Adab & Akhlak

Begini Cara Terbaik Menasehati Orang Tua, Jangan Seperti Itu!

Begini Cara Terbaik Menasehati Orang Tua, Jangan Seperti Itu!

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan begini cara terbaik menasehati orang tua. Selamat membaca.


Pertanyaan:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustadz, bagaimana menyikapi orang tua yang mendiamkan kita (marah) hingga berwajah masam karena dinasihati oleh anaknya? Padahal kita sebagai anak selalu berbicara sebaik mungkin agar tidak menyinggung.

Qadarullah, ana setiap kali memberitahu salah satu orang tua tentang perkara agama, beliau selalu langsung mendiamkan ana dan berwajah masam setelah sebelumnya mencari pembenaran dari apa yang dilakukannya (padahal apa yang dilakukannya salah, seperti menganggap/mempercayai zodiak).

Jika sudah seperti itu ana juga hanya bisa diam, tak berani berbicara lagi, terlebih ana juga tak mau jika harus berdebat. Syukran wa barakallaahu fiiykum.

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh

Cara terbaik menasihati orang tua adalah memperbaiki akhlak dan menampakkan adab yang mulia dan budi pekerti luhur kepada orang tua, tingkatkan bakti kepada orang tua.

Kesalahan biasanya yang terjadi ketika orang tua kita nasihati, kita merasa di atas angin, plus kurang kasih sayang dan cinta ketika berucap, sebaliknya pada kesempatan lain kadang sebagai anak kita tidak mau mendengarkan nasihat orang tua, orang tua minta tolong kita melakukan suatu hal yang mubah, kita masih sering malas mengerjakan, atau kurang tata krama ketika menasihati orang tua dan hal lainnya.

Baca Juga:  Bolehkah Membalas Orang yang Menzalimi Kita?

Ingat wahai saudaraku, menasihati itu juga perlu kesabaran yang indah dan kelembutan ditambah keyakinan bahwa hidayah hanyalah berada di tangan Allah Ta’ala. Terlebih jika nasihat tersebut ditujukan kepada orang tua.

Jangan pernah merasa kalau orang tua susah dinasihati, mereka membalas dengan kasar, lalu kita kesal, jengkel, marah dan sebagainya. Ingat, betapa sabarnya dulu orang tua kita mengajarkan dan mendidik kita tanpa ada rasa putus asa.

Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman :

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang tuamu, hanya kepada-Ku kalian akan kembali.”

(QS. Luqman: 14)

Kemudian, perbanyak do’a kepada Allah, hidayah tidak berada di tangan anda, hidayah murni hak prerogatif Allah Ta’ala, seringkali, kita memberikan nasihat tapi selalu lupa mendoakan di sepertiga malam terakhir, di saat sujud, dan waktu-waktu mustajab lainnya.

Seringkali kita terlalu fokus kepada penolakan yang ditampakkan, lupa jika Allah lah yang membolak-balikkan hati seorang hamba.

Dari sahabat Muadz radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللَّهِ بِالدُّعَاءِ

Sesungguhnya doa itu bermanfaat (memberi kebaikan) untuk yang sudah turun (terjadi) dan yang belum terjadi. Karena itu, (perbanyaklah) berdoa, wahai hamba Allah, …”

(HR. Ahmad, no. 22044, Tirmidzi, no. 3548 dan lainnya, dinilai sebagai hadits Hasan oleh Ahli Hadits al-Albani).

Kemudian, untuk perkara-perkara Sunnah atau hal yang dianjurkan, tidak perlu kita bersikeras memaksakannya kepada orang lain, jika Allah Ta’ala saja tidak mengharuskan hamba-Nya untuk melakukan hal tersebut, kenapa kita yang malah mengharuskan orang untuk mengerjakannya, lebih khusus orang tua kita?

Ajak dan nasihati, itu sebuah kebaikan, tapi jangan jadikan hal tersebut membuat kita kesal dengan orang lain, karena itu bukanlah sebuah kemungkaran. Cara menasihatinya juga bisa variatif tergantung kesalahan orang tua tersebut.

Dan tergantung sejauh mana pengaruh si anak di mata orang tuanya. Minimal dengan mendoakan dan tetap berbakti kepada orang tua selama tidak disuruh melakukan maksiat.

Mudah-mudahan dengan cara seperti itu orang tua kan terketuk hatinya untuk mendengar dan mengikuti nasihat anaknya.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag.
حفظه الله
Selasa, 4 Muharram 1443 H/ 2 Agustus 2022 M


Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

Ustadz Fadly Gugul, S.Ag

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2012 – 2016 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Takhosus Ilmi di PP Al-Furqon Gresik Jawa Timur | Beliau juga pernah mengikuti Pengabdian santri selama satu tahun di kantor utama ICBB Yogyakarta (sebagai guru praktek tingkat SMP & SMA) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Dakwah masyarakat (kajian kitab), Kajian tematik offline & Khotib Jum’at

Related Articles

Back to top button