Home Konsultasi Bolehkah Mendo’akan Husnul Khatimah Bagi yang Sudah Meninggal?

Bolehkah Mendo’akan Husnul Khatimah Bagi yang Sudah Meninggal?

0
Bolehkah Mendo’akan Husnul Khatimah Bagi yang Sudah Meninggal?
“Apabila seseorang mati, seluruh amalnya akan terputus kecuali 3 hal: sedekah jariyah, ilmu yang manfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya.”

Bolehkah Mendo’akan Husnul Khatimah Bagi yang Sudah Meninggal?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang mencintai Allah ta’ala berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang bolehkah mendo’akan husnul khatimah bagi yang sudah meninggal?

Selamat Membaca.


Pertanyaan :

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh ustadz
Apakah benar ucapan semoga husnul khotimah itu hanya untuk orang yang masih hidup? Kalo yang meninggal tidak perlu didoakan dengan husnul khotimah?
Jazakallahu khairan.

(Adi Permadi, Sahabat BiAS G8-N011)


Jawaban :

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh

Rahmat Allah Yang Maha Pengasih sangat luas. Diantara rahmat yang Allah Ta’ala berikan kepada orang yang beriman adalah mereka bisa saling memberikan kebaikan, sekalipun harus berpisah di kehidupan dunia fana ini. Karena ikatan iman, Allah Ta’ala abadikan sekalipun mereka sudah berpisah berbeda kehidupan, telah wafat dan yang lain masih hidup.

Do’a mukmin yang hidup kepada mukmin yang telah meninggal, Allah Ta’ala jadikan sebagai do’a yang mustajab. Do’a anak soleh kepada orang tuanya yang beriman, yang telah meninggal, Allah jadikan sebagai paket pahala yang tetap mengalir.

Baca Juga:  Urutan Kitab Shahih

Dari sahabat mulia Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seseorang mati, seluruh amalnya akan terputus kecuali 3 hal: sedekah jariyah, ilmu yang manfaat, dan anak sholeh yang mendo’akannya.” (HR. Muslim 1631, Nasai 3651, dan yang lainnya).

Bahkan ikatan iman ini tetap Allah abadikan hingga hari kiamat. Karena ikatan iman ini, Allah Ta’ala kumpulkan kembali mereka bersama keluarganya di hari kiamat. Dalam firman-Nya Yang Mulia;

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ

“Orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.” (QS. At-Thur: 21).

Mendo’akan Husnul Khotimah

Mendo’akan husnul khotimah bagi orang muslim yang hidup maupun telah wafat adalah boleh, dan hal ini bukan sebuah kekhususan bagi orang yang masih hidup saja, hanya saja upaya dan usaha bagi orang yang masih hidup lebih sempurna daripada yang telah wafat.

Baca Juga:  Menasehati Diri Sendiri Agar Bisa Berhenti Bermaksiat

Jika direnungkan, Lebih dianjurkan mendo’akan ampunan (bukan hanya husnul khotimah) bagi mereka yang telah meninggal dunia, karena mengamalkan firman Allah Ta’ala;

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdo’a: “Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10)

Jika kita melihat lebih dalam, sejatinya adanya saling mendo’akan antara yang hidup dan yang mati, merupakan bagian dari nikmat Allah kepada orang yang beriman. Karena ikatan iman, orang yang masih hidup bisa tetap memberikan do’a kepada orang lain, meskipun dia sudah meninggal.

Baca Juga:  BC Amalan Bulan Syaban

Adapun mendo’akan husnul khotimah bagi orang kafir yang telah meninggal dunia, maka hal ini dilarang dalam agama kita yang mulia, karena Firman Allah Ta’ala;

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat (Nya), sudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahim.” (QS. At-Taubah: 113).

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Rabu, 12 Dzul Qa’idah 1442 H/ 23 Juni 2021 M



Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini