Bagaimana Hukum Memiliki Senjata?

Bagaimana Hukum Memiliki Senjata?

Kepemilikan senjata khususnya senjata api di Indonesia diatur oleh UU No. 12 Tahun 1948. Lalu bagaimana hukum memiliki senjata menurut Islam? Simak pembahasan mengenai hal tersebut berikut ini:

Bagaimana Hukum Memiliki Senjata?

Tanya Jawab Grup WA Admin Ikhwan Bimbingan Islam

Pertanyaan:

بسم اللّه الرحمن الر حيم
 السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Apakah ada sunnahnya untuk memiliki senjata di rumah?

Jazakumullah khairan

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

(Ditanyakan oleh: salah satu member grup WA BIAS)

Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Memiliki senjata adalah urusan dunia yang sifatnya mubah karena tidak ada dalil yang melarangnya. Akan tetapi sesuatu yang mubah jika dilarang oleh penguasa maka ia menjadi haram hukumnya.

Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk mentaati penguasa selama instruksi mereka tidak berbau kemaksiatan.

Dalam kasus di negeri kita ada beberapa jenis senjata tertentu yang dilarang oleh rakyat sipil, dan ada yang dibolehkan seperti alat untuk bekerja dan koleksi. Maka hendaknya kita mentaati instruksi ini. Syaikh Ibrahim bin Amir Ar Ruhaili menyatakan:

الصورة الثالثة : أن يأمر فعل مباح أو تركه فيجب طاعته لذلك لعموم الأدلة الآمرة بطاعته فب غير معصية وهذا ما صرح به العلماء وقد تقدم قول أبو العباس القرطبي فلو أمر بجائز لصارت طاعته فيه واجبة ولما حلت مخالفاته قال زين الدين المناوي وفيه أن الإمام إذا أمر بمندوب أو مباح وجب وكذا إقرار المباركفوري لذلك

“Bentuk yang ketika Penguasa memerintahkan untuk melakukan sesuatu yang hukumnya boleh atau memerintahkan untuk meninggalkannya. Maka penguasa wajib ditaati di dalam masalah tersebut berdasarkan keumuman dalil yang memerintahkan untuk mentaati penguasa selama perintahnya tidak mengandung kemaksiatan. Inilah yang ditegaskan oleh para ulama. Imam Abul Abbas Al-Qurthubi menyatakan: Seandainya penguasa memerintahkan suatu yang yang boleh, maka perintahnya tersebut menjadi wajib dan tidak boleh diselisihi. Imam Zainuddin Al-Munawi juga berkata: Di dalamnya terdapat dalil bahwa jika penguasa memerintahkan suatu perkara yang sunnah atau yang boleh maka wajib ditaati. Demikian pulalah yang disepakati oleh Imam Al-Mubarakfuri.” (Al-Ihkan Fi Sabri Ahwalil Hukkam: 33 oleh Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili).

Wallahu A’lam
Wabillahittaufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله
Jumat, 11 Muharram 1440H / 21 September 2018M



Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله  
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS