Bagaimana Hukum Pergi ke Mall? Padahal di Dalamnya Banyak Musik dan Ikhtilat

Bagaimana Hukum Pergi ke Mall? Padahal di Dalamnya Banyak Musik dan Ikhtilat

Bagaimana Hukum Pergi ke Mall? Padahal di Dalamnya Banyak Musik dan Ikhtilat

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang bagaimana hukum pergi ke mall, padahal di dalamnya banyak musik dan ikhtilat.
selamat membaca.

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah senantiasa memberikan nikmat dan rahmat-Nya kepada ustadz dan keluarga.. Aamiin
‘Afwan ustadz izin bertanya.

Apakah diperbolehkan untuk kita pergi ke mall, memasuki mall, atau jalan-jalan di mall, bagaimana hukum hal ini?
Mengingat apabila di mall banyak musik dan ikhtilat?

Jazaakallahu khairan wa barakallahu fiik.

(Disampaikan oleh Sahabat Grup WA BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Semoga kita termasuk orang-orang yang dicintai oleh Alloh dengan dijaga dari hal-hal yang diharamkan oleh Syari’at.

Bagaimana Orang Sholeh Menyikapi Musik

Terkait dengan musik, Insya Alloh banyak dari kita yang sudah tau tentang keharamannya. Inilah pendapat yang rojih menurut jumhur ulama. Maka tak ada solusi lain selain berusaha menghindar sejauh-jauhnya.
Sebuah kisah menarik disampaikan oleh Nafi’ rohimahulloh -mantan budak Ibnu ‘Umar rodhiallohu ‘anha– :

سَمِعَ ابْنُ عُمَرَ صَوْتَ زَمَّارَةِ رَاعٍ فَوَضَعَ إِصْبَعَيْهِ فِى أُذُنَيْهِ وَعَدَلَ رَاحِلَتَهُ عَنِ الطَّرِيقِ وَهُوَ يَقُولُ يَا نَافِعُ أَتَسْمَعُ فَأَقُولُ نَعَمْ. قَالَ فَيَمْضِى حَتَّى قُلْتُ لاَ. قَالَ فَوَضَعَ يَدَيْهِ وَأَعَادَ الرَّاحِلَةَ إِلَى الطَّرِيقِ وَقَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَسَمِعَ صَوْتَ زَمَّارَةِ رَاعٍ فَصَنَعَ مِثْلَ هَذَا

Ibnu ‘Umar pernah mendengar suara seruling dari seorang pengembala, lalu beliau menyumbat kedua telinganya dengan kedua jarinya. Kemudian beliau pindah ke jalan yang lain.
Beliau berkata : “Wahai Nafi’, apakah kamu masih mendengar suara tadi?”
Aku (Nafi’) berkata : “Iya, aku masih mendengarnya”
Kemudian beliau terus berjalan, sampai aku berkata : “Aku tidak mendengarnya lagi”

Barulah setelah itu Ibnu ‘Umar melepaskan tangannya dari telinganya dan kembali ke jalan itu lalu berkata :
“Beginilah aku melihat Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam ketika mendengar suara seruling dari seorang pengembala. Beliau melakukannya seperti tadi”
[HR Ahmad 4725]

Berhati-hati di Dalam Pasar atau Mall

Jika musik saja harus kita hindari, apalagi musik yang ada di dalam pasar. Para Salafus Sholih telah mewanti-wanti kita tentang pasar, yakni jangan sampai menjadi orang yang betah didalam pasar.
Diantaranya disebutkan dalam Atsar dari sahabat Salman rodhiyallohu ‘anhu : 

إِنَّ السُّوقَ مِبْيَضُ الشَّيْطَانِ وَمَفْرَخُهُ , فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ لَا تَكُونَ أَوَّلَ مَنْ يَدْخُلُهَا وَلَا آخِرَ مَنْ يَخْرُجُ مِنْهَا فَافْعَلْ

“Pasar adalah tempat setan bertelur dan berkembang biak. Jika kamu bisa, jangan menjadi orang yang pertama kali masuk pasar dan yang terakhir keluar pasar”
(HR Ibnu Abi Syaibah 33987)

Imam Al-Qurthubi rohimahulloh menjelaskan :

في هذه الأحاديث ما يدل على كراهة دخول الأسواق ، لا سيما في هذه الأزمان التي يخالط فيها الرجال النسوان ، وهكذا قال علماؤنا

“Pada hadis-hadis tersebut terdapat dalil dibencinya masuk pasar. Terutama pasar di zaman ini, dimana lelaki dan wanita bercampur jadi satu (ikhtilath). Demikianlah yang disampaikan para ‘Ulama kita”

Karenanya beliau menegaskan :

فحق على من ابتلاه الله بالسوق أن يخطر بباله أنه قد دخل محل الشيطان ومحل جنوده ، وأنه إن أقام هناك هلك

“Maka wajib bagi orang yang hobi ke pasar untuk ingat bahwa dia sedang memasuki tempatnya setan dan tempat para pasukannya (basecamp). Jika  dia menetap di sana maka dia akan celaka (mudah maksiat)”
(al-Jami’ li Ahkam al-Quran, 13/16).

Maka sungguh ironis ketika ada diantara kita yang gampang kangen dengan pasar atau mall, sampai-sampai dengan ikhlas menetapkan pasar atau mall sebagai tempat untuk menghilangkan stress, padahal didalamnya banyak sekali keburukan mulai dari musik, ikhtilath, basecamp nya setan, dan sebagainya.

Belum lagi jika dibandingkan ternyata lebih akrab dengan mall dibanding masjid. Kalau sepekan tidak masuk mall, stress. Sementara sepekan bahkan berpekan-pekan tidak hadir majelis ilmu di masjid, biasa saja.
Na’udzubillah min dzalik.
Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا ، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا

“Tempat yang paling dicintai Alloh adalah masjid dan tempat yang paling dibenci oleh Alloh adalah pasar”
(HR Muslim 1076).

Bolehkah Pergi ke Pasar atau Mall Karena Ada Keperluan?

Lalu bagaimana jika pergi ke Pasar atau Mall karena ada keperluan? Tafadhol.
Silahkan jika memang ada keperluan, sah-sah saja dan tidak terlarang. Entah itu sebagai pembeli ataupun sebagai pedagang. Sebab yang diwanti-wanti oleh para ‘Ulama itu aktivitasnya bukan profesinya.
Imam Nawawi rohimahulloh menjelaskan :

لأنها محل الغش ، والخداع ، والربا ، والأيمان الكاذبة ، وإخلاف الوعد ، والإعراض عن ذكر الله ، وغير ذلك مما في معناه ، والمساجد محل نزول الرحمة ، والأسواق ضدها

“Karena pasar pada umumnya adalah tempat orang berbuat curang, menipu, melakukan transaksi riba, sumpah palsu, ingkar janji, tidak berdzikir pada Alloh, dan aktivitas-aktivitas lainnya yang semakna.
Masjid adalah tempat turunnya rahmat. Sementara pasar kebalikannya”
(Syarh Shohih Muslim 5/171).

Dan yang terakhir, jangan sampai sedikit kebutuhan yang sebetulnya bisa kita beli di warung kelontong sebelah rumah, lalu dengan mudah kita jadikan sebagai dalil keperluan untuk pergi ke Pasar atau Mall tanpa faktor pendukung yang lainnya.
Hingga banyak yang didapati ke Mall untuk beli beras dan mie instan (konon katanya lebih murah) tapi hal itu malah menghabiskan waktu berjam-jam, sebab matanya juga ikut jalan-jalan. Sungguh ini kelalaian nyata yang sering kita dapati.

Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara tanda kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat”
(HR Tirmidzi 2317, Ibnu Majah 3976).

Wallahu A’lam,
Wabillahittaufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Selasa, 16 Rabiul Awwal 1441 H/ 13 November 2019 M



Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI IMAM SYAFI’I Kulliyyatul Hadits, dan Dewan konsultasi Bimbingan Islam,
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
klik disini

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )