Bergaul Dengan Orang yang Tidak SeAgama

Bergaul Dengan Orang yang Tidak SeAgama

Pertanyaan:

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Dalam dunia modern saat ini sudah banyak sekali macam-macam sifat dan karakter manusia yang sering kita jumpai di dunia kerja/masyarakat sekitar

Dalam berteman memang dalam ajaran Islam dianjurkan untuk berteman seagama bahkan sepaham (untuk menjaga diri dari godaan-godaan)

Yang saya tanyakan bagaimana sikap kita jika kita menemui/berbicara pada seseorang yang tidak sepaham / seagama dengan kita ?

karena saya ingin menjalin kedamaian pada semua orang disekitar tapi saya juga takut jika saya dianggap orang yang munafik karena berteman dengan orang yang tidak sepaham/seagama. Demikian terima kasih.

جَزَاك اللهُ خَيْرًا

(Dari Ryan Abu ‘Abdil Ghaniy di Banten Anggota Grup WA Bimbingan Islam N04 G-33)

JAWAB:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Masalah aturan pergaulan dengan non muslim sifatnya kompleks, karena non muslim itu sendiri ada macam-macam, dan kualitas keislaman orang yang bergaul dengan mereka juga tidak sama. Sebisa mungkin batasilah pergaulan dengan orang fasik, apalagi orang kafir. Sebab tabiat manusia ialah ‘beradaptasi’ dan ‘peka terhadap rangsangan’. Sehingga seseorang pasti akan terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya bila ia sering berinteraksi dengan sekitar, baik disadari maupun tidak.

Ingatlah bahwa jika Anda tidak dapat mempengaruhi mereka, maka Anda lah yang terpengaruh. Tidak ada orang yang tidak terpengaruh dengan lingkungannya sama sekali. Sebab itu bertolak belakang dengan kodrat makhluk hidup yang ‘beradaptasi’ dan ‘peka terhadap rangsangan’.

Mungkin Anda tidak akan serta merta mengikuti kefasikan/penyimpangan mereka. Namun ibarat orang yang tidak pernah makan pedas; ia akan sangat kepedasan bila disuguhi keripik Mak Icih level 03. Namun bagi yang setiap hari makan keripik Mak Icih level 03, ia baru kepedasan ketika mencicipi level 06, demikian seterusnya… dan boleh jadi ia tidak lagi kepedasan dengan level 10 sekalipun setelah terbiasa menyantapnya.

Jadi, pilihannya ada pada Anda. Makin sering anda bergaul dengan seseorang, makin banyak pula karakter dan tingkah laku orang tersebut yang anda anggap ‘wajar’ dan ‘biasa’; padahal sebelumnya Anda sangat tidak suka dengannya.

Sekedar berbicara tidak mengapa, asalkan tidak mengandung hal-hal yang melecehkan Islam dalam pembicaraan tersebut, lalu tidak dilakukan dengan lawan jenis dengan saling menatap wajah, namun tetap harus menundukkan pandangan. Demikian pula bermuamalah seperti jual beli, sewa menyewa, bertetangga, dan sebagainya tetap harus mengindahkan aturan syariat, seperti menundukkan pandangan terhadap lawan jenis, tidak berjabat tangan dengan mereka, tidak berikhtilat

(bercampur baur dalam suatu ruangan dalam waktu yang lama) dengan mereka, dan tidak pula menzhalimi mereka dalam muamalah, walaupun kita wajib membenci kekufuran dan kemaksiatan yang mereka lakukan.

Jadi, kekufuran, kemaksiatan, dan penyimpangan mrk harus kita benci selalu; namun pelakunya tidak boleh kita zalimi. Bermuamalah boleh-boleh saja sebatas yang diperlukan, yang berbahaya ialah berteman dan bersahabat dengan mereka, karena berteman konsekuensinya adalah sering berinteraksi sehingga pengaruhnya lebih besar dari sekedar bermuamalah.

Bahkan Allah melarang kita berteman akrab dengan ahli kitab (yahudi dan nasrani), karena mereka tidak pernah menjadi teman setia yang tulus menolong kita. Sejatinya mereka adalah orang-orang yang senantiasa berusaha agar kita mengikuti ajaran mereka. Lihat QS. Al Baqarah: 120 dan Al Maidah: 51.

Demikian. Wallaahu a’lam.

Konsultasi Bimbingan Islam

Dijawab oleh Ustadz Dr. Sufyan Baswedan Lc MA

CATEGORIES
Share This

COMMENTS