Bagaimana Jika Melanggar Sumpah Mati Kepada Istri bimbingan islam
Bagaimana Jika Melanggar Sumpah Mati Kepada Istri bimbingan islam

Bagaimana Jika Melanggar Sumpah Mati Kepada Istri?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang bagaimana jika melanggar sumpah mati kepada istri?
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah senantiasa menjaga ustadz dan keluarga serta semua kaum muslimin dimanapun ia berada. Aamiin.

Izin bertanya ustadz, bagaimana hukumnya seorang suami yang sudah bersumpah diatas Alquran & berjanji akan suatu hal terhadap istrinya, tapi dia melanggarnya. Dalam sumpahnya ia mengatakan kalau dia melanggar dia berjanji akan mati. Dan apa kafarah atas pelanggaran sumpahnya tersebut ustadz?

Mohon penjelasannya. Syukron Jazaakallāhu khayran.

(Disampaikan oleh Admin Bias T09 G-17)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Sumpah Mati Harus Dilanggar

Semoga Alloh mudahkan kita dalam menjaga lisan dan menjauhkan kita dari segala macam bentuk kemunafikan.
Saudara-saudaraku sekalian yang mencintai Sunnah dan dicintai Alloh Jalla wa ‘Alaa, sumpah seperti ini statusnya sah tapi harus dilanggar karena menyelisihi syariat, dan pelakunya pun harus membayar kafaroh.

Kenapa menyelisihi syariat? Karena janji mati sebagai konsekuensi pelanggaran sumpah adalah hal yang salah, entah itu mati bunuh diri atau berharap mati.

Bunuh diri adalah dosa besar, tidak ada khilaf dikalangan para ‘Ulama dalam hal ini. Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda

مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ

“Barangsiapa membunuh dirinya dengan sesuatu, dia akan disiksa dengan sesuatu itu dalam neraka Jahannam
[HR Bukhori 5640]

Bahkan dalam Hadits Abu Huroiroh dijelaskan detail bentuk siksaannya,

مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا 

“Barangsiapa menjatuhkan dirinya dari sebuah gunung, kemudian membunuh dirinya, maka dia di dalam neraka Jahannam menjatuhkan dirinya dari sebuah gunung, dia tinggal lama dan dijadikan tinggal lama selamanya di dalam neraka Jahannam selama-lamanya.
Dan barangsiapa meminum racun kemudian membunuh dirinya, maka racunnya akan berada di tangannya, dia akan meminumnya di dalam neraka Jahannam dia tinggal lama dan dijadikan tinggal lama selamanya di dalam neraka Jahannam selama-lamanya.
Dan barangsiapa membunuh dirinya dengan besi, maka besinya akan berada di tangannya, dia akan menikam perutnya di dalam neraka Jahannam, dia tinggal lama dan dijadikan tinggal lama selamanya di dalam neraka Jahannam selama-lamanya”
[HR Bukhori 5333]

Adapun berharap mati, hal ini juga merupakan larangan dalam Islam, Nabi kita Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda

لَا يَتَمَنَّى أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ وَلَا يَدْعُ بِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُ إِنَّهُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ انْقَطَعَ عَمَلُهُ وَإِنَّهُ لَا يَزِيدُ الْمُؤْمِنَ عُمْرُهُ إِلَّا خَيْرًا

“Janganlah seseorang mengharapkan kematian dan janganlah meminta mati sebelum datang waktunya. Karena orang yang mati itu amalnya akan terputus, sedangkan umur seorang mukmin tidak akan bertambah melainkan menambah kebaikan”
[HR Muslim 4843]

Kafaroh

Lalu bagaimana kafarohnya? Alloh menjelaskan dalam surat Al-Maidah

لَا يُؤَاخِذُكُمُ ٱللَّهُ بِٱللَّغۡوِ فِيٓ أَيۡمَٰنِكُمۡ وَلَٰكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ ٱلۡأَيۡمَٰنَۖ فَكَفَّٰرَتُهُۥٓ إِطۡعَامُ عَشَرَةِ مَسَٰكِينَ مِنۡ أَوۡسَطِ مَا تُطۡعِمُونَ أَهۡلِيكُمۡ أَوۡ كِسۡوَتُهُمۡ أَوۡ تَحۡرِيرُ رَقَبَةٖۖ فَمَن لَّمۡ يَجِدۡ فَصِيَامُ ثَلَٰثَةِ أَيَّامٖۚ ذَٰلِكَ كَفَّٰرَةُ أَيۡمَٰنِكُمۡ إِذَا حَلَفۡتُمۡۚ وَٱحۡفَظُوٓاْ أَيۡمَٰنَكُمۡۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

“Alloh tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Alloh menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya)”
(QS Al-Maidah 89)

Maka sikap seseorang dalam pembayaran kaffaroh ada empat pilihan secara beruntun:

  1. Memberi makan 10 orang miskin dari makanan yang biasa dimakan oleh keluarganya. Bisa dalam bentuk makanan matang siap makan, atau makanan mentah dengan takaran ½ sho’ atau 1/5 kg beras/bahan pokok utama. Teknis pembagiannya bisa dengan mengumpulkan sepuluh orang miskin lalu diberi makan pagi, atau siang, atau malam.
  2. Memberi pakaian 10 orang miskin.
  3. Memerdekakan budak.
  4. Jika tidak mampu, puasa selama 3 hari.

Apakah memberi makan bisa diganti dalam bentuk uang? Dan apakah memberi pakaian bisa dicukupkan dengan memberi sarung saja? Syeikh Ibnu Baz rohimahulloh menerangkan dalam Fatwanya,

على أن تكون الكفارة طعاما لا نقودا، لأن ذلك هو الذي جاء به القرآن الكريم والسنة المطهرة، والواجب في ذلك نصف صاع من قوت البلد ، من تمر أو بر أو غيرهما ، ومقداره كيلو ونصف تقريبا ، وإن غديتهم أو عشيتهم أو كسوتهم كسوة تجزئهم في الصلاة كفى ذلك ، وهي قميص أو إزار ورداء
(فتاوى إسلامية 3/481)

Hendaknya tebusan itu berupa makanan bukan uang, karena hal itu yang telah ada pada Al-Qur’an Al-Karim dan Sunnah yang suci. Yang wajib dalam hal itu adalah setengah sho’ dari jenis makanan negaranya, baik kurma, gandum atau selainnya, dan takarannnya sekitar 1,5 Kg. Seandainya diberi makan siang atau makan malam atau diberi pakaian yang sah digunakan untuk sholat, maka hal itu cukup. Yaitu berupa gamis, sarung dan selendang”
(Fatawa Islamiyah, 3/481).

Pada opsi terakhir yakni puasa ada perselisihan dikalangan para ‘Ulama tentang teknis pelaksanaanya, apakah harus beruntun atau boleh terpisah. Madzhab hanafi dan hambali mempersyaratkan harus beruntun, sementara syafi’i tidak mempersyaratkan hal itu. Wallohu A’lam, pendapat yang berhati-hati dalam masalah hal ini adalah 3 hari secara beruntun. Syeikh ‘Utsaimin rohimahulloh menjelaskan,

فإن لم يجد الإنسان لا رقبة ولا كسوة ولا طعاماً فإنه يصوم ثلاثة أيام ، وتكون متتابعة لا يفطر بينهما
(فتاوى منار الإسلام (3/667

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Kalau seseorang tidak mendapatkan budak, pakaian juga makanan. Maka dia berpuasa tiga hari. Dilaksanakan secara berurutan tidak berbuka disela-selanya”
(Fatawa Manarul Islam, 3/667).
Ref: https://islamqa.info/ar/answers/45676/ما-هي-كفارة-اليمين-بالتفصيل

Semoga Alloh memberi Taufiq pada kita semua.
Wallohu A’lam.

Wallahu A’lam,
Wabillahittaufiq.

 

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Kamis, 11 Dzulqadah 1441 H/ 02 Juli 2020 M



Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI IMAM SYAFI’I Kulliyyatul Hadits, dan Dewan konsultasi Bimbingan Islam,
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله  
klik disini