ArtikelFiqih

Batas Waktu Akhir Solat Isya

Batas Waktu Akhir Solat Isya

Kapan waktu Isya berakhir, kapankah batas waktu akhir shalat isya?

Alhamdulillah, was solatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du.

Solat 5 waktu adalah salah satu bagian dari rukun islam yang wajib untuk ditunaikan oleh seorang muslim yang sudah baligh, dan berakal. Penunaian solat 5 waktu tersebut tidaklah akan menjadi benar dan sah kecuali kita sudah memenuhi syarat-syarat dan rukun-rukunnya dengan baik, dan diantara syarat sah menunaikan solat adalah mengetahui masuk dan keluarnya waktu solat dengan baik dan tepat.

Pada kesempatan kali ini, kita akan mengenal kapan batas waktu akhir untuk solat isya, namun sebelum mengetahui waktu akhirnya kapan, tidak ada salahnya kita mengetahui kapan waktu permulaannya terlebih dahulu.

Awal waktu solat isya

Awal mula waktu solat isya adalah ketika hilangnya cahaya senja di sore hari, maksudnya adalah cahaya senja berwarna merah di langit selepas matahari tenggelam, jika telah hilang total maka masuklah waktu solat isya, dan ini adalah pendapat mayoritas ulama dari kalangan Malikiah, Syafiiyah, Hanabilah, Dhohiriah, dan sebuah riwayat dari Abu Hanifah.
Salah satu landasan dalilnya hadist Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam:

ووقتُ صلاةِ المغربِ إذا غابتِ الشمسُ، ما لم يَسقُطِ الشفقُ

“Waktu solat maghrib dimulai ketika matahari tenggelam selagi cahaya senja belum jatuh (hilang)”. (H.R Muslim)

Hadist tersebut menunjukkan bahwa waktu maghrib dimulai dari semenjak matahari tenggelam sampai hilangnya cahaya senja merah di langit sebagai batas akhir waktu maghrib. Jika maghrib telah selesai, menunjukkan telah masuknya waktu isya, dan itu diawali dengan hilangnya cahaya senja.

Akhir waktu solat isya

Adapun waktu akhir solat isya, para ulama berbeda pendapat, sebagian ulama berpendapat bahwa waktu isya berakhir di pertengahan malam (pertengahan antara dari tenggelamnya matahari sampai terbitnya fajar), dan sebagian ulama yang lain yaitu jumhur/mayoritas ulama berpandangan bahwa waktu isya dimulai semenjak cahaya merah senja hilang sampai sebelum terbit fajar sodiq.
Berkata Imam Ibnu Qudamah al-Hanbali:

Baca Juga :  Menggunakan Pewangi untuk Pakaian Ihram

والأولى إن شاء الله تعالى أن لا يؤخرها عن ثلث الليل، وإن أخرها إلى نصف الليل جاز، وما بعد النصف وقت ضرورة، الحكم فيه حكم وقت الضرورة في صلاة العصر، على ما مضى شرحه وبيانه، ثم لا يزال الوقت ممتداً حتى يطلع الفجر الثاني

“Yang utama in sya Allah adalah dengan tidak mengakhirkan solat isya dari sepertiga malam pertama, namun jika diakhirkan sampai pertengahan malam masih boleh. Waktu selepas pertengahan malam termasuk kategory waktu darurat, hukum yang berlaku di dalamnya sepertihalnya hukum waktu darurat pada solat ashar sebagaimana yang telah lalu syarah dan penjelasannya. Kemudian waktu solat subuh masih terbentang sampai terbitnya fajar kedua (sodiq)” .

Dalam madzhab hanbali, untuk waktu solat ashar dan solat isya ada istilah waktu ikhtiyar dan waktu darurat, waktu ikhtiyar untuk solat ashar adalah dimulai semenjak masuk solat ashar dan berakhir ketika tampak langit mulai menguning. Adapun semenjak langit mulai menguning sampai matahari sebelum tenggelam masuk kategori waktu darurat.

Untuk solat isya, waktu ikhtiyar adalah semenjak senja merah menghilang sampai akhir sepertiga malam pertama atau setengah malam, adapun setelah pertengahan malam sampai sebelum fajar sodiq adalah waktu darurat.

Yang dimaksud dengan dua ungkapan tersebut adalah bahwa waktu ikhtiyar adalah waktu pelaksanaan solat dimana seseorang mendapat pilihan untuk melaksanakannya, dan tidak ada dosa jika melakukan solat tersebut baik di awal waktu ikhtiyar, pertengahannya ataupun akhirannya walau tanpa udzur.

Adapun untuk waktu darurat adalah waktu dimana masih boleh melakukan solat dan tidak mendapatkan dosa jika solat dilakukan di waktu tersebut karena ada udzur (sakit, lupa, ketiduran,dll). Namun jika melakukan solat di waktu darurat tanpa udzur, solatnya masih sah tetapi pelakunya berdosa, demikian perbedaan makna dan konsekuensi dari waktu ikhtiyar dan waktu darurat menurut hanabilah.

Kembali pada kutipan ulama yang menyatakan bahwa isya waktu akhirnya adalah sampai terbit fajar, diantara yang berpendapat demikian selain madzhab hanbali adalah Imam al-Kasani al-Hanafi, beliau berkata:

وأما آخر وقت العشاء فحين يطلع الفجر الصادق عندنا

“Adapun akhir waktu solat isya menurut kami (ulama hanafiah) adalah ketika terbit fajar sodiq (subuh)”.

Al-Imam al-Nawawi al-Syafii juga berpendapat demikian, beliau berkata:

فإذا ذهب وقت الاختيار بقي وقت الجواز إلى طلوع الفجر الثاني، هذا هو المذهب، نص عليه الشافعي وقطع به جمهور أصحابنا المتقدمين والمتأخرين

“Jika telah berlalu waktu ikhtiyar untuk solat isya, masih tersisa waktu jawaz (boleh) sampai terbit fajar kedua (sodiq), inilah pendapat dalam madzhab (syafii), ditegaskan oleh imam Syafii dan dipastikan oleh para ulama kami yang terdahulu maupun belakangan”.

Salah satu dalil yang dijadikan landasan oleh para ulama tersebut adalah hadist berikut, bahwa Rasul sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أمَا إنَّه ليس في النومِ تفريطٌ، إنَّما التفريطُ على مَن لم يُصلِّ الصَّلاةَ حتى يَجيءَ وقتُ الصَّلاةِ الأخرى

“Sejatinya tertidur dari solat itu bukanlah bentuk kelalaian, namun kelalaian itu adalah bagi orang yang sengaja tidak solat sampai masuk waktu solat yang lainnya”. (H.R Muslim)

Dalam hadist tersebut menunjukkan bahwa terbentangnya waktu setiap solat yang lima waktu berlangsung sampai masuk waktu solat yang lainnya, dan ini berlaku pada semua solat secara umum.

Jadi, menurut mayoritas ulama adalah bahwa waktu solat isya itu terbentang sampai sebelum subuh. Namun walau demikian bukan berarti kemudian kita lantas bermudah mudahan untuk mengakhirkan solat isya seenaknya setiap saat atau sering melakukannya sampai melebihi separuh malam, yang demikian hendaknya dijauhi.

Alasannya karena kita memperhatikan adanya pendapat ulama yang lain yang menyatakan bahwa akhir solat isya hanya sampai pertengahan malam saja, dan keluar dari perselisihan ulama pada perkara yang disepakati bersama keabsahannya lebih baik dan dianjurkan.

Demikian, wallahu a’lam.

Disusun oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Senin, 10 Dzul Qa’idah 1442 H/ 21 Juni 2021 M

 



Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله  
klik disini

 

Baca Juga :  Pekerjaan Pengrajin Boneka, Bolehkah Dalam Islam?

Ustadz Setiawan Tugiyono, Lc., M.HI

Beliau adalah Alumni D2 Mahad Aly bin Abi Thalib Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bahasa Arab 2010 - 2012 , S1 LIPIA Jakarta Syariah 2012 - 2017, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2018 - 2020 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah, Dauroh Masyayikh Ummul Quro Mekkah di PP Riyadush-shalihin Banten, Daurah Syaikh Ali Hasan Al-Halaby, Syaikh Musa Alu Nasr, Syaikh Ziyad, Dauroh-dauroh lain dengan beberapa masyayikh yaman dll | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Belajar bersama dengan kawan-kawan di kampuz jalanan Bantul

Related Articles

Back to top button