FiqihKonsultasi

Bagaimana Mengenai Hukum Badal Umroh Dan Haji?

Pendaftaran Grup WA Madeenah

Bagaimana Mengenai Hukum Badal Umroh Dan Haji?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Bagaimana Mengenai Hukum Badal Umroh Dan Haji?, selamat membaca.


Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ijin bertanya bagaimana sebenarnya hukum badal umroh dan haji. Saya perhatikan ada pandangan yang berbeda pada ustadz ustadz sunnah. Ada yang berpandangan bolehnya dan ada yang melarangnya atau tidak ada badal umroh dan haji. Sebenarnya manakah pandangan yang rojih/kuat dari dua pandangan ini?

جزاك اللهُ خيراً

Ditanyakan oleh Santri Mahad Bimbingan Islam


Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Pertama, perlu diketahui bahwa istilah rajih ini bersifat relatif. Karena rajih bagi satu ulama belum tentu rajih bagi ulama lain. Ketika seorang ulama/mufti mengatakan: inilah yang rajih, maksudnya adalah inilah yang kuat menurut beliau, dengan kata lain, itulah pendapat yang beliau pilih dan bukan mutlak pasti itulah yang benar. Sehingga jika ditanyakan ke saya, maka saya juga akan memberikan jawaban yang saya pilih atau saya anggap paling kuat menurut saya.

Kedua, berkaitan dengan badal umrah atau haji, pada dasarnya tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama dari yang saya ketahui, bahwa badal umrah/haji hukumnya boleh dan sah untuk yang mampu finansial tapi tidak mampu secara fisik, atau yang meninggal dan belum berhaji. Namun mereka berbeda pendapat dalam rincian siapa yang boleh membadalkan dan kondisinya.

Ada yang membatasi hanya anak yang boleh membadalkan orang tuanya, di antara yang mengambil pendapat ini adalah Ustadz Abdul Hakim Abdat, namun banyak ulama membolehkan siapapun membadalkan karena haditsnya memang tidak membatasi demikian. Kemudian ada yang membatasi hanya jika diwasiati, seperti ulama Hanafiyah.

Kemudian juga ada pembahasan seputar: apakah boleh mengambil upah dari badal? Barangkali inilah yang dimaksud oleh penanya. Dewan Fatwa Al Irsyad mengambil pendapat terlarangnya jika badal ini dijadikan sebagai ajang mencari keuntungan. Artinya, dia memang meniatkan dunia untuk pekerjaannya. Adapun Lajnah ad Daimah membolehkan badal dengan mengambil upah.

Wallahu a’lam, yang lebih tepat adalah insyaallah boleh mengambil upah dari badal dengan catatan tidak menjadikannya sebagai pekerjaan, namun niat utamanya adalah membantu, adapun upah itu hanyalah sekedar pengganti atas pekerjaannya bukan untuk memperkaya diri.

Wallahu a’lam bish-shawab

 

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Ristiyan Ragil حافظه الله

 

Related Articles

Back to top button