Muamalah

Bahaya Memiliki Hutang Sampai Meninggal Dunia

Bahaya Memiliki Hutang Sampai Meninggal Dunia

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan bahaya memiliki hutang sampai meninggal dunia. Selamat membaca.


Pertanyaan:

Bismillāh. Assalāmu’alaikum ustadz. Semoga Allāh selalu merahmati ustadz dan seluruh umat muslim. Ustadz apakah benar ketentuan Rasūlullāh shalallāhu’alaihi wa sallam untuk tidak menshalati orang mati yang meninggalkan hutang dihapuskan dan diganti dengan tetap dishalati oleh Rasūlullāh shalallāhu’alaihi wa sallam dan dilunasi hutangnya oleh beliau? Jazākallāhu khairan.

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh

Aamiin, dan semoga Allah mengumpulkan kita semua di dalam surgaNya.

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, dia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُصَلِّي عَلَى رَجُلٍ مَاتَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ فَأُتِيَ بِمَيِّتٍ فَقَالَ أَعَلَيْهِ دَيْنٌ قَالُوا نَعَمْ دِينَارَانِ قَالَ صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak menshalatkan laki-laki yang memiliki hutang. Lalu didatangkan mayit ke hadapannya. Beliau bersabda: “Apakah dia punya hutang?” Mereka menjawab: “Ya, dua dinar. Beliau bersabda,“ Shalatlah untuk sahabat kalian.”

[HR. Abu Daud No. 3343, dishahihkan Syaikh Al-Albani dalamShahih wa Dhaif Sunan Abi DaudNo. 3343]

Maksudnya adalah Nabi shallallahu alaihi wa sallam ingin menjelaskan kepada para sahabatnya bahwa, hutang sangat tidak layak ditunda dibayar sampai meninggal, padahal ia sudah mampu membayarnya.

Baca Juga:  Bagaimana Menyikapi Bau Rokok dari Toko Tetangga yang Sampai ke Rumah?

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan bahwa shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah syafaat. Beliau berkata,

وَكَانَ إذَا قُدّمَ إلَيْهِ مَيّتٌ يُصَلّي عَلَيْهِ سَأَلَ هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ أَمْ لَا ؟ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ دَيْنٌ صَلّى عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ عَلَيْهِ دَيْنٌ لَمْ يُصَلّ عَلَيْهِ وَأَذِنَ لِأَصْحَابِهِ أَنْ يُصَلّوا عَلَيْهِ فَإِنّ صَلَاتَهُ شَفَاعَةٌ وَشَفَاعَتَهُ مُوجَبَةٌ

“Jika didatangkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam seorang mayit, lalu dia hendak menshalatkan maka Beliau akan bertanya, apakah dia punya hutang atau tidak? Jika dia tidak punya hutang maka Beliau menshalatkannya, jika dia punya hutang maka Beliau tidak mau menshalatkannya, namun mengizinkan para sahabat menshalatkan mayit itu. Sesungguhnya shalat Beliau (untuk si mayit) adalah syafaat (penolong) dan syafaat Beliau adalah hal yang pasti.” [Zaadul Ma’ad, 1/486, Mu’ssasah Risalah, Beirut, cet. XVII, 1415 H, Syamilah]

Sehingga, bila memperhatikan hadist di atas dapat diambil beberapa faedah, antara lain:

1. Bahwa bagi seseorang hendaknya berhati-hati dalam masalah hutang. Tidak mudah berhutang dan bila mampu segera dilunasi. Jadikan pelunasan sebagai prioritas utama tanpa harus banyak alasan dengan kebutuhan hidup yang tidak pernah terpuaskan.

Bila tidak bisa melunasi segera informasikan dan mencari keridhoaannya untuk ditunda pembayarannya dan tidak pura-pura lupa dengan segala kewajiban. Berharap, supaya tidak ditagih atau lama tertunda supaya diikhlaskan karena akhirnya pihak pemberi hutang jengkel karena tidak segera dilunasi.

Berbeda kalau ternyata keikhlasan dalam merelakan hutang muncul karena iba, melihat segala usaha untuk pelunasan telah dilakukan namun kemampuan tak kunjung menghampirinya, sehingga ia merelakan untuk menggugurkan piutangnya kepada dia.

2. Sebagaimana nabi tidak berkenan menshalati untuk memberikan pembelajaran, bahwa masalah hutang akan dibawa sampai mati bila tidak berhati-hati, maka diperbolehkan bagi seseorang yang mempunyai kedudukan di suatu masyarakat untuk tidak menshalatkan si mayit yang masih berhutang, sebagai pembelajaran, bukan karena keharusan untuk tidak menshalatkan. Sekali lagi dengan catatan, bila diperkirakan ada efek dari apa yang dilakukan dengan tidak menshalatkan.

3. Tetap menjadi kewajiban kaum muslimin, untuk menshalatkan mayat yang masih mempunyai hutang. Walaupun diperbolehkan meninggalkan bagi orang tertentu bila ada efek dari hal tersebut. Bila tidak, maka tidak ada salahnya ia tetap menshalatkan untuk mendapatkan pahala besar dari menshalatkan jenazah.

4. Diharapkan, di antara sesama muslim untuk saling memperhatikan keadaan saudaranya, jangan biarkan mereka banyak berhutang karena kebutuhan tanpa ada bantuan dari kita yang mampu untuk membantu, terlebih bila di hari kematian saudara kita, hendaknya bagi saudara muslim sekitarnya, terutama pihak keluarga dan kerabat untuk berusaha melunasi segala hutang yang di lakukan oleh pihak si mayat.

Semoga Allah jauhkan diri kita dari masalah hutang, dan dapat memberikan bantuan saudara kita sehingga tidak mudah berhutang, karena alasan kebutuhan.

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Senin, 18 Dzulhijjah 1443 H/ 18 Juli 2022 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di sini

Baca Juga:  Bermuamalah dengan Ibu Non Muslim

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button