Bagaimana Cara Sholat Ied Saat Pandemi Corona bimbingan islam
Bagaimana Cara Sholat Ied Saat Pandemi Corona bimbingan islam

Bagaimana Cara Sholat Ied Saat Pandemi Corona?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang baik hati berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang bagaimana cara sholat ied saat pandemi corona?
Silahkan membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah Azza wa Jalla selalu menjaga Ustadz & keluarga.

Ustadz, bagaimana tata cara sholat Ied di tengah kondisi PSBB karena pandemi corona seperti sekarang ini?
bolehkah di rumah atau tidak? bagaimana tatacara sholat ied dirumah?

Jazakumullah khairan katsiron ustadz, barakallahu fiik.

(Disampaikan oleh Fulanah, sahabat BiAS T09-28)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du
Ayyuhal  Ikhwan wal Akhwat baarakallah fiikum Ajma’in.

Begini Tata Cara Pelaksanaan Shalat I’d di rumah secara ringkas:

Berikut kami sampaikan tata cara Shalat Idul fitri beserta penjelasan penjelasan secara lengkap berdasarkan Dalil :

Shalat Idul Fitri adalah salat yang dilaksanakan setelah berakhirnya Ramadhan. Pelaksanaan shalat idul fitri adalah pada saat tanggal 1 Syawal, biasanya di Negara kita Indonesia, berlangsung di pagi hari mulai sekitar pukul; 06.30 saat matahari mulai terbit.

Sunnah-Sunnah di hari raya ‘idul fitri

1. Disunnahkan untuk mandi sebelum shalat Idul Fithri di rumah

Mandi ketika itu disunnahkan. Yang menunjukkan anjuran ini adalah atsar dari sahabat Nabi.

Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, seseorang pernah bertanya pada ‘Ali mengenai mandi.
‘Ali menjawab, “Mandilah setiap hari jika kamu mau.”
Orang tadi berkata, “Bukan. Maksudku, manakah mandi yang dianjurkan?”
‘Ali menjawab, “Mandi pada hari Jum’at, hari ‘Arafah, hari Idul Adha dan Idul Fithri.”
(HR. Al-Baihaqi, 3/278. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Lihat Al-Irwa’, 1/77)

Ada riwayat dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma sebagai berikut.

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى

Dari Nafi’, (ia berkata bahwa) ‘Abdullah bin ‘Umar biasa mandi di hari Idul Fithri sebelum ia berangkat pagi-pagi ke tanah lapang.
(HR. Malik dalam Al-Muwatho,’ no. 426. Imam Nawawi menyatakan bahwa atsar ini shahih)

Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa para ulama sepakat akan disunnahkannya mandi untuk shalat ‘id.

Dikatakan dianjurkan karena saat itu adalah berkumpungnya orang banyak sama halnya dengan shalat Jum’at. Kalau shalat Jum’at dianjurkan mandi, maka shalat ‘id pun sama.

2. Berhias diri dan memakai pakaian yang terbaik

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah membawakan riwayat dari Imam Bukhari, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki baju khusus di hari Jumat dan di saat beliau menyambut tamu.
(lihat Kitab Bulughul Maram, no. 533, yang juga dibawakan oleh Imam Bukhari dalam kitab Al Adab Al-Mufrad)

Dari sahabat Jabir radhiallahu ‘anhu, ia berkata,

كَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُبَّةٌ يَلْبَسُهَا لِلْعِيْدَيْنِ وَيَوْمِ الجُمُعَةِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki jubah khusus yang beliau gunakan untuk Idul Fithri dan Idul Adha, juga untuk digunakan pada hari Jum’at.”
(HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya, no. 1765)

Diriwayatkan pula dari Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih bahwa Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma biasa memakai pakaian terbaik di hari ‘ied. Dan ini adalah sunnah para sahabat yang telah baku.

Aturan berpenampilan menawan di hari ‘ied berlaku bagi pria. Sedangkan bagi wanita, lebih aman baginya untuk tidak menampakkan kecantikannya di hadapan laki-laki lain. Kecantikan wanita hanya spesial untuk suami.

3. Makan sebelum shalat Idul Fithri

Dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fithri dan sebelumnya beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.”
(HR. Ahmad, 5/352. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Di antara hikmah bahwa diperintahkan makan sebelum shalat Idul Fithri adalah supaya tidak disangka lagi ada tambahan puasa. Juga maksudnya adalah dalam rangka bersegera melakukan perintah Allah Ta’ala.
(lihat penjelasan Ibnu Hajar rahimahullah dalam kitab beliau, Fathul Al baari, 2/446).

Hadits dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu menyatakan dianjurkan makan kurma berjumlah ganjil. beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ .. وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah keluar pada hari Idul Fithri (ke tempat shalat, pent.) sampai beliau makan beberapa kurma terlebih dahulu. Beliau memakannya dengan jumlah yang ganjil.”
(HR. Bukhari, no. 953)

Kalau tidak mendapati kurma, boleh makan makanan halal lainnya.

4. Bertakbir di rumah sambil menunggu anggota keluarga lain siap melaksanakan shalat

Ketika puasa Ramadhan telah sempurna, kita diperintahkan untuk mensyukurinya dengan memperbanyak takbir. Allah Ta’ala berfirman,

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
(QS. Al Baqarah: 185).

Imam Az-Zuhri rahimahullah menyatakan bahwa kaum muslimin ketika itu keluar dari rumah mereka sambil bertakbir hingga imam hadir (untuk shalat ied, pent.). Dari penjelasan ini diambil faidah juga bahwasanya dianjurkan untuk bertakbir semenjak masih di dalam rumah juga.

Namun jika kita lihat dari keumuman ayat Surat Al-Baqarah ayat 185 yang menunjukkan perintah bertakbir itu dimulai sejak bulan Ramadhan sudah berakhir, berarti takbir Idul Fithri dimulai dari malam Idul Fithri hingga imam datang untuk shalat ‘id.

Takbir yang diucapkan sebagaimana dikeluarkan oleh Sa’id bin Manshur dan Ibnu Abi Syaibah, bahwasanya Ibnu Mas’ud bertakbir,

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.
(artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, segala puji bagi-Nya).

Kalau lafazh di atas takbir “Allahu Akbar” ditemukan sebanyak dua kali. Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah pula disebutkan dengan sanad yang sama dengan penyebutan tiga kali takbir.
(Lihat Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 36442)

Artinya di sini, dua atau tiga kali takbir sama-sama boleh.

Syaikhul Islam rahimahullah menerangkan bahwa jika seseorang mengucapkan “Allahu Akbar, Allahu akbar, Allahu akbar”, itu juga diperbolehkan.
(lihat Majmu’ Al-Fatawa, 24/220)

Disyari’atkan bertakbir dilakukan oleh setiap orang dengan mengeraskan bacaan takbir. Ini berdasarkan kesepakatan empat ulama madzhab. (Majmu’ah Al-Fatawa, 24/220).

Tataran Praktek Shalat ‘Id

1. Pelaksanaan shalat tidak didahului oleh adzan atau iqamah (niat di dalam hati)

2. Pelaksanaan shalat idul fitri yang dilaksanakan di rumah tidak ada khutbah setelahnya.

3. Pelaksanaan shalat sebanyak dua rakaat.

4. Di dalamnya terdapat 12 takbir sunnah, dengan tujuh takbir di rakat pertama setelah takbiratul ihram (tidak terhitung takbir intiqol/takbir perpindahan), sebelum membaca surat atau ayat, dan lima kali takbir di rakaat kedua (setelah takbir perpindahan bangun dari sujud), sebelum membaca ayat atau surat.

5. Saat membaca takbir, maka di sela-selanya dibacakan kalimat, Subhaanallah wal-hamdu lillahi wa laa ilaaha illallaah wallaahu akbar (Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah. Tiada tuhan selain Allah. Allah Mahabesar), atau zikir pujian yang lain.

6. Bacaan yang dianjurkan pada rakaat pertama shalat idul fitri adalah Surat Qaf atau surat Al A’la dan surat Al Qamar atau surat Al Ghasiyah di Rakaat kedua (surat Qof berpasangan dengan surat Al qomar, dan Surat Al A’la berpasangan dengan surat Al Ghasyiyah), atau jika belum dihafal boleh membaca surat lain yang mudah baginya.

7. Pelaksanaan shalat ini sebagaimana shalat pada biasanya, hanya saja terdapat perbedaan khusus sebagaimana pada tata cara di atas. Kemudian setelah shalat ‘id tidak ada zikir dan bacaan doa khusus.

Apa Yang Dilakukan Setelah Pelaksanaan Shalat ‘Id?

Setelah selesai shalat ‘id, boleh saling mendoakan dan mengucapkan selamat (at-tahniah), karena hal ini telah menjadi sunnah yang baik yang bisa dilakukan di hari raya ‘Idul Fithri, yaitu saling mengucapkan selamat. Selamat di sini baiknya dalam bentuk doa seperti dengan ucapan “taqabbalallahu minna wa minkum” (semoga Allah menerima amalan kami dan kalian). Ucapan seperti itu sudah dikenal di masa salaf dahulu.

فعن جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ : كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqabbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).”
Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. (Fath Al-Bari, 2: 446)

Imam Ahmad rahimahullah berkata,

وَلَا بَأْسَ أَنْ يَقُولَ الرَّجُل لِلرَّجُلِ يَوْمَ الْعِيدِ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك

“Tidak mengapa (artinya: boleh-boleh saja) satu sama lain di hari raya ‘ied mengucapkan: Taqobbalallahu minna wa minka.”
(lihat Kitab Al-Mughni, 2/250).

Hukum Shalat ‘Id di Rumah

Jumhur ulama berpendapat disyariatkannya shalat I’d bagi wanita, budak, dan orang sakit adalah di rumah, jika berhalangan untuk datang ke tanah lapang, dan boleh bagi musafir untuk melaksanakan shalat i’d meskipun sendirian dimana dia turun atau singgah di suatu tempat dalam perjalanannya tersebut.
(lihat kitab al Mukhtasar al Umm, 8/125 dan Al Istidzkar, 2/397)

Imam Al-Bukhari rahimahullah membuat judul bab dalam kitab Shahihnya sembari berkata :

بَابٌ: إِذَا فَاتَهُ العِيدُ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ، وَكَذَلِكَ النِّسَاءُ، وَمَنْ كَانَ فِي البُيُوتِ وَالقُرَى،

“Bab : Jika seseorang terluput dari shalat íed maka ia shalat dua rakaat, demikian juga para wanita, dan orang-orang yang ada di rumah-rumah dan juga di kampung-kampung.”

Dimana beliau menyebutkan alasannya:

لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هَذَا عِيدُنَا أَهْلَ الإِسْلاَمِ» وَأَمَرَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ مَوْلاَهُمْ ابْنَ أَبِي عُتْبَةَ بِالزَّاوِيَةِ فَجَمَعَ أَهْلَهُ وَبَنِيهِ، وَصَلَّى كَصَلاَةِ أَهْلِ المِصْرِ وَتَكْبِيرِهِمْ وَقَالَ عِكْرِمَةُ: «أَهْلُ السَّوَادِ يَجْتَمِعُونَ فِي العِيدِ، يُصَلُّونَ رَكْعَتَيْنِ كَمَا يَصْنَعُ الإِمَامُ» وَقَالَ عَطَاءٌ: «إِذَا فَاتَهُ العِيدُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ»

Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Ini adalah adalah id (hari raya) kita kaum muslimin.’ Anas bin Malik memerintahkan budaknya Ibnu Abi ‘Utbah di Az-Zawiyah, maka beliaupun mengumpulkan keluarganya dan anak-anaknya dan shalat seperti shalat orang-orang di kota dan sesuai dengan takbir mereka.
Ikrimah berkata, ‘Penduduk kampung (demikian juga para petani) berkumpul tatkala id, lalu mereka shalat dua rakaat sebagaimana yang dilakukan oleh penguasa (yang shalat id di kota)”.
‘Atha’ berkata, ‘Jika seseorang luput dari shalat id maka ia shalat dua rakaat.”
(HR. Bukhari secara Mu’allaq, 2/22).

Ada juga riwayat dari Ibnu Mas’ud dan menjadi pendapat Ats Tsauri. Sebagaimana diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata,

مَنْ فَاتَهُ الْعِيدُ فَلْيُصَلِّ أَرْبَعًا ، وَمَنْ فَاتَتْهُ الْجُمُعَةُ فَلْيُصَلِّ أَرْبَعًا

“Barangsiapa yang luput shalat ‘ied, maka hendaklah ia menggantinya dengan shalat empat rakaat. Barangsiapa yang luput shalat Jum’at, maka hendaklah ia menggantinya dengan shalat empat rakaat.”
(Al-Mughni, 3/284)

Atsar dari Anas bin Malik dan Abdullah Bin Mas’ud di atas bisa diamalkan dan dikompromikan, sebagaimana juga atsar-atsar para tabiin dijadikan dalil oleh jumhur (mayoritas) ulama bahwasanya barang siapa yang terluput dari shalat id, maka hendaknya ia mengqadhanya.
Dikompromikan dengan cara; jika ia bersama keluarganya maka mengqadhanya dengan shalat dua rakaat dan bertakbir di rumah sebagaimana shalat I’d biasanya. Dan jika ia shalat bersendirian, maka ia shalat empat rakaat. Namun tidak perlu khutbah setelah shalat. Wallahu a’lam.”
(atau boleh juga memilih salah satunya; bisa dua rakaat atau empat rakaat. lihat penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa, 24/186).

Wallahu Ta’ala A’lam.

 

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Jum’at, 23 Ramadhan 1441 H / 15 Mei 2020 M



Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini