Ibadah

Begini, Tanda Diterimanya Suatu Amalan!

Pendaftaran Grup WA Madeenah

Begini, Tanda Diterimanya Suatu Amalan!

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Begini, Tanda Diterimanya Suatu Amalan! selamat membaca.

Pertanyaan:

Bismillahirrahmanirrahim. Ustadz ana mau tanya Fadhilatus-Syaikh Shalih bin Sa’ad as-Suhaimi hafizhohullah berkata: “Sungguh saya sangat sedih tatkala ketika membaca ucapan Ibnu Utsaimin rahimahullohu : “Apabila engkau memandang dirimu malas dalam melaksanakan ketaatan (kepada Allah), maka hati-hatilah !! KEMUNGKINAN ALLAH TIDAK SUKA KETAATANMU” Bagaimana dengan pelaku ahli bidah dia sangat disiplin melakukan ketaatan amalan bidah ? Barakallahufiik

Ditanyakan oleh Santri Mahad Bimbingan Islam


Jawaban:

Bismillah

Perlu dilihat lebih cermat kembali dengan apa yang dikatakan oleh syekh Ibnu Utsaimim dan syekh Shalih Suhaimi dengan kalimat tersebut.

Yang kami pahami bahwa arah kalimat tersebut ditujukan kepada orang yang telah melakukan amal ibadah yang sesuai dengan syaria`t untuk lebih meningkatkan amal ibadahnya dan selalu mengevaluaasi setiap amal yang dilakukan, apakah diterima atau tidak.

Sebagaimana sifat seorang mukmin yang selalu takut kalau seandainya amal ibadahnya tidak diterima oleh Allah ta`ala. Sebagaimana para ulama salaf terdahulu begitu semangat untuk menyempurnakan amalan mereka, kemudian mereka berharap-harap agar amalan tersebut diterima oleh Allah dan khawatir jika tertolak. Merekalah yang disebutkan dalam firman Allah,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.” (QS. Al Mu’minun: 60)

‘Aisyah mengatakan,

يَا رَسُولَ اللَّهِ (وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ) أَهُوَ الرَّجُلُ الَّذِى يَزْنِى وَيَسْرِقُ وَيَشْرَبُ الْخَمْرَ قَالَ « لاَ يَا بِنْتَ أَبِى بَكْرٍ – أَوْ يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ – وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيَتَصَدَّقُ وَيُصَلِّى وَهُوَ يَخَافُ أَنْ لاَ يُتَقَبَّلَ مِنْهُ ».

“Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksudkan dalam ayat “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut”, adalah orang yang berzina, mencuri dan meminum khomr?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Wahai putri Ash Shidiq (maksudnya Abu Bakr Ash Shidiq, pen)! Yang dimaksud dalam ayat tersebut bukanlah seperti itu. Bahkan yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah orang yang yang berpuasa, yang bersedekah dan yang shalat, namun ia khawatir amalannya tidak diterima.” [HR. Tirmidzi dan Ahmad. Dishahihkan oleh Al Hakim dan disetujui oleh Adz Dzahabi.]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Diterimanya suatu amalan berkaitan dengan melakukan sesuatu sesuai dengan yang diperintahkan. Setiap orang yang bertakwa pada Allah ketika ia beramal, maka ia akan melakukan sebagaimana yang diperintahkan. A

Akan tetapi ia tidak bisa memastikan sendiri bahwa amalan yang ia lakukan diterima di sisi Allah karena ia tidak bisa memastikan bahwa amalan yang ia lakukan sudah sempurna.” [Al Iman, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 348-349, Al Maktab Al Islamiy, cetakan kelima, tahun 1416 H.)

Itulah yang membuat para salaf begitu khawatir dengan tidak diterimanya amalan mereka karena mereka sendiri tidak bisa memastikan sempurnanya amalan mereka.

‘Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Mereka para salaf begitu berharap agar amalan-amalan mereka diterima daripada banyak beramal. Bukankah engkau mendengar firman Allah Ta’ala,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Ma-idah: 27)

Dari Fudholah bin ‘Ubaid, beliau mengatakan, “Seandainya aku mengetahui bahwa Allah menerima dariku satu amalan kebaikan sebesar biji saja, maka itu lebih kusukai daripada dunia dan seisinya, karena Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Ma-idah: 27)

Ibnu Diinar mengatakan, “Tidak diterimanya amalan lebih ku khawatirkan daripada banyak beramal.”

Abdul Aziz bin Abi Rowwad berkata, “Saya menemukan para salaf begitu semangat untuk melakukan amalan sholih. Apabila telah melakukannya, mereka merasa khawatir apakah amalan mereka diterima ataukah tidak.”

Disi lain, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama bahwa diantara tanda diterimanya suatu amalan adalah bahwa keadaan nya semakin membaik , sehingga akan semakin semangat dan rajin, bukan semakin malas.

Dengan keadaan seseorang malah semakin malas bisa diartikan bahwa amalannya bisa jadi tidak diterima, karena diantara tanda diterima suatu amalan bila amalan tersebut melahirkan amalan baik lainnya dan menjadiakan peningkatan dari keadaan dari yang sebelumnya.

Insyaallah makna itu yang dimaksudkan dari penjelasan para ulama diatas, tidak terkait dengan dasar amalan seorang muslim yang harus memenuhi syarat ikhlas dan mengikuti aturan/syariat islam.

Salah seorang ulama salaf mengatakan,

من ثواب الحسنة الحسنة بعدها ، ومن جزاء السيئة السيئة بعدها

Diantara ganjaran amal shalih adalah amal shalih setelahnya. Dan diantara ganjaran dosa adalah dosa setelahnya.

Karena bila dikaitkan dengan semangat dalam menjalankan sesuatu, tidak menjamin bahwa semangat menjadi pembenar dari suatu amalan. Karena terkadang seseorang termotivasi dengan hal yang kurang baik dalam menjalankan suatu pekerjaan, misalnya seseorang semangat belajar karena riya, karena harta dan sebagainya.

Atau seseorang semangat melakukan kemungkaran, apakah kita akan katakan bahwa amalannya tersebut menjadi baik.? tentunya tidak. Maka baik buruknya sesuatu terutama di dalam ibadah adalah terkait dengan cara yang dilakukan dan niatan yang mendorong untuk melakukan, keduanya ini harus ada dan sebagai dasar sah baik dan benar tidaknya suatu amalan.

Sekali lagi, karena kepastian diterima amalan seorang hamba ada di tangan Allah, setelah seorang menjalankan suatu amalan yang dhohirnya telah sesuai aturan/syariat, sebagaimana perkataan Fudhail bin ‘Iyadh,

الله لا يقبل مِن العمل إلا أخلَصَه وأصوَبَه، فأخلَصُه ما كان لله خالصًا، وأصوبُه ما كان على السُّنَّة

“Sesungguhnya Allah tidaklah menerima amal kecuali amal tersebut ikhlas karena Allah dan mengikuti tuntunan Nabi”.

Bila seseorang belum mendapatkan jaminan diterima padahal telah melakukan sesuai dengan syarat secara dhahirnya, lalu bagaimana terhadap amalan yang syaratnya belum sesuai aturan?. Semoga Allah menunjukan kepada kita hidayahNya untuk selalu menjalankan ketaataan yang di perintahkan dan diridhaiNya.

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Ahad, 10 Syawwal 1444H / 30 April 2023 M 


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button
situs togel situs togel https://getnick.org/ toto togel https://seomex.org/ situs togel dentoto dentoto dentoto dentoto dentoto dentoto dentoto situs togel situs toto situs togel bandar togel https://robo-c.ai/ http://satisfieddegree.com/ http://e-bphtb.pandeglangkab.go.id/products/