FiqihWanita

Begini Cara Mengetahui Darah Haid Atau Bukan!

Begini Cara Mengetahui Darah Haid Atau Bukan!

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan begini cara mengetahui darah haid atau bukan! Selamat membaca.


Pertanyaan:

Bismillaah. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Semoga ustadz dan para santri selalu dalam lindungan Allaah. Darah yang keluar setelah masa haid selesai – (keluar setelah beberapa hari suci), apakah darah tersebut juga disebut darah istihadhah, dan bagaimana hukum dan menyikapinya? Apabila darah tersebut mengenai pakaian dalam, cukupkah dengan membersihkan dengan tissue atau harus menggantinya jika hendak sholat?

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Waalaikumslam warahmatullah wabarokatuh.

Aamiin, semoga Allah berikan juga kebahagiaan kepada kita semua.

Alhamdulillah. Seorang wanita, hendaknya mengetahui kebiasaan haidnya, bila ia telah mengetahui waktu kebiasaan haidnya dan melihat bahwa haidnya telah selesai sempurna (sesuai siklus waktu kebiasaannya), lalu ia melihat cairan kekuningan atau keruh, maka cairan tersebut tidak perlu dianggap sebagai darah haid, sehingga ia tetap harus melakukan shalat.

Berdasarkan hadits Ummu Athiyah radhiallahu anha yang berkata,

كنا لا نعد الصفرة والكدرة بعد الطهر شيئا

“Kami dahulu tidak menganggap (haid) sedikit pun cairan kekuningan dan keruh setelah masa suci.” (HR. Bukhari, 1/426)

Adapun jika cairan kekuningan dan keruh tersebut keluar masih pada masa haid, maka darah tersebut dianggap darah haid. Semisal, bila kebiasaan seseorang misalnya tujuh hari, lalu pada hari kelima darah berhenti keluar dan ia melihat cairan kekuningan dan keruh, maka hal itu dianggap haid, ia masih tidak boleh shalat dan puasa.

Baca Juga:  HUKUM JUAL BELI SISTEM INDEN

Hal di atas, bila seorang wanita mendapatkan haidnya normal/seperti biasa/mu`tadah yang sesuai siklus waktunya.

Namun bila ia mendapatkan tidak seperti biasanya, di luar hari kebiasaan harinya maka jika permasalahan tersebut sering terjadi/ berulang-ulang setiap bulannya, darah keluar tidak menentu, maka kapan pun darah terhenti hendaknya ia mandi untuk bersuci.

Atau ketika ia mendapatkan tetesan darah sedikit dan tidak bersifat rutin, hanya kadang-kadang saja, serta bukan darah murni seperti ciri/sifat darah haid, sekadar cairan kekuningan dan keruh, maka keberadaannya dianggap tidak ada, hendaknya ia mandi untuk bersuci.

Imam Nawawi –rahimahullah- berkata:

“Tanda berakhirnya haid dan keberadaan masa sucinya, bahwa keluarnya darah dan flek kekuningan dan kecoklatan akan terhenti, jika sudah terhenti maka seorang wanita dianggap sudah suci, meskipun setelahnya keluar cairan bening atau tidak”. (Al Majmu’: 2/562)

Disebutkan dalam Fatawa Lajnah Daimah (4/222) jilid 2 ketika ditanya:

“Kami mengetahui bahwa masa suci itu bisa diketahui dengan dua kondisi; mengeringnya daerah kewanitaan dahulu atau cairan bening, masalah saya adalah saya sudah mendapatkan daerah kewanitaan saya mengering kemudian setelah beberapa hari saya melihat cairan bening, kadang-kadang saya mendapati cairan bening kemudian setelah itu flek kecoklatan dan kekuningan”.

Baca Juga:  Peranan Sosial dan Kedudukan Wanita

Mereka menjawab:

“Jika seorang wanita yang sedang haid telah mendapatkan masa suci dengan sempurna, dan telah mandi besar, maka dia tidak perlu menghiraukan apa yang terjadi setelahnya seperti; flek kecoklatan dan kekuningan, berdasarkan perkataan Ummu Athiyah –radhiyallahu ‘anha- :

( كنا لا نعد الكدرة والصفرة بعد الطهر شيئاً)

“Kami dahulu tidak menganggap flek kekuningan dan kecoklatan setelah bersuci mempunyai dampak apa pun”.

Adapun jika flek kecoklatan dan kekuningan terjadi di masa haid, maka seorang wanita tidak boleh terburu-buru untuk mandi besar; karena flek kecoklatan yang bersambung dengan darah haid, menjadi bukti bahwa haid belum selesai; oleh karena itu Ummu Athiyah berkata: “Setelah bersuci” maka hal itu menunjukkan bahwa flek kekuningan dan kecoklatan sebelum benar-benar suci, tetap berpengaruh, maka hal itu menjadi bukti bahwa haid belum selesai.

Dalam keadaan seseorang tidak mengetahui siklus haid rutinnya karena baru pertama haid atau lama tidak haid kemudian muncul kembali maka hendaknya ia menunggu selama 15 hari. Akan dianggap sebagai darah haid bila masih melihat darah dalam masa waktu ini, dengan sifat/ciri darah haid. Bila darah berhenti dan tidak melihat darah keluar kurang dari 15 hari, hendaknya ia mandi.

Baca Juga:  Hukum Berdandan Untuk Menjaga Nama Baik Suami

Begitu pula, dengan batasan maksimal haid adalah 15 hari, darah yang masih keluar di atasnya maka darah tersebut di katakan darah istihadah, maka hendaknya ia tetap mandi bersuci karena darah tersebut adalah darah istihadhah, menurut jumhur ahli fikih”.

Sehingga, hendaknya seorang wanita terlebih dahulu harus mengenali sifat darah haid dan darah selainnya, begitu pula harus mengetahui jadwal/siklus haid yang biasa dialami bila bukan haid yang pertama.

Bila siklus normal, darah/flek keluar masih di dalam siklus tersebut, maka darah yang keluar adalah darah haid. Sehingga ke depannya harus berhati hati supaya tidak tergesa gesa menyudahi masa haidnya.

Bila di luar waktu kebiasaan, ada beberapa keadaan:

Dengan melihat sifat darah yang keluar, bila terlihat jelas bahwa sifat darah adalah darah haid, maka ia adalah darah haid, selama tidak melebihi 15 hari.

Dan bila hanya berwarna keruh/kekuning kuningan melebihi hari yang dulunya pernah dialaminya maka darah tersebut tidak dianggap, hendaknya ia bersuci dan shalat.

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Selasa, 18 Muharram 1443 H/ 16 Agustus 2022 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik disini

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid
Back to top button