Banyak Berdzikir kepada Allah

Ada satu amalan yang sebenarnya sangat mudah untuk kita kerjakan, tapi sering kali kita lalaikan dan kita tinggalkan.
Bagaimana tidak mudah, amalan tersebut tidak membutuhkan biaya, walau sepeser pun.
Tidak membutuhkan tetesan keringat kita. Beberapa jenis amalan ini bahkan tidak membutuhkan posisi atau tempat tertentu. Tidak harus dikerjakan dalam keadaan suci.

Amalan ringan tersebut adalah berdzikir (mengingat Allah) kepada Allah.

Ya, kaum muslimin diperintahkan untuk banyak berdzikir kepada Allah, sebagaimana termaktub di banyak ayat di dalam Al Qur’an.

Di dalam surat Al Ahzab ayat ke 41-42, Allah Ta’ala berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (41) وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kalian kepada Allah dengan dzikir yang banyak, dan bertasbihlah kepadanya di waktu pagi dan juga petang.”
(Q.S. Al Ahzab:41-42)

Begitu juga perintah Allah kepada Nabi Zakariya ‘Alaihishalatu wa Salam,

وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ

“Dan berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak, dan bertasbihlah kepadanya di waktu Petang dan juga pagi.”
(Q.S. Ali Imran:41)

Bahkan dalam posisi apapun kaum mu’minin senantiasa berdzikir mengingat Allah, sebagaimana Allah sifati mereka,

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang sungguh ada tanda-tanda bagi orang yang memiliki akal. Yaitu mereka yang mengingat (berdzikir) kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan dalam keadaan berbaring.”
(Q.S. Ali Imran 190-191)

Baca Juga:  Keutamaan Puasa ‘Asyura dan Tasu’a

Bahkan ketika posisi musuh berada di hadapannya pun, Allah memerintahkan kaum mu’minin untuk memperbanyak berdzikir kepada Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman jika kalian bertemu kelompok musuh, teguhkanlah hati-hati kalian dan banyaklah berdzikirlah kepada Allah agar kalian menjadi orang-orang yang beruntung.”
(Q.S. Al Anfal: 45)

Kenapa di banyak ayat, Allah memerintahkan untuk banyak berdzikir. Karena berdzikir itu sebenarnya mudah. Kapan pun, dimana pun, bisa kita lakukan. Ibnu Jarir Rahimahullah mengatakan,

فلا تخلو أبدانكم من ذكره في حال من أحوال طاقتكم ذلك

“Janganlah tubuh-tubuh kalian kosong dari berdzikir (mengingatnya), di suatu keadaan dari keadaan yang engkau mampu.”
(Jaami’ul Bayaan fii Ta’wilil Qur’an, Juz 20/hal. 279)

Maka nasehat kami, kepada kami pribadi, dan kepada semua pembaca, biasakan untuk senantiasa berdzikir kepada Allah dimana pun kita berada. Kalau pun lupa untuk berdzikir dengan lisan kita, maka jangan tinggalkan berdzikir dengan hati kita.

Ibnu ‘Abbas Radhiallahi ‘anhu juga menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan

لا يفرض على عباده فريضة إلا جعل لها حدًّا معلوما، ثم عذر أهلها في حال عذر غير الذكر، فإن الله لم يجعل له حدًّا ينتهي إليه ولم يعذر أحدا في تركه إلا مغلوبا على عقله

“Tidaklah Allah mewajibkan atas hamba-hambanya suatu kewajiban kecuali Ia menjadikan baginya batasan yang diketahui, lalu memberi udzur di keadaan yang memang perlu diberi udzur, kecuali amalan dzikir. Sesungguhnya Allah tidaklah menjadikan dzikir, memiliki batasan yang berakhir padanya, dan tidaklah memberi udzur kepada siapa pun yang meninggalkan dzikir kecuali akalnya sudah lemah”
(Jaami’ul Bayaan fii Ta’wilil Qur’an, Juz 20/hal. 280)

BACA JUGA
Baca Juga:  Apakah Hewan Dapat Membawa dan Memprediksi Kabar Duka?

Bagaimana cara kita berdzikir? Cukup dengan hati kah? Atau cukup dengan lisankah?
Ibnul Qoyyim Rahimahullah menjelaskan tingkatan dzikir,

 وهي تكون بالقلب واللسان تارة، وذلك أفضل الذكر. وبالقلب وحده تارة، وهي الدرجة الثانية، وباللسان وحده تارة، وهي الدرجة الثالثة

“…….yaitu terkadang (dzikir) dengan hati dan lisan, dan inilah dzikir terbaik. Terkadang hanya hati saja yang berdzikir (mengingat Allah), dan ini adalah tingkatan yang kedua. Terkadang dengan lisan saja, dan ini adalah tingkatan ketiga.”

Barangsiapa yang lisannya senantiasa basah dengan dzikir, hatinya senantiasa mengingat Allah, maka Allah akan jadikan ketenangan pada dirinya. Dan Allah pun senantiasa akan mengingatnya.

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Mereka yang beriman dan hati-hati mereka menjadi tenang dengan berdzikir kepada Allah. Bukankah dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang.”
(Q.S. Ar Ra’du:28)

Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Maka ingatlah (berdzikirlah kepada) Aku, niscaya Aku (Allah) akan mengingat kalian. Dan bersyukurlah kalian kepadaKu, dan jangalah kalian kufur”
(Q.S. Al Baqarah)

Baca Juga:  Apakah Najis Gamis Akhwat Yang Terkena Kotoran Ayam?

Sebaliknya, orang yang jarang berdzikir, jarang mengingat Allah, maka kehidupanya akan senantiasa berada di dalam kesempitan.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Barangsiapa yang berpaling dari berdzikir (mengingat) kepada ku, maka baginya kehidupan yang sempit, dan kami bangkitkan ia di hari kiamat dalam keadaan buta”
(Q.S. Thaha:124)

Amalan yang berat, dengan taufiq dan pertolongan dari Allah maka akan menjadi mudah, sebaliknya, amalan yang ringan, mudah, tidak perlu biaya dan bersusah payah, tapi tanpa taufiq dan pertolongan dari Allah, akan berat untuk kita kerjakan.

Maka pantas jika Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita sebuah do’a, yang hendaknya kita baca di akhir shalat kita

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya..Allah,tolonglah aku untuk mengingat (berdzikir) kepadaMu, mensyukuriMu dan mengibadahiMu dengan baik”
Hadits Shahih riwayat Abu Dawud (1522), An Nasa’i (1303), Ahmad (22119) dan Ibnu Hibban (2020), dishahihkan oleh Al Albany.

Wallahu ‘alam.

Ditulis Oleh:
Ustadz Kukuh Budi Setiawan, S.S., S.H., حفظه الله
(Kontributor bimbinganislam.com)



Ustadz Kukuh Budi Setiawan, S.S., S.H., حفظه الله
Beliau adalah Alumni UNS dan STDIIS, Pengajar di Ponpes Al Irsyad Tengaran dan Ponpes Muslim Merapi Boyolali
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Kukuh Budi Setiawan, S.S., S.H., حفظه الله  
klik disini