Bila Hujan Enggan Menyapa – Amalan Agar Allah Menurunkan Hujan

Bila Hujan Enggan Menyapa – Amalan Agar Allah Menurunkan Hujan

Bila Hujan Enggan Menyapa – Amalan Agar Allah Menurunkan Hujan

Para pembaca Bimbinganislam.com yang selalu mencari keridhoan Allah berikut kami sajikan pembahasan tentang beberapa amalan agar Allah menurunkan hujan untuk kita.
selamat membaca.

Hujan Adalah Karunia Allah

Hujan adalah karunia dan nikmat dari Allah Ta’ala Yang Maha Penyayang kepada para hamba-Nya. Dialah yang menurunkan hujan ini dari langit berupa gumpalan awan-awan tebal di atas tanah yang tandus, kering kerontang, sehingga dari tanah ini tumbuh tanaman dan tumbuhan yang bermanfaat bagi kehidupan makhluk lagi memanjakan mata bagi siapa saja yang memandangnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الأرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kamu melihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang Menghidupkannya, Pastilah dapat Menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
(QS. Fushshilat : 39).

Di Indonesia, setiap musim kemarau berkepanjangan, di luar batas kenormalan (tidak biasanya), tanah subur mulai kering, air sumur susah didapat di beberapa daerah, lahan-lahan pertanian banyak yang gagal panen, sampai kebakaran hutan yang tak kunjung padam bahkan kabut asap tebalnya sampai ke negeri tetangga, menimbulkan sekian banyak polemik di tengah-tengah masyarakat juga Negara.
Muncul dalam benak pikiran kita; “mengapa hujan tak kunjung turun?”

mengapa hujan tak kunjung turun?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan umatnya tentang hal ini (hujan tak kunjung turun) jauh-jauh hari sebelumnya dalam sabdanya:

يا معشر المهاجرين: خمس إذا ابتليتم بهن وأعوذ بالله أن تدركوهن: لم تظهر الفاحشة في قوم قطُّ حتى يعلنوا بها إلاَّ فشا فيهم الطاعونُ والأوجاعُ التي لم تكن مضت في أسلافهم الذين مَضَواو لم ينقصوا المكيال والميزان إلا أُخذوا بالسنين وشدة المؤونة وجَوْر السلطان عليهم. ولم يَمْنعوا زكاة أموالهم إلا مُنعوا القطرَ من السماء، ولولا البهائمُ لم يُمطروا. ولم ينقضوا عهد الله وعهد رسوله إلا سلّط الله عليهم عدوًّا من غيرهم فأخذوا بعض ما في أيديهم. وما لم تحكم أئمتهم بكتاب الله ويتخيروا مما أنزل الله إلا جعل الله بأسهم بينهم

Wahai sekalian kaum muhajirin, kalian akan diuji dengan lima perkara dan aku memohon perlindungan Allah agar kalian tidak ditimpa hal-hal tersebut.

Ketika perbuatan keji merajalela di tengah-tengah kaum hingga mereka berani terang-terangan melakukannya, akan menyebar penyakit menular dan kelaparan yang belum pernah mereka alami sebelumnya.

Ketika orang-orang gemar mencurangi timbangan, akan ada tahun-tahun yang menjadi masa sulit bagi kaum muslimin dan penguasa berbuat jahat kepada mereka

Ketika orang-orang enggan membayar zakat, air hujan akan ditahan dari langit. Andaikata bukan karena hewan-hewan ternak, niscaya hujan tidak akan pernah turun.

Ketika orang-orang mengingkari janji terhadap Allah dan Rasul-Nya, Allah akan menjadikan musuh dari selain mereka berkuasa atas mereka, kemudian mengambil sebagian apa yang ada di tangan mereka,

Ketika para penguasa tidak berhukum dengan Kitab Allah dan mereka memilih selain dari apa yang diturunkan oleh Allah Ta’ala, maka Allah akan menjadikan kehancuran mereka dari diri mereka sendiri”
(HR. Ibnu Majah, no.3262. dinilai hadits hasan (maqbul/dijadikan hujjah) oleh Ahli hadits Al Albani dalam Shahih Ibni Majah).

Amalan Agar Allah Menurunkan Hujan

Maka ada beberapa hal & amalan yang harus kita perhatikan bersama, menjadi titik poin penting jika hujan tak kunjung datang & agar Allah menurunkan hujan pada kita.

1. Segera membayar  zakat (wajib) dan juga memperbanyak sedekah

Dari hadits ini sudah sangat jelas kenapa kita masih berpanas-panas ria saat ini. Zakat tertahan dan tidak terbayarkan kepada yang berhak menerimanya menjadi penyebab tidak turunnya hujan.

Perkataan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam berbeda dengan kita manusia biasa, lisan beliau terbimbing dengan wahyu. Jadi, kita tak usah ragu. Pada masa ini orang miskin yang hendak jadi kaya maupun orang kaya yang ingin lebih kaya lagi  semakin suka menimbun lagi gemar menumpuk harta.
Mereka seakan lupa atau menolak tahu bahwa 2,5 persen (selain zakat harta karun, pertanian, dan peternakan) dari total hartanya tersebut adalah hak mustahiq (mereka yang wajib menerima).

Sehingga jangan heran, akibat perbuatan ini  hujan tak kunjung datang dan merugikan manusia. Cobalah orang-orang mampu di negeri kita ini, mereka membayarkan kewajibannya, tidak pura-pura tidak tahu atau stop perasaan enggan ingin tahu, maka  negara kita ini tak hanya bakal dihujani dengan air, lebih-lebih rahmat dan nikmat dari Allah Ta’ala Sang Maha Pemberi.

2. Banyak bersitighfar mohon ampun atas dosa dan segera bertaubat kembali kepada Allah Ta’ala

Selain para Nabi dan Rasul, Tak ada manusia yang maksum (bebas dosa). Bahkan orang paling berilmu sekalipun, mereka tetap jatuh dalam salah dan khilaf. Apatah lagi orang awam, yang kurang ilmu alias biasa-biasa saja atau tidak tahu menahu sekalipun.

Sehingga sudah menjadi sunnatullah (ketentuan Allah) dan lumrah karena banyak kesalahan dan dosanya, manusia hamba-hamba Allah Ta’ala tidak menunda dan bersegera memohon ampun atas segala dosa bahkan wajib melakukan taubat setiap saat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Seluruh anak Adam berdosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat”
(HR. Ibnu Majah, no 4241, dinilai sebagai hadits hasan oleh Syaikh Muhaddits Al-Albani).

Sesungguhnya amalan berupa istighfar yang diiringi dengan meninggalkan dosa dan maksiat, menjadi sebab turunnya hujan, suburnya negeri dan keberkahan, keturunan yang banyak serta kemuliaan dan kekokohan menjadi semakin kokoh. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ﴿١٠﴾ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ﴿١١﴾ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Rabbmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-,
Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,
Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.
(QS. Nuh/71: 10-12)

Taubat definisinya meninggalkan dosa dan maksiat di atas ilmu karena takut pada Allâh Ta’ala, menganggapnya buruk, menyesali perbuatan tersebut, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya, dan memperbaiki apa yang mungkin bisa diperbaiki kembali dari amalnya, serta menggantinya dengan kebajikan dan amalan ketaqwaan yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Maka diantara amalan sholeh agar Allah menurunkan hujan, adalah dengan bertaubat -ed

3. Berdo’a meminta hujan dan melaksanakan Sholat Istisqo’

Do’a adalah ibadah dan salah satu amalan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Sehingga dalam pelaksanaannya selalu mencari contoh dan tuntunan dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dari Sahabat mulia Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu bahwa beliau bersabda,

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Do’a adalah ibadah.”
(hadits Shahih. HR. Abu Daud, no. 1479, dan At Tirmidzi, no. 2969).

Telah datang riwayat dari sahabat mulia Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau menuturkan:
Ada seorang laki-laki suku badui (arab pedusunan) masuk masjid pada hari Jum’at melalui arah darul qodho’. Kemudian ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berdiri dan berkhutbah lalu menghadap kiblat (sambil berdiri), Kemudian laki-laki tadi pun berkata :
“Wahai Rasulullah, ternak kami telah banyak yang mati dan kami pun sulit melakukan perjalanan (karena tidak ada pakan untuk unta, pen). Mohonlah pada Allah agar menurunkan hujan pada kami”.
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya sembari berdo’a,

اللَّهُمَّ أَغِثْنَا ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

Ya Allah, turunkanlah hujan pada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan pada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan pada kami.”

Anas radhiallahu ‘anhu mengatakan :
“Demi Allah, ketika itu kami sama sekali belum melihat mendung dan gumpalan awan di langit, dan di antara kami dan gunung Sal’i tidak ada satu pun rumah. tiba-tiba muncullah kumpulan mendung dari balik gunung tersebut, memenuhi langit, menyebar dan turunlah hujan lebat.
Demi Allah, setelah itu, kami pun tidak melihat matahari selama enam hari.

Kemudian ketika Jum’at berikutnya, ada seorang laki-laki masuk melalui pintu Darul Qodho’ dan ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berdiri dan berkhutbah.
Kemudian laki-laki tersebut berdiri dan menghadap beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu ia mengatakan :
“Wahai Rasulullah, sekarang ternak kami malah banyak yang mati dan kami pun sulit melakukan perjalanan. Mohonlah pada Allah agar menghentikan hujan tersebut pada kami.”
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya, lalu berdo’a:

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا ، اللَّهُمَّ عَلَى الآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan

Setelah itu, hujan pun berhenti. Kami pun berjalan di bawah terik matahari.

Syarik (rawi hadits) mengatakan bahwa beliau bertanya pada Anas bin Malik :
“Apakah laki-laki yang kedua yang bertanya sama dengan laki-laki yang pertama tadi?”
Anas menjawab, “Aku tidak tahu.”
(Hadits shahih. HR. Bukhari, no. 1014 dan Muslim no. 897).

Juga disyariatkan melakukan amalan berupa sholat istisqo yaitu sholat yang dilakukan ketika hujan tak kunjung turun atau keringnya sumber air. Sholat ini disunnahkan (dianjurkan) ketika hujan belum juga turun. Jika sudah turun atau keluarnya mata air, maka tidak ada lagi sholat istisqo.
Para ulama kita mendefinisikannya;

طلبه من الله عند حضور الجدب على وجهٍ مخصوص

“Meminta hujan kepada Allah, ketika terjadi kekeringan, dengan aturan dan tata cara tertentu.”
(lihat kitab Fathul Bari karya al Hafizh Ibnu Hajar al Asqolaniy, 2/492).

Perhatikanlah hadits dari sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

أَنَّ النَّبِىَّ  صلى الله عليه وسلم  اسْتَسْقَى فَأَشَارَ بِظَهْرِ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukan istisqo lalu ia mengangkat punggung tangannya dan diarahkan ke langit.
(hadits shahih. HR. Muslim, no. 896).

Para jama’ah juga ikut mengangkat tangan, dalilnya adalah hadits dari Anas bin Malik,

فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ  صلى الله عليه وسلم  يَدَيْهِ يَدْعُو ، وَرَفَعَ النَّاسُ أَيْدِيَهُمْ مَعَهُ يَدْعُونَ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya untuk berdo’a. Kemudian para jama’ah ketika itu turut serta mengangkat tangan mereka bersama beliau untuk berdo’a .”
(hadits shahih. HR. Bukhari, no. 1029).

Sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, juga mengisahkan,

كَانَ النَّبِىُّ  صلى الله عليه وسلم  لاَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِى شَىْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلاَّ فِى الاِسْتِسْقَاءِ ، وَإِنَّهُ يَرْفَعُ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam biasa tidak mengangkat kedua tangannya dalam setiap do’a beliau kecuali dalam do’a istisqo’. Ketika itu beliau mengangkat tangan sampai – sampai terlihat ketiaknya yang putih.”
(hadits shahih, HR. Bukhari, no. 1031 dan Muslim, no. 895).

Sunnah ini (sholat istisqo) merupakan sunnah yang jarang dilakukan khususnya di negara kita Indonesia. Maka marilah hidupkan dan sebarkan sunnah ini!
semoga Allah Ta’ala berkenan menurunkan rahmat-Nya.
Wabillahi taufiq.

 

Disusun oleh:
Ustadz Fadly Gugul حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)



Ustadz Fadly Gugul حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS