه وتعالى بالإصلاح لليتامى، ونهى عن قربان أموالهم إلا بالتي هي أحسن، فقال تعالى:  وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْيَتَامَى قُلْ إِصْلاَحٌ لَّهُمْ خَيْرٌ وَإِنْ تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ[1]. وقال تعالى:  وَلاَ تَقْرَبُواْ مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ[2].

فالواجب على ولي اليتيم أن يعمل بمقتضى هاتين الآيتين، وذلك هو الإصلاح في أموال اليتامى، وبذل الجهد في تنميتها، وتكثيرها، وحفظها؛ إما بالتجارة فيها، أو بدفعها إلى ثقة يتجر فيها بجزء مشاع من الربح؛ كالنصف ونحوه، حسب المتعارف عليه في بلد المعاملة، وإذا تبرع بجميع الربح لليتيم فذلك خير وأفضل، أما تصرف ولي اليتيم في أموال اليتيم في مصلحة الولي، وقضاء حاجاته، وتنمية تجارته، ونحو ذلك، فالظاهر أن ذلك لا يجوز، لأن ذلك ليس من الإصلاح لليتيم، وليس من قربانها بالتي هي أحسن.

أما إذا أنفقها ليحفظها لليتيم، بنية القرض؛ لكونه يخاف عليها إذا بقيت من التلف، أو السرقة، ونحو ذلك، ولم يجد ثقة يعمل في مال اليتيم، فهذا- والحالة هذه- يعتبر من الإصلاح، والحفظ لمال اليتيم

“Allah ta’ala telah memerintahkan untuk berbuat baik kepada anak-anak yatim, dan Allah melarang dari mendekati harta anak yatim kecuali jika bertujuan baik, Allah ta’ala berfirman :

“Mereka juga bertanya tentang pengasuhan anak yatim yang baik menurut Islam. Katakan, “Sesungguhnya yang baik buat kalian dan buat mereka adalah memperbaiki dan menggabungkan mereka ke dalam rumah kalian, dengan tujuan perbaikan, bukan kerusakan.

Mereka adalah saudara kalian juga yang pantas bergabung bersama kalian. Allah mengetahui orang yang berbuat kebaikan dan orang yang berbuat kerusakan di antara kalian.” (QS Al-Baqarah : 220).

Allah juga berfirman :

“Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat.” (QS Al-An’am : 152)

Maka wajib bagi wali anak yatim agar ia melaksanakan konsekuensi dari dua ayat ini yaitu dengan berbuat baik di dalam mengelola harta anak yatim sertag mengerahkan kemampuan untuk mengembangkannya, memperbanyaknya serta menjaganya.

Baik dengan cara mengelolanya dengan bisnis atau menyerahkannya kepada orang yang amanah untuk mengembangkan dan menghasilkan bagi hasil keuntungan, seperti bagi dua atau yang lainnya. Sesuai dengan kode etik yang berlaku. Jika kemudian ia menyerahkan seluruh keuntungan untuk anak yatim maka itu sangat baik dan lebih utama.
Adapun wali yang memanfaatkan harta anak yatim untuk kepentingan bisnisnya, memenuhi kebutuhannya, mengembangkan bisnisnya sendiri, yang tampak hal tersebut tidak boleh. Karena itu bukan berbuat baik dalam mengelola harta anak yatim, tidak pula termasuk “mendekati harta anak yatim dengan cara yang baik”.

Adapun jika ia menafkahkannya supaya terjaga harta tersebut untuk anak yatim, dengan niat menghutangkannya, karena khawatir harta tersebut akan lenyap/hilang atau dicuri atau sebab lain, dan tidak ada orang amanah yang bersedia mengembangkan harta anak yatim tersebut, yang demikian termasukberbuat baik dalam mengelola harta anak yatim, menjaga harta anak yatim.”

(Fatawa Syaikh Bin Baz no. 3126).

Wallahu a’lam

Dijawab dengan ringkas oleh :

Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله

Senin, 11 Rabi’ul Akhir 1438 H / 09 Januari 2017 M

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS