AqidahManhaj

Bantahan Untuk Orang Yang Menolak Hadits Ahad

Bantahan Untuk Orang Yang Menolak Hadits Ahad

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Bantahan Untuk Orang Yang Menolak Hadits Ahad, selamat membaca.


Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah senantiasa melimpahkan keberkahan kepada antum ustadz. Terkait penjelasan Aqidah telah terang benderang mengenai sifat ketinggian Allah baik dari Al Qur’an maupun Hadits, tapi mengapa saudara kita yang telah terpapar Aqidah Asy’ari mempermasalahkannya dari sisi hadits ahad? Apakah ada permasalahan jika mengambil Aqidah dari hadits ahad?

Syukron, Jaazakallohu Khoiron, Baarokallohu fiikum.

جزاك الله خيرا

(Dari Fulan Anggota Grup Whatsapp Sahabat BiAS)


Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah. Amma ba’du.

Orang-orang mutakallimin/ahli kalam/filsafat dan orang-orang yang terpengaruh dengannya menyatakan bahwa hadits ahad tidak boleh dijadikan dalil di dalam masalah aqidah.

Di antara alasannya menurut mereka hadits mutawatir itu memberikan faidah yang Qath’i meyakinkan sementara hadits ahad hanya memberikan faidah yang dzonni (sangkaan).

Ucapan ini rusak sekaligus batil serta menyelisi ijma’ ahlissunnah wal jamaah dari sejak zaman dahulu kala hingga hari ini. Yang benar hadits ini selama ia shahih maka ia menjadi dalil di dalam masalah ahkam maupun masalah aqidah. Anggapan yang menyatakan bahwa hadits ahad tidak bisa dijadikan dalil dalam masalah aqidah adalah anggapan yang tidak benar dari beberapa sisi, diantaranya :

1. Ucapan ini adalah merupakan ucapan yang bid’ah yang tidak ada asal-usulnya di dalam agama Islam.

Tidak pernah diucapkan oleh seorangpun dari kalangan salafus shalih, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari : 2697 dan Muslim : 1718)

2. Syariat memerintahkan untuk mengambil ilmu baik dari satu orang maupun dari sekelompok orang.

Yang demikian karena anggapan di atas memerintahkan agar hadits ahad yang hanya diriwayatkan oleh sedikit perawi tidak dipakai dalam masalah aqidah. Ini berlawanan dengan perinta syariat yang memerintahkan untuk mengambil ilmu meski dari satu orang. Allah ta’ala berfirman :

وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka Thaifah (sekelompok) untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS At Taubah : 122).

Dan kata Thaifah menurut para ulama artinya bisa satu orang, dua atau lebih.

Bahkan nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sering mengutus seorang sahabat untuk menyampaikan dakwah kepada sekelompok kaum dan itu sudah mencukupi untuk menegakkan hujjah.

3. Ucapan bahwa hadits Ahad tidak bisa diterima dalam masalah aqidah adalah merupakan pembahasan aqidah.

Dengan menggunakan konsekuensi dari ucapan ini kita bertanya mana dalil qath’i/ pasti yang mendasarinya ?

Apakah ada ayat atau hadits yang menerangkan demikian? jawabnya tidak ada. Maka ucapan mereka ini batil dengan sendirinya jika ditimbang dengan teori mereka sendiri.

4. Ucapan ini menyelisihi ijma’ ahlissunnah wal jamaah.

Imam Ibnu Abdil Barr menyatakan :

وأجمع أهل العلم من أهل الفقه والأثر في جميع الأمصار فيما علمت على قبول خبر الواحد العدل، وإيجاب العمل به إذا ثبت ولم ينسخه غيره من أثر أو إجماع.

على هذا جميع الفقهاء في كل عصر، من لدن الصحابة إلى يومنا هذا؛ إلا الخوارج وطوائف من أهل البدع شرذمة لا تعد خلافا

“Ahli ilmu dari kalangan ahli fiqih di seluruh negri-negri setahu saya bersepakat menerima khabar ahad yang terpercaya dan mewajibkan untuk mengamalkanna jika memang shahih selama khabar tersebut belum dinasakh oleh dalil atau ijma’.

Hal ini disepakati oleh seluruh fuqoha’ di seluruh negri-negri sejak zaman para sahabat sampai hari kita ini. Kecuali kelompok khawarij dan sekelompok ahli bid’ah pendapat mereka nyleneh maka tidak dianggap.” (At Tamhid : 1/2).

Dan masih banyak para ulama lainnya yang menghikayatkan adanya ijma’ dalam masalah ini.

5. Anggapan ini jika diterima maka akan melumpuhkan sendi sendi agama.

Yang demikian karena mayoritas masalah aqidah yang diwariskan oleh para sahabat turun temurun sampai masa kita ini adalah terambil dari hadits-hadits yang ahad. Jika kita tidak menerima hadits ahad dalam masalah aqidah maka akan banyak sekali aqidah yang akan ditolak padahal ia merupakan satu aqidah yang fundamental di dalam agama Islam. Diantara contoh masalah aqidah yang terambil dari hadits ahad adalah :

– Keutamaan Nabi Muhammad dibandingkan para nabi yang lainnya.
– Penetapan syafaat bagi Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.
– Mu’jizat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam selain Al Qur’an
– Sifat-sifat jin, malaikat, syurga dan neraka.
– Keimanan terhadap Mizan bahwasanya ia memiiki dua sisi.
– Sepuluh sahabat yang dijamin masuk syurga
– Keimanan terhadap Al Qalam dan bahwasanya ia menulis segala kejadian.
– Hadit yang menerangkan bahwa Allah mengharamkan bumi untuk merusak jasad para nabi.
– Keimanan terhadap tanda-tanda kiamat seperti keluarnya imam Mahdi, keluarnya Dajal dan turunny nabi Isa alaihis salam
– Peristiwa Isra’ Mi’raj

Dan masih banyak lagi masalah masalah aqidah yang terambil dari hadits ahad.

Wallahu a’lam

Dijawab oleh:
Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA. حفظه الله
Kamis, 29 Shafar 1443 H/ 7 Oktober 2021 M


 Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله  
klik disini 

Baca Juga :  Apa Perbedaan Keadilan Allah Dan Keadilan Manusia?

USTADZ ABUL ASWAD AL BAYATI, BA.

Beliau adalah Alumni S1 MEDIU Aqidah 2008 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Dauroh Malang tahunan dari 2013 – sekarang, Dauroh Solo tahunan dari 2014 – sekarang | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Koordinator Relawan Brigas, Pengisi Kajian Islam Bahasa Berbahasa Jawa di Al Iman TV

Related Articles

Back to top button