Puasa Kafarroh

Puasa Kafarroh

Puasa Kafarroh

Pertanyaan

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Saya mohon penjelasan mengenai puasa kafarat. Kapan dilaksanakan dan berapa lama untuk melakukan puasa kafarat? Syukron.

(Ira di Semarang, Sahabat BiAS T04 G-58)

Jawaban

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Barangsiapa menggauli istrinya di siang hari pada saat bulan Ramadhan, maka dia telah berdosa dan wajib atasnya menebusnya dengan kafarat; Yaitu memerdekakan budak.

Jika tidak mampu, hendaknya berpuasa dua bulan berturut-turut.

Apabila juga tidak mampu melaksanakan puasa, maka hendaklah ia memberikan makan kepada 60 fakir miskin. Serta tidak diperbolehkan memberikan makan fakir miskin apabila mampu melaksanakan puasa (puasa kaffaroh).

Dalam hadits dijelaskan;
“Ketika kami sedang duduk bersama Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam tiba-tiba datang seorang lelaki, seraya berkata: Wahai Rosululloh, sungguh aku telah binasa,
Rosululloh bertanya: Apa yang terjadi denganmu?
Lelaki tadi menjawab: Aku telah menggauli istriku padahal aku sedang berpuasa.
Lalu Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya: Apakah engkau memiliki seorang budak sehingga engkau memerdekakannya?
Dia menjawab: Tidak ada.
Rosululloh bersabda: Apakah engkau mampu melaksanakan puasa dua bulan berturut-turut?
Dia menjawab: Tidak bisa.
Rosululloh pun bertanya lagi: Apakah engkau mampu memberikan makan enam puluh fakir miskin?……”
[HR Bukhari 1936]

Hadits diatas menunjukkan bahwa wajib untuk melaksanakan puasa dua bulan berturut-turut, sebab terdapat lafal

فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ

“Apakah engkau mampu melaksanakan puasa dua bulan berturut-turut?”

Ibnu Qudamah Rohimahulloh mengatakan kesinambungan dalam puasa:

“Barangsiapa memulai puasa zihar di awal bulan Sya’ban, maka hendaklah ia berbuka pada saat hari raya kemudian melanjutkan puasa yang sudah dikerjakan sebelumnya. Demikian pula jika seseorang memulai puasa di awal bulan Dzulhijjah, maka hendaklah ia berbuka pada saat hari Idul Adha dan hari Tasyriq kemudian melanjutkan puasa yang sudah dijalani.
Secara umum dapat dipahami, apabila puasa zihar terputus dalam rentang waktu yang cukup lama, maka tidak sah puasanya jika diniatkan untuk membayar kafarat.
Adapun apabila seseorang memulai puasanya di awal bulan Sya’ban lalu tertunda di bulan Romadhon dan hari Idul Fitri, atau seseorang memulai puasanya bulan Dzulhijjah lalu dipotong hari raya Korban dan hari-hari Tasyriq, maka kesinambungan puasanya tidak terputus. Dengan perumpamaan semacam ini, maka dia boleh melanjutkan puasa yang telah dijalani tanpa mengulang puasanya kembali dari awal.” (Al Mughni, 8/29)

Wallohu A’lam
Wabillahit Taufiq 

Dijawab dengan ringkas oleh:
 Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله

Tanya Jawab
Tanya Jawab Grup WA Bimbingan Islam T04

CATEGORIES
Share This

COMMENTS