Berkendara Tanpa SIM atau Menyuap Untuk Membuat SIM?

Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الر حيم
السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Semoga Allah senantiasa merahmati ustadz dan kaum muslimin.

Ustadz, bagaimana hukumnya berkendara di jalan raya tanpa SIM? Apakah itu termasuk bentuk tidak taat pada pemimpin ?

Sedangkan kalau buat SIM harus bayar suap 500 ribu. Tanpa suap, pembuatan SIM dipersulit.

Mana yang harus kita pilih ustadz? Menyuap untuk mendapatkan SIM atau berkendara tanpa SIM?
Jazaakallahu khairan ustadz.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

(Disampaikan oleh Fajar Arifin Admin BIAS N09)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Iya, perbuatan tersebut termasuk bentuk ketidak taatan terhadap penguasa. Syaikh Ibrahim Ar Ruhaili menyatakan :

الصورة الثالثة : أن يأمر فعل مباح أو تركه

فيجب طاعته لذلك لعموم الأدلة الآمرة بطاعته فب غير معصية وهذا ما صرح به العلماء

وقد تقدم قول أبو العباس القرطبي فلو أمر بجائز لصارت طاعته فيه واجبة ولما حلت مخالفاته

,قال زين الدين المناوي وفيه أن الإمام إذا أمر بمندوب أو مباح وجب وكذا إقرار المباركفوري لذلك

“Bentuk yang ketika : Penguasa memerintahkan untuk melakukan sesuatu yang hukumnya boleh atau memerintahkan untuk meninggalkannya.

Maka penguasa wajib ditaati di dalam masalah tersebut berdasarkan keumuman dalil yang memerintahkan untuk mentaati penguasa selama perintahnya tidak mengandung kemaksiatan. Inilah yang ditegaskan oleh para ulama.

Imam Abul Abbas Al-Qurthubi menyatakan : Seandainya penguasa memerintahkan suatu yang boleh, maka perintahnya tersebut menjadi wajib dan tidak boleh diselisihi.

Imam Zainuddin Al-Munawi juga berkata : Di dalamnya terdapat dalil bahwa jika penguasa memerintahkan suatu perkara yang sunnah atau yang boleh maka wajib ditaati. Demikian pulalah yang disepakati oleh Imam Al-Mubarakfuri.”
(Al-Ihkam Fi Sabri Ahwalil Hukkam : 33 oleh Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili).

Adapun suap atau risywah juga merupakan sesuatu yang dilarang di dalam agama, Allah Azza wa Jalla berfirman :

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ

Mereka (orang-orang Yahudi) itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan suht (yang haram).
(QS Al-Maidah : 42).

Imam Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan ayat ini dengan mengatakan, “Ibnu Katsir, Abu Ja’far, dan Ulama Bashrah, dan al-Kisa’i, membaca dengan suhut –dengan huruf ha’ yang didhammahkan -, Ulama lainnya membacanya dengan suht –huruf ha’ dibaca sukun-, artinya haram. (Ayat) ini turun tentang para hakim Yahudi, Ka’ab Al-Asyraf dan semacamnya, mereka menerima suap dan memutuskan hukum untuk memenangan orang yang menyuap mereka”.
(Tafsir Al-Baghawi : 3/58).

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي

Dari Abdullah bin ‘Amr, dia berkata: Rasûlullâh n bersabda, “Laknat Allâh kepada pemberi suap dan penerima suap”.
(HR. Ahmad : 6984, Ibnu Majah : 2313).

Maka dari itu kita harus berusaha mentaati penguasa dengan cara-cara baik yang tidak bertentangan dengan syariat. Meskipun cara tersebut sulit selama masih bisa ditempuh maka kita tetap menempuh cara yang halal.

Hanya saja jika semua persyaratan, berkas-berkas dan segala hal yang dibutuhkan telah kita penuhi. Dan surat itu memang menjadi hak kita namun petugas tetap ngotot tidak mau memberikan hak kita maka ketika itu kita diperkenankan melakukan suap dalam tanda kutip demi untuk mendapatkan hak kita tersebut. Dan ini tidak dimasukkan ke dalam katagori suap sama sekali. Imam Al-Jurjani menyatakan :

الرشوة ما يُعْطَى لإِبْطَالِ حَقٍّ أو لإِحْقَاقِ بَاطِلٍ أما أما إذا أعطي ليتوصل به إلى حق أو ليدفع به عن نفسه ظلما فلا بأس به

Risywah adalah apa yang diberikan dalam rangka untuk membatalkan hak seseorang, atau untuk melegalkan kebatilan. Adapun jika diberikan dalam rangka untuk mendapatkan sesuatu yang menjadi haknya atau dalam rangka untuk melindungi diri dari kezaliman maka tidak mengapa
(Lihat Tuhfatul Ahwadzi Syarah Sunan Tirmidzi : 4/565 bab Ma Jaa Fir Risywah Wal Murtasyi pembahasan hadits no. 1351).

Wallohu A’lam
Wabillahittaufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh:
👤 Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله
📆 Senin, 23 Sya’ban 1440H / 29 April 2019M