https://socialbarandgrill-il.com/ situs togel dentoto https://dentoto.cc/ https://dentoto.vip/ https://dentoto.live/ https://dentoto.link/ situs toto toto 4d dentoto https://vlfpr.org/ http://jeniferseo.my.id/ https://seomex.org/ omtogel https://omtogel.site/ personal-statements.biz https://www.simt.com.mk/ https://www.aparanza.it/ https://vivigrumes.it/ https://interpolymech.com/ https://frusabor.com/ https://www.aparanza.it/ https://www.ibcmlbd.com/ https://uhra.com.ua/ https://www.newdayauctions.com/ https://chai-sacco.co.ke/
Bekerja Di Rumah Sakit Yang Melayani Asuransi, Gajinya Halal?
Muamalah

Bekerja Di Rumah Sakit Yang Melayani Asuransi, Gajinya Halal?

Bekerja Di Rumah Sakit Yang Melayani Asuransi, Gajinya Halal?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan pembahasan tentang bekerja di rumah sakit yang melayani asuransi, gajinya halal? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalamuallaikum warahmatullahi wabaraktuh. Semoga ustadz dan tim Mahad Bimbingan Islam sehat dan semoga Allah subhanahu wataalla merahmati. Afwan, saya dokter bekerja di RS yang melayani asuransi. Setahu saya asuransi itu haram. Bagaimana status gaji saya? Jazakallahu khairan. Wassalamuallaikum warahmatullahi wabarakatuh.

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Waalaikumslam warahmatullah wabarokatuh.

Aamiin, semoga Allah mengumpulkan kita semua di dalam surgaNya.

Hukum Bekerja Di Rumah Sakit

Insyaallah gaji yang diterima dari pekerjaan yang hukum asal pekerjaan tersebut halal/boleh maka tidak berefek dengan apa yang didapatkan, terlebih adanya sistem yang memaksa suatu lembaga untuk menjalankannya.

Dasar hukum ini mengacu kepada sikap Rasulullah sallahu alaihi wasallam bermuamalah dengan orang Yahudi, di mana mereka terkenal dengan kecurangan dan seringnya bekerja dengan masalah riba dalam transaksi mereka.

Juga sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Ibnu Utsaimin dalam satu fatwanya, yang dinukilkan oleh Web Islam no 429862, ketika beliau ditanya terkait dengan kebutuhan seseorang, yang akan mendapatkan bantuan dari orang tuanya yang bertransaksi dengan riba dari salah satu bank.

Apakah diperbolehkan untuk mengambilnya apa tidak? Padahal ia membutuhkannya. Kemudian beliau menjawab dan memberikan kaidah penting untuk kita coba pahami. Beliau menjelaskan,”

– “أحب أن أعطي الأخ السائل والقراء قاعدة مفيدة، وهي: ما حرم لكسبه؛ فهو حرام على الكاسب فقط. وأما ما حرم لعينه؛ فهو حرام على الكاسب وغيره.

Random Ad Display

مثال على ذلك: لو أن أحداً أخذ مال شخص بعينه، وأراد أن يعطيه آخر لبيع أو هبة. قلنا: هذا حرام؛ لأن هذا المال محرم بعينه.

أما الكسب الذي يكوDن محرما كالكسب عن طريق الربا، أو عن طريق الغش أو ما أشبه ذلكفهذا حرام على الكاسب، وليس حراما على من أخذه بحق. ودليل هذا أن النبي عليه الصلاة والسلام، كان يقبل من اليهود، ويجيب دعوتهم، ويأكل من طعامهم، ويشتري منهم، ومعلوم أن اليهود يتعاملون بالربا؛ كما ذكر الله عنهم في القرآن.

وبناء على هذه القاعدة، أقول لهذا السائل: خذ جميع ما تحتاجه للزواج من مال أبيك؛ فهو حلال لك وليس حراما. من فتاوى إسلامية.

“Saya ingin berikan kepada saudara penanya dan pembaca suatu kaidah yang bermanfaat, yaitu: Apa yang diharamkan dalam mendapatkannya, maka hanya haram buat si pelakunya saja. Adapun sesuatu yang diharamkan karena dzat bendanya maka diharamkan buat pelakunya dan selainnya. Misalnya, bila seseorang mengambil harta orang lain dengan dzat tersebut, dan ingin memberikan kepada yang lainnya dengan cara jual beli ataupun hadiah, maka kita katakan, ini adalah haram karena dzat barang tersebut haram. Adapun hasil usaha yang diharamkan seperti usaha dari cara riba atau dari cara menipu dan semisalnya, maka ini haram buat pelakunya dan tidak haram bagi orang yang mengambil/mendapatkannya dengan cara yang benar. Dalilnya bahwa nabi `alaihi sholatu wasallam bertransaksi dengan orang Yahudi yang melakukan transaki riba, sebagaimana yang telah Allah sebutkan di dalam Al-Quran. “

Dan senada dengan hal terebut, apa yang telah dijelaskan oleh syekh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ta`ala,”

الأصل الثاني: أن المسلم إذا عامل معاملة يعتقد هو جوازها، وقبض المال، جاز لغيره من المسلمين أن يعامله في مثل ذلك المال. وإن لم يعتقد جواز تلك المعاملة. انتهى من مجموع الفتاوى.

“Kaidah yang kedua: bahwa seorang muslim bila melakukan transaksi yang diyakini tentang kebolehannya, dan telah ia terima harta tersebut, maka boleh buat selainnya dari kaum muslimin untuk melakukan transaksi semisal dengan harta tersebut, walaupun ia tidak yakin dengan kebolehan transaksi (awal dari perolehan harta sebelumnya) tersebut.” Majmu Fatawa.

Walaupun bila bisa menghindari dari sumber-sumber yang tidak jelas atau jelas keharamannya sebagai ketegasan sikap untuk tidak membantu suatu lembaga/pihak yang bertransaksi dengan hal haram/syubhat maka tentunya itu yang lebih utama/baik. Bila tidak memungkinkan, maka hasil/gaji yang diperoleh tetap halal, insyaallah.

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Jum’at, 25 Rabiul Awal 1444 H/ 21 Oktober 2022 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di sini

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Artikel Terkait

Back to top button