AqidahArtikelhot

Bahasa Arab dan Terorisme

Bahasa Arab dan Terorisme

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan: Bahasa Arab dan Terorisme. Selamat membaca.


Belakangan ini ada suara-suara sumbang yang didengungkan oleh sebagian orang, mungkin disebabkan ketidaktahuan ataupun kebodohan dan mungkin juga disebabkan oleh kebencian yang mengakar di dalam dada. Perkataan tersebut berkaitan dengan bahasa Arab yang disebut sebagai ciri seorang teroris, padahal notabene-nya bahasa Arab adalah identitas agama Islam dan kaum muslimin.

1. Bahasa Arab Adalah Bahasa Alquran

Tidak ada satu pun orang yang akan mengingkari bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang dipilih Alah untuk menjadi bahasa kitab suci penutup yang paling mulia, yaitu Al-Qur’an. Allah berfirman:

﴿وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِّتُنذِرَ أُمَّ الْقُرَىٰ وَمَنْ حَوْلَهَا وَتُنذِرَ يَوْمَ الْجَمْعِ لَا رَيْبَ فِيهِۚ فَرِيقٌ فِي الْجَنَّةِ وَفَرِيقٌ فِي السَّعِيرِ ﴾

Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Quran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya….” (QS. Asy-Syura: 7).

Allah juga berfirman:

﴿إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ﴾

Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).” (QS. Az-Zukhruf: 3).

Allah juga berfirman:

﴿وَمِن قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَىٰ إِمَامًا وَرَحْمَةًۚ وَهَٰذَا كِتَابٌ مُّصَدِّقٌ لِّسَانًا عَرَبِيًّا لِّيُنذِرَ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَبُشْرَىٰ لِلْمُحْسِنِينَ ﴾

Dan sebelum Al Quran itu telah ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Ahqaf: 12).

Begitu pula firman Allah :

﴿وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَّقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آيَاتُهُۖ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّۗ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌۖ ….

Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya? Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab?” Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin.” (QS. Fusshilat: 44).

Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa Allah telah memilih bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an yang diturunkan kepada nabi Muhammad yang orang Arab juga, namun ajarannya juga berlaku untuk orang non Arab. Tentu ini bukan sekadar pilihan acak atau kebetulan, karena yang memilih orang Arab sebagai rasul terakhir dan bahasa Arab sebagai bahasa yang digunakan untuk kitab terakhir dan paling mulia adalah Allah Yang Maha Berilmu dan Maha Pemillik Hikmah. Allah berfirman:

﴿….. اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُۗ ….

“…..Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan…..” (QS. Al-An’am: 124).

Salah satu hikmah yang disebutkan oleh para ulama’ adalah bahasa Arab adalah bahasa paling kaya kosa katanya, seperti: ungkapan cinta memiliki banyak kata yang memiliki makna tambahan di setiap katanya, begitu pula kata pedang memiliki 1000 kata dalam bahasa Arab.

2. Hubungan Islam dan Bahasa Arab

Islam dan bahasa Arab bak ikan dan air. Sebagaimana ikan tidak bisa hidup tanpa air, begitu pula Islam, ajarannya akan lenyap jika bahasa Arab tidak lagi dipelajari. Sebab, kunci untuk memahami Islam adalah dengan memahami bahasa Arab. Ibnu Taimiyyah berkata:

فإن نفس اللغة العربية من الدين، ومعرفتها فرض واجب، فإن فهم الكتاب والسنة فرض، ولا يفهم إلا بفهم اللغة العربية، وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب.

“Sejatinya bahasa Arab adalah bagian dari agama Islam. Hukum mempelajarinya adalah wajib, karena sejatinya memahami Al-Qu’ran dan sunnah merupakan kewajiban dan sesuatu yang mana kewajiban tidak bisa terlaksana kecuali dengannya, maka hukumnya pun menjadi wajib.” (Iqtidha Shiratil Mustaqim: 1/527).

Semakin kuat kemampuan seorang berbahasa Arab semakin mudah pula baginya untuk memahami agama dan mengetahui apa yang diinginkan oleh Allah dari dirinya. Asy-Syathibi berkata:

فإذا فرضنا مبتدئا في فهم العربية فهو مبتدئ في فهم الشريعة، أو متوسطا؛ فهو متوسط في فهم الشريعة والمتوسط لم يبلغ درجة النهاية، فإن انتهى إلى درجة الغاية في العربية كان كذلك في الشريعة

“Kita bisa mengatakan bahwa seorang pelajar bahasa Arab pemula adalah seorang pemula dalam memahami syariat, pelajar pertengahan maka pertengahan juga dalam memahami syariat dan seorang pelajar pertengahan belum bisa dikatakan seorang ahli agama, apabila dia telah sampai di puncak pemahaman bahasa Arab, maka dia telah sampai juga pada puncak pemahaman syariat.” (Almuwafaqat: 5/53).

Bahkan sebelumnya sahabat Nabi , Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu telah mewasiatkan untuk mempelajari bahasa Arab, beliau berkata:

تعلموا العربية في القرآن كما تتعلمون حفظه

“Pelajarilah bahasa Arab yang digunakan dalam Al-Qur’an, sebagaimana kalian berusaha menghafalnya.” (Tafsirul Quran Libni Wahb: 3/40).

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu juga pernah berkata:

تعلموا العربية فإنها تثبت العقل وتزيد فِي المروءة

“Pelajarilah bahasa Arab, karena bahasa Arab bisa mengokohkan akal dan menambah marwah.” (Idhahul Waqfi Wal Ibtida’ : 1/31).

3. Bahasa Arab dan Kesalahan Memahami Syariat

Jika ada yang mengatakan bahasa Arab adalah salah satu sebab penyimpangan, kesesatan dan pemahaman terorisme, maka ini salah besar, karena sebab penyimpangan dalam agama sebenarnya adalah tidak memahami bahasa Arab.

Bukti nyata dari hal tersebut adalah kisah ‘Amr bin ‘Ubaid, seorang yang memiliki ideologi mu’tazilah (mereka beranggapan bahwa pelaku dosa besar pasti masuk neraka, namun di dunia dihukumi sebagai seorang yang bukan muslim bukan juga kafir), dia berkata kepada Abu ‘Amr bin ‘ala:

يا أبا عمرو، أيخلف الله وعده؟

“Hai Abu Amr apakah Allah mungkin mengingkari janjinya?”

Abu ‘Amr bin ‘ala menjawab: tidak. Kemudian dia berkata lagi:

أفرأيت من وعده الله على عمل عقابا أيخلف وعده فيه؟

“ketika Allah menjanjikan hukuman untuk sebuah kemaksiatan, mungkinkah menurutmu Allah akan mengingkari janjiNya?

Abu ‘Amr bin ‘ala menjawab:

من العجمة أتيت أبا عثمان، إن الوعد غير الوعيد، إن العرب لا تعد عارا ولا خلفا، والله جل وعز إذا وعد وفي، وإذا أوعد ثم لم يفعل كان ذلك كرما وتفضلا، وإنما الخلف أن تعد خيرا ثم لا تفعله.

“Hai Abu Utsman, pemahamanmu ini disebabkan keasinganmu dalam bahasa Arab. Janji berbeda dengan ancaman. Sesungguhnya orang Arab tidak menganggap pembatalan ancaman sebagai celaan dan ingkar janji. Sejatinya Allah jika berjanji pasti ditepati, namun ketika Allah memberikan ancaman namun tidak Dia lakukan, itu merupakan sebuah kemuliaan dan keutamaanNya. Ingkar janji itu hanya pada saat dirimu menjanjikan kebaikan lalu tidak dilakukan.” (Majalisul ‘Ulama Lizzujajy: hal. 62).

Penutup

Dari pembahasan di atas kita bisa memahami korelasi antara bahasa Arab dan agama Islam, keduanya memiliki hubungan yang tak terpisahkan. Sehingga ketika menghina dan merendahkan bahasa Arab berarti tidak hanya merendahkan satu bangsa, namun telah merendahkan agama yang diturunkan oleh Allah Rabbul ‘alamin.

Kemudian juga, ini merupakan standar ganda yang diterapkan oleh sebagian manusia, ketika didapati ada orang barat yang melakukan tindakan teror maka tidak pernah kejadian tersebut dengan bahasa Inggris, tetapi lebih ke oknum, namun kaidah tersebut tidak berlaku jika oknum teroris adalah orang Islam, maka agama dan yang berkaitan dengannya akan berusaha mereka serang.

Semoga Allah mengembalikan kejayaan kaum muslimin dan melindungi kita dari segala makar musuh-musuh Islam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Senin, 18 Rabiul Awal 1443 H/ 25 Oktober 2021 M


Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى klik disini

Baca Juga :  Kandungan Yang Terdapat Pada Ayat Kursi

Ustadz Muhammad Ihsan, S.Ag., M.HI.

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2011 – 2015, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2016 – 2021 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Dauroh Syaikh Sulaiman & Syaikh Sholih As-Sindy di Malang 2018, Beberapa dars pada dauroh Syaikh Sholih Al-’Ushoimy di Masjid Nabawi, Dauroh Masyayikh Yaman tahun 2019, Belajar dengan Syaikh Labib tahun 2019 – sekarang | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Kegiatan bimbingan islam

Related Articles

Back to top button