Berdakwah kepada Orang Tua

Berdakwah kepada Orang Tua

Pertanyaan :

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ustadz, mohon dijelaskan bagaimana cara mengajarkan agama kepada orang tua yang masih sangat awam?

Jazakalloh Khoir, Ustadz.

(Dari Hamba Alloh Anggota Grup WA Bimbingan Islam).

Jawaban :

وعليكم السلام ورحمة الله وبر كاته

Terima kasih kami haturkan pada penanya, semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk menjadi anak-anak yang berbakti kepada orang tua kita. Sukses meraih ridha Allah dan orang tua hingga ajal menjemput orang tua atau hingga kita menghabiskan sisa usia kita mendahului orang tua kita dalam keadaan mereka ridha kepada kita.

Hemat kami cara efektif untuk mendakwahi orang tua adalah dengan meraih simpati mereka terlebih dahulu, dengan melakukan kebaikan-kebaikan yang dianjurkan agama, kebaikan-kebaikan yang disukai orang tua.

Dengan sering memberi hadiah kepada mereka, berlemah lembut kepada mereka ketika berbicara, mendampingi mereka dalam berbagai kesempatan, membantu pekerjaannya, melaksanakan perintahnya selama itu baik meski kita waktu itu sedang malas, singkirkan malas itu, keraherahkan daya upaya maupun harta untuk membahagiakan mereka.

Jangan pernah kita berfikiran akan bangkrut ketika memberi hadiah kepada mereka berdua. Jangan pernah berfikir mereka membenci kita ketika mereka memarahi kita, jangan pernah berani mengangkat suara di hadapan mereka, jangan menampakkan muka masam atau tidak suka ketika berhadapan dengan mereka, muliakan kedua orang tua kita semaximal mungkin.

Bukankah ini semua ajaran agama kita ? bukankah ini perintah Allah ? bukankah ini titah rasul kita yang mulia shalallahu ‘alaihi wa sallam ? Mari sejenak kita renungkan betapa agungnya jasa ibu kita kepada kita melalui riwayat berikut ini :

حَدَّثَنَا حَدَّثَنَا آدَمُ ، قَالَ : حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ، قَالَ : حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي بُرْدَةَ ، قَالَ : سَمِعْتُ أَبِي يُحَدِّثُ ، ” أَنَّهُ شَهِدَ ابْنَ عُمَرَ ، وَرَجُلٌ يَمَانِيٌّ يَطُوفُ بِالْبَيْتِ ، حَمَلَ أُمَّهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ ، يَقُولُ : ” إِنِّي لَهَا بَعِيرُهَا الْمُذَلَّلُ إِنْ أُذْعِرَتْ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرِ ، ثُمَّ قَالَ : يَا ابْنَ عُمَرَ ، أَتُرَانِي جَزَيْتُهَا ؟ قَالَ : لا ، وَلا بِزَفْرَةٍ وَاحِدَةٍ ” .

“Mengatakan kepadaku Adam, mengatakan kepadaku Syu’bah, mengatakan kepadaku Sa’id bin Abi Burdah ia berkata, aku mendengar ayahku berkata bahwasanya beliau melihat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma sedang di sana ada seorang lelaki dari negri Yaman tawaf mengelilingi ka’bah sambil menggendong ibunya di atas punggunya sembari bersyair :

Sesungguhnya aku adalah onta hina yang sangat patuh bagi ibuku.
Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.

Orang itu lalu bertanya kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas budi baiknya kepadaku ?”.

Ibnu Umar menjawab ; “Belum, engkau belum membalasa budi baiknya meski hanya setarik napas yang keluar dari lisan ibumu ketika melahirkan engkau”. (Shahih Adabul Mufrad : 9).

Apabila kita sudah berhasil meraih simpati orang tua, baru kemudian kita memulai dakwah kita dengan santun. Kita tunjukkan bahwa semakin orang dekat dengan agama, maka ia semakin berkahlak mulia. Dan dakwah itu tidak mesti dengan berdebat, tidak mesti dengan mengajari, tidak mesti dengan menyakiti hati.

Diantara cara dakwah terhadap orang tua ialah (tentunya setelah kita berhasil meraih cinta orang tua kita) dengan membelikan buku-buku agama, atau memutar ceramah-ceramah agama, atau dengan membelikan parabola sehingga mereka bisa menyaksikan channel-channel islami yang bermanfaat.

Dengan mengajak mereka menghadiri pengajian-pengajian islam, dengan mengajak mereka berkunjung silaturrahim ke rumah tokoh agama, mengenalkan beliau berdua kepada ustadz yang ahli di dalam berdakwah, dan seterusnya.

Kemudian hendaknya kita sadar bahwa Allah lah satu-satu Zat yang maha membolak-balikkan hati manusia dan jin seluruhnya. Jangan tertipu dengan keahlian kita berdakwah, jangan ujub diri, namun kita sertai setiap langkah dakwah kita dengan mendoakan kebaikan bagi kedua orang tua kita dengan tulus ikhlas. Kita minta pada Allah agar menyayangi keduanya sebagaimana dahulu kedu aorang tua kita menyayangi kita di waktu kita masih kecil.

Bayangkan bagaimana orang tua menyayangi anak bayinya, menimangnya, menciumnya, membersihkan kotorannya, mencintainya dengan cinta yang luar biasa, sukar tuk diungkapkan dengan kata-kata hingga ia tak rela seekor nyamuk pun mengganggu buah hatinya. Minta dan mohonkan kasih sayang seperti itu dari Allah untuk kedua orang tua kita. Terakhir kami nukilkan fatwa dari Al Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz seputar cara mendakwahi orang tua diantaranya beliau menyebutkan dengan meminta bantuan dari orang yang disegani oleh orang tua kita ;

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjawab kegamangan seorang anak atas tindakan maksiat yang ia lihat pada bapaknya.
Beliau berkata:

“Semoga Allâh Azza wa Jalla memberi hidayah dan kemauan bertaubat bagi bapakmu. Kami berpesan agar engkau tetap berlaku lembut kepadanya dan menasehatinya dengan cara halus, tidak pernah putus asa dalam rangka menunjukkannya kepada hidayah. Allâh Azza wa Jalla berfirman : “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (Luqmân : 14-15). (Pada ayat di atas) Allâh Azza wa Jalla berwasiat supaya mensyukuri kedua orang tua. Perintah ini ternyata dipadukan dengan perintah bersyukur kepada-Nya. Ayat itu juga memerintahkan anak agar mempergauli mereka di dunia ini dengan cara-cara yang baik, kendatipun mereka memaksa berbuat kufur. Melalui ayat di atas, engkau tahu bahwa sikap yang diperintahkan syariat dalam kondisi ini (memaksa anak berbuat kufur, red) adalah agar seorang anak tetap menjalin hubungan dengan orang tua dengan cara-cara yang baik, berbuat baik kepada mereka meski mereka berbuat jelek kepadanya, serta gigih mengajak mereka kepada kebenaran. Semoga Allâh Azza wa Jalla memberi hidayah baginya melalui tanganmu. Engkau tidak boleh menaatinya dalam Kemaksiatan. Kami juga berpesan setelah memohon pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla, supaya engkau juga meminta bantuan orang-orang shaleh dari kalangan kerabatmu dan paman-pamanmu dan pihak lainnya, yaitu orang-orang yang sangat dihormati dan dimuliakan oleh ayah. Mungkin saja, beliau akan lebih mudah menerima nasehat mereka”. (Majmû Fatawa Syaikh  Ibnu Bâz : 9/313).

Wallahu a’lam

Referensi :
Shahih Adabul Mufrad oleh Al Imam Al-Albani
Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz oleh Al-Imam Ibnu Baz.

Konsultasi Bimbingan Islam
Ustadz Abul Aswad Al Bayati

CATEGORIES
Share This

COMMENTS