Bid’ah Maulidan

Bid’ah Maulidan

Pertanyaan :

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Bismillah

Ana izin nanya tentang perkara maulid nabi kenapa di katakan bid’ah berdasarkan dalilnya? dan pengertian bid’ah hasanah secara bahasa dan istilah beserta contohnya?

(Dari Hamba Alloh Anggota Grup WA Bimbingan Islam)

Jawaban :

وعليكم السلام ورحمة الله وبر كاته

Kesimpulan:

Merayakan Maulid Nabi adalah perkara baru dalam ibadah yang tidak pernah di lakukan oleh Rasulullaah shallallaahu alaihi wasalam dan tidak juga disampaikan kepada para sahabat dan umatnya, bahkan sejarah mencatat bahwa peringatan maulid itu dilakukan pertama kali di zaman Dinasti Fathimiyyah, setelah zaman para sahabat dan tabi’in hidup.

Jika hal ini disyariatkan dalam Agama yang telah Sempurna ini maka tentunya para sahabat pasti lebih dulu telah melakukannya, tapi tidak ada riwayat satu pun yang menjelaskan akan hal itu, maka merayakannya termasuk bid’ah.

Bismillah

Mengapa Maulid Nabi Dikategorikan Sebagai Bid’ah?

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan bid’ah adalah setiap perbuatan yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada dalil yang menunjukkan disyari’atkannya perbuatan tersebut” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2/127)

Berdasarkan pengertian di atas, maka ada dua poin penting yang dapat diambil :

Bid’ah hanya berkaitan dengan masalah agama. Sebab bid’ah adalah perbuatan yang tidak ada dasarnya dalam agama. Apalagi ini telah Sempurna statusnya di mata Alloh dan RosulNya, jikalau sesuatu dikatakan sempurna maka tentu tidak ada ruang lagi untuk menambah-nambahi, apalagi mengurangi.

Bagi saudara kita yang merayakannya, maulid adalah ibadah dan perayaan yang sangat agung yang dapat mendatangkan keridhoan AllahTa’ala dan syafa’at Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adakah dalil dianjurkannya maulid? Saudaraku yang dimuliakan Allah, sayangnya tidaklah kita temukan satu dalil pun yang menunjukkan disyari’atkannya maulid Nabi setelah sempurnanya Islam. Tidak ada hadits Nabi, riwayat sahabat, serta ucapan 4 imam mazhab yang menunjukkan dianjurkannya merayakan maulid Nabi.

Inilah alasan pokok mengapa maulid dikategorikan sebagai bid’ah. Maulid adalah perkara baru dalam agama yang tidak ada dasarnya sama sekali, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

و إياكم و محدثات الأمور فإن كل بدعة صلالة

“Waspadalah kalian dari perkara-perkara baru (dalam agama) karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, beliau berkata : “hadits ini hasan shahih”)

Selain tidak memiliki landasan agama, perayaan maulid Nabi juga menyerupai perayaan yang diadakan oleh orang nasrani yang merayakan hari kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam sehingga dikategorikan sebagai bid’ah.

Imam As Suyuthi rahimahullah berkata, “Termasuk ke dalam perbuatan bid’ah yang mungkar adalah : menyerupai orang kafir dan menyamai mereka dalam hari raya mereka dan perayaan mereka yang terlaknat sebagaimana yang dilakukan banyak orang awam dari kaum muslimin yang turut serta dalam perayaan orang nasrani pada Khamis al Baydh dan lainnya”
(Al Amru bil Ittiba’, hal. 141, dinukil dari‘Ilmu Ushul Al Bida’, hal. 80)

Saudaraku yang dimuliakan Allah, semoga perkataan Ibnu Taimiyyah berikut ini mampu menambah kesadaran serta keilmuan kita tentang hakikat bid’ah maulid:

Beliau rahimahullah berkata, “Sesungguhnya para salaf tidak merayakannya (maulid Nabi) padahal ada faktor pendorong untuk merayakannya dan juga tidak ada halangan untuk merayakannya. Seandainya perbuatan itu isinya murni kebaikan, atau mayoritas isinya adalah kebaikan, niscaya para salaf radhiyallahu ‘anhum lebih berhak untuk merayakannya. Karena mereka adalah orang yang lebih besar kecintaannya dan pengagungannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamdibandingkan kita. Mereka -para salaf- lebih semangat untuk berbuat kebaikan” (lihat Iqtidho Shirothil Mustaqim, 2/612-616, dinukil dari Al Bida’ Al Hauliyah, hal. 198)

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, seandainya Rasulullah, para sahabat, tabi’in, maupun 4 imam mazhab mau merayakan maulid Nabi, tentu mudah bagi mereka untuk merayakannya. Faktor pendorong merayakan maulid sudah ada, yakni kecintaan mereka kepada Nabi yang teramat besar, ditambah lagi tidak ada faktor yang menghalangi mereka untuk merayakannya. Namun, mengapa mereka tidak merayakannya? Apa sih susahnya maulidan? Hal ini semata karena keyakinan mereka bahwa maulid bukanlah ajaran Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allahu a’lam..

Wabillahit taufiq…

Konsultasi Bimbingan Islam

Ustadz Rosyid Abu Rosyidah

CATEGORIES
Share This

COMMENTS