Baru Tahu Dahulu Menikah Dengan Wali dari Pihak Ibu, Apakah Harus Nikah Ulang?

Baru Tahu Dahulu Menikah Dengan Wali dari Pihak Ibu, Apakah Harus Nikah Ulang?

Baru Tahu Dahulu Menikah Dengan Wali dari Pihak Ibu, Apakah Harus Nikah Ulang?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang apakah harus nikah ulang jika dahulu menikah dengan wali dari pihak ibu?
selamat membaca.

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ahsanallahu ilaikum ustadz.
Ijin bertanya, apakah sah pernikahan seseorang (yang terlanjur menikah dan mempunyai anak) dengan wali saudara seibu (baru mengetahui kalau ternyata beda bapak) – berarti wali dari pihak ibu – ?
Jika tidak sah bagaimana solusinya?
Serta bagaimana status anak hasil pernikahan tersebut?

Jazaakallahu khairan

(Disampaikan oleh Fulanah, Sahabat BiAS T08 G30)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du
Ayyatuhal Akhwat baarakallah fiikunna.

Pernikahan dengan wali nikah dari saudara seibu (atau dari jalur/pihak ibu) tidak sah menurut pendapat shahih (wallahu Ta’ala A’lam).

Namun jika pelaku pelaku meyakini bahwa nikah semacam ini sah karena jahil/ketidaktahuan. Sehingga  Anak yang dihasilkan tetap dinasabkan kepada ayah biologisnya dan dia bisa mendapatkan warisan dari ayahnya selayaknya anak kandung.
Ini adalah pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam al-Fatawa al-Kubro, 4/9.

لكن إن اعتقد هذا نكاحاً جائزا كان الوطء فيه وطء شبهة يلحق الولد فيه ويرث أباه

“Namun jika pelaku meyakini bahwa nikah semacam ini sah, maka hubungan badan yang dilakukan statusnya hubungan badan karena syubhat.
Anak yang dihasilkan dinasabkan kepada ayah biologisnya dan dia bisa mendapatkan warisan dari ayahnya.”

Kalau begitu apa yang harus dilakukan sekarang?

Pernikahan ini dibatalkan atau dibubarkan dengan sendirinya, dan sang istri harus menunggu masa iddah selama 3 kali haid, dan setelah itu si lelaki (suami yang sekarang) wajib akad baru lagi dengan wali dari :

  1. Ayah kandung, kalau tidak ada, baru kemudian (dan berlaku juga seterusnya)
  2. Kakek, atau ayah dari ayah
  3. Saudara se-ayah dan se-ibu
  4. Saudara se-ayah saja
  5. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah dan se-ibu
  6. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah saja
  7. Saudara laki-laki ayah
  8. Anak laki-laki dari saudara laki-laki ayah

Atau wali hakim (KUA), dengan memberi mahar standar kepada wanita dan tidak harus walimah atau diumumkan (menurut pendapat yang shahih).

Wallahu Ta’ala A’lam.

 

Disusun oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Selasa,15 Rabiul Awwal 1441 H/ 12 November 2019 M



Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS