Bagaimana Hukum Poligami Dalam Islam

Bagaimana Hukum Poligami Dalam Islam

Bagaimana Hukum Poligami Dalam Islam

Akhir-akhir ini, ada sebagian orang yang mendengung-dengunkan suaranya untuk menentang “poligami”. Ingin merubah peraturan pemerintah yang membolehkan poligami kepada para pejabat dengan syarat-syarat tertentu. Katanya dengan poligami, akan ada banyak wanita yang terdholimi, tersakiti, terintimidasi. Akan ada banyak wanita yang mengalami ketidakadilan, akan ada banyak anak terlantarkan.

Yang dikhawatirkan keluarga yang retak seperti itu berasal dari orang-orang yang tidak mengilmui poligami dengan baik. Tentu semuanya akan menjadi baik, dan segala sesuatu yang disyariatkan. Segala sesuatu yang disyariatkan oleh Islam pasti merupakan kebaikan, bahkan hukum qishash yang dikatakan tidak adil pun, itu merupakah hukum yang paling adil. Coba bayangkan, saat keluarga yang ditinggalkan merasa begitu terpukul dan kehilangan, kenapa mereka tidak diperbolehkan membalas dengan setimpal?! Bahkan sebenarnya dengan adanya qishash, pasti orang-orang berfikir berulangkali, atau bahkan sampai seribu kali, saat akan membunuh jiwa yang tidak pantas untuk dibunuh.

Sebuah Keheranan

Pertanyaannya, kenapa mereka tidak menentang praktek prostitusi saja?! Bukankah prostitusi lebih merugikan kaum wanita?!

Jika terjadi kehamilan akan ada banyak anak yang tergugurkan, apa itu tidak mendzalimi si janin?
Jika ada istri yang suaminya “jajan”, apakah tidak lebih menyakitkan?!
Ataukah barometer dan parameter dalam diri telah terjadi pergeseran?!

Poligami diperbolehkan untuk mengurangi praktek-praktek yang melanggar syariat. Poligami diperbolehkan agar para suami yang memiliki “kebutuhan lebih”, bisa menempuh jalan yang diperbolehkan. Sebuah jalan yang diizinkan oleh Allah subhanahu wata’ala.

Kalau kita mau melarang poligami, tentu kita juga akan mendholimi para suami. Para suami yang memiliki “kebutuhan lebih” yang tidak tercukupi dirumahnya akan terdhalimi. Sehingga bisa jadi akan terjadi banyak perzinaan didalam negeri, na’udzubillah.

Ada Syaratnya, Mengertikan Hukumannya

Saat Allah dan Rasul-Nya membolehkan poligami, disana ada syarat-syarat yang perlu ditunaikan, ada ancaman-ancaman kepada pelaku poligami yang cukup mengerikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam At-Tirmidzi, Imam Ibnu Majah:

مَن كانت له امرأتانِ، فمال إلى إحداهما جاء يَومَ القيامَةِ وشِقُّه مَائِلٌ

“Siapa saja yang memiliki dua istri, kemudian dia condong kepada salah satunya, dihari kiamat nanti, ia akan datang dalam keadaan miring”

Dan maksud dari “condong kepada salah satunya” adalah kecondongan dalam permasalahan yang tampak atau nyata, seperti pembagian jatah kunjung, pembagian hadiah dan semisalnya. Bukan pada permasalahan hati. Bukan pada hal yang berkaitan dengan rasa cinta. Karena secara tabiat seorang tidak akan mampu menolak rasa cinta yang berlebih kepada seseorang. Rasa cintapun tidak mungkin akan sama antara objek satu dan objek yang lainnya.

Sehingga seorang suami yang melakukan poligami, memiliki peringatan yang keras jika tidak bisa adil. Dia akan datang pada hari kiamat dengan tanda yang dikenal oleh orang-orang saat itu, sebuah tanda yang mengisyaratkan bahwa dia dahulunya melakukan poligami namun tidak berlaku adil. Yaitu dengan badan yang miring kesamping, na’udzu billah.

Hukum Poligami

Poligami adalah menikahi lebih dari satu wanita. Itulah arti yang difahami oleh masyarakat luas. Dan poligami (dengan makna diatas), dalam islam memiliki hukum yang bermacam-macam, tergantung dari orang yang melakukannya. Tidak bisa digenarilisir. Hukumnya tidak bisa dipukul rata. Walaupun memang sebagian mengatakan, bahwa hukumnya mubah, boleh dan halal.

Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily –hafidhahullah– dalam ceramah beliau yang berjudul “فقه الأسرة” atau “Fikih Keluarga”, menyatakan bahwa poligami itu hukumnya ada lima, berikut ringkasannya :

1. Wajib Poligami

(Pertama) Jika seorang itu takut pada dirinya akan berbuat zina, karena istri yang ia miliki tidak bisa memenuhi “kebutuhan”nya. Mungkin karena wanitanya lemah, atau karena lelakinya yang terlalu kuat.

(Kedua)Mampu untuk memenuhi kepada biaya pernikahan dan kehidupannya,

(Ketiga) Mampu adil kepada para istrinya

(Maka) Dia wajib untuk menikah lagi.

(Kenapa?) Karena menjaga kehormatan diri itu hukumnya wajib.

Kaidah mengatakan : “Sesuatu yang wajib, namun tidak bisa terlaksana kecuali dengan perantara, maka perantaranya tersebut menjadi wajib juga”

Dan istri, jika suaminya mengalami hal seperti ini, dengan syarat-syarat yang disebutkan, ia tidak boleh menghalang-halangi suaminya untuk menikah lagi. Karena tidak boleh bagi seorang muslim, menghalangi dari sesuatu yang wajib. Karena jika keadaan suami seperti ini, lalu istri melarangnya, sehingga suami hanya memiliki istri satu yang tidak bisa mencukupi “kebutuhannya”, bisa jadi sang suami akan terjatuh dalam perzinaan, na’udzu billah.

2. Dianjurkan Poligami

(Pertama) jika seorang tidak takut akan berbuat zina,
(Kedua) mampu untuk membiayai pernikahan dan kehidupan para istri
(Ketiga) mampu adil kepada para istri
(Keempat) berharap anak
(Maka) ia boleh (halal) berpoligami, tidak ada kejahatan padanya.

Adapun tentang mana yang lebih utama, maka kembali kepada keadaan individu masing-masing, jika setelah ditimbang bahwa akan ada kebaikan yang banyak pada poligami, maka berpoligami lebih utama baginya, namun jika setelah ditimbang, akan ada banyak keburukan dengan poligami, maka lebih baiknya tidak berpoligami.

3. Halal Poligami

(Pertama) Tidak khawatir akan terjatuh pada perzinaan
(Kedua) Mampu berbuat adil
(Ketiga) mempu menanggung biaya pernikahan dan kehidupan
(Keempat) namun tidak ingin anak

(Maka) hukum poligami untuknya halal.

Jika meniatkan kebaikan atau ingin menolong wanita yang menjadi istri keduanya, maka ia akan mendapatkan pahala atas niatnya.

4. Makruh Poligami

(Pertama) Tidak takut terjatuh dalam perzinaan
(Kedua) Mampu menikah dan menanggung kehidupan
(Ketiga) mampu adil
(Tetapi) dengan melakukan poligami urusan-urusan penting menjadi ternomer duakan,

Dakwah menjadi ternomer duakan, menuntut ilmu menjadi ternomer duakan, menyebarkan ilmu menjadi ternomer duakan karena sebab poligami,

(maka) hukum poligami untuknya makruh, jika ditinggalkan ia mendapatkan pahala

5. Haram Poligami

(Dengan syarat) Ia tahu tidak bisa adil kepada para istri

(Maka) haram baginya poligami.

Itulah lima hukum poligami, yang disebutkan oleh Syaikh Sulaiman Ar-Ruhailiy dalam ceramah beliau tentang fiqih keluarga. Dan jika ada seorang yang ingin mengharamkan poligami, maka haramkanlah jenis poligami yang kelima, yaitu orang yang tidak bisa adil kepada istri-istrinya.

Adapun menolak pelaksanaan poligami secara mutlak, maka itu sebenarnya juga mendzalimi orang-orang yang membutuhkan. Bagaimana nasib para suami yang memiliki “banyak kebutuhan”. Dan bagaimana nasib para janda yang suaminya telah meninggal. Hanya hukum Islam yang adil, walaupun orang-orang menolaknya.

Ditulis oleh:
👤 Ustadz Ratno Lc حفظه الله
(Kontributor bimbinganislam.com)



Ustadz Ratno, Lc.
Kontributor Bimbingan Islam (BiAS), Alumni Universitas Islam Madinah Jurusan Hadits
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Ratno حفظه الله  
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS