Bagaimana Nafkah Istri Setelah Cerai? Apa Suami Langsung Lepas Tangan?

Bagaimana Nafkah Istri Setelah Cerai? Apa Suami Langsung Lepas Tangan?

Bagaimana Nafkah Istri Setelah Cerai? Apa Suami Langsung Lepas Tangan?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang mencintai Allah ta’ala berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang bagaimana nafkah istri setelah cerai?  apa suami langsung lepas tangan?
selamat membaca.

Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Apakah benar ketika seorang istri dijatuhkan cerai oleh suaminya, maka setelah selesai perceraian maka mantan suami harus memberikan nafkah pada mantan istrinya sesuai kemampuan dalam jangka waktu tertentu?

Jazaakumullah khairan Ustadz.

(Penanya: Sahabat BiAS T06-G17)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Iya benar, jika jenis talaknya adalah talak yang masih bisa rujuk kembali. Saat itu suami harus menafkahi istrinya selama masa iddah.
Jika telah habis masa iddah dan tidak rujuk maka suami tak memiliki kewajiban menafkahi istrinya lagi.

Kecuali lagi, apabila istri tersebut sedang hamil atau menyusui maka suami tetap menafkahinya. Dan jika istri membawa anak dari suami tersebut maka suami wajib menafkahi si anak itu.
Imam Ibnu Qudamah menerangkan :

وجملة الأمر أن الرجل إذا طلق امرأته طلاقًا بائنًا، فإما أن يكون ثلاثًا أو بخلعٍ أو بانت بفسخٍ، وكانت حاملاً فلها النفقة والسكنى بإجماع أهل العلم؛ لقول الله تعالى: أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ وَإِنْ كُنَّ أُولاتِ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ[الطلاق:6]. وفي بعض أخبار فاطمة بنت قيس: (لا نفقة لك إلا أن تكوني حاملاً)؛ ولأن الحمل ولده فيلزمه الإنفاق عليه، ولا يمكنه النفقة عليه إلا بالإنفاق عليها، فوجب كما وجبت أجرة الرضاع

“Secara umum jika seorang lelaki menceraikan istrinya, dengan talak Bain baik dengan tiga kali atau dengan khulu’ atau dengan fasakh. Dan istrinya hamil, maka wajib bagi suami menafkahi dan menyediakan tempat tinggal dengan kesepakatan para ahli ilmu. Berdasarkan firman Allah ta’ala :

أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ وَإِنْ كُنَّ أُولاتِ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

artinya : “Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin.”
(QS Ath-Thalaq ayat 6)

Disebut pada sebagian khabar Fatimah binti Qais : “Tidak ada nafkah bagimu kecuali jika engkau sedang hamil”.

Dan karena yang dikandung itu anaknya maka wajib bagi dia menafkahinya, dan tidak mungkin menafkahi anak kecuali dengan menafkahi ibunya. Sehingga ia menjadi wajib sebagaimana pula wajib memberikan upah menyusui.”
(Al-Mughni : 8/232).

Wallahu a’lam

 

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله
Senin, 15 Shafar 1441 H / 14 Oktober 2019 M



Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله 
klik disini

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )