Berprasangka Buruk Kepada Allah Dan Manusia

Berprasangka Buruk Kepada Allah Dan Manusia

Pertanyaan

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Ustadz Rosyid, bagaimana jika seseorang terjatuh dalam prasangka buruk kepada Allāh dan manusia (muslim & non muslim)?
Apakah berbeda hukumnya?

Syukron, Ustadz.
Jazaakallahu khoiron wa baarakallaahu fiik.

(Rifki, Admin BiAS N06)

Jawaban

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Tentu saja berbeda, suudzon terhadap sesama manusia saja tidak dibolehkan apalagi suudzon pada Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Larangan suudzon pada sesama termaktub dalam firman Alloh Jalla wa ‘alaa:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا

_“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.”_
(QS. Al-Hujurat: 12)

Suudzon ibarat kata seperti pembuka pintu keburukan atas saudara kita, karena dengan suudzon bisa merembet ke dusta, iri, dengki, hasad, bahkan mencari cari kesalahan.

Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara”
[HR. Bukhari no. 6064, Muslim no. 2563]

Adapun suudzon pada Alloh tentu saja memiliki kelas yang berbeda, dalam hadits riwayat Imam Muslim dijelaskan kaitan antara suudzon pada Alloh dengan kematian seorang hamba,

لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ

_“Janganlah salah seorang di antara kalian mati melainkan ia harus berhusnudzon pada Allah.”_
[HR. Muslim no. 2877]

Ketika kita berdo’a pada Allah saja kita harus husnudzon, harus yakin bahwa do’a kita akan dikabulkan, dengan tetap melakukan sebab terkabulnya do’a dan menjauhi berbagai pantangan yang menghalangi terkabulnya do’a, apalagi kaitannya dengan kematian yang berhubungan erat dengan alam akhirat dan rahmat.
Berhubungan erat dengan nasib kita pasca kehidupan fana ini!

Suudzon pada Alloh saat meninggal sama dengan suudzon mendapatkan rahmat Alloh!
Begitu juga hadits Qudsi yang telah terkenal atau masyhur, yang membahas tentang pentingnya husnudzon pada Alloh,
Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, Alloh Ta’ala berfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى

_“Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku”_ [Muttafaqun ‘alaih].

Demikianlah, bahwa husnudzon pada Alloh merupakan harga mati bagi kita, erat kaitannya dengan adab dan keyakinan. Adapun husnudzon pada sesama, adalah bentuk pengamalan dari akhlak serta adab kita, sebagai perwujudan cinta dan penunaian hak sesama makhluk.

Wallohu A’lam
Wabillahit Taufiq

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله

Tanya Jawab
Grup Admin Bimbingan Islam N06
Kamis, 2 Rajab 1438H / 30 Maret 2017M

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS