Manhaj

Bagaimana Bermuamalah Dengan Pelaku Bidah?

Bagaimana Bermuamalah Dengan Pelaku Bidah?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Bagaimana Bermuamalah Dengan Pelaku Bidah? Selamat membaca.


Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustad, bagaimana batasan-batasan kita berteman dengan para pelaku bidah?

جزاك الله خيرا

(Dari Fulan Anggota Grup Whatsapp Sahabat BiAS)


Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

1. Pelaku-Pelaku Bidah Tidak Dihukumi Sama

Pertama yang harus kita lihat bahwa tingkat para pelaku bid’ah itu berbeda-beda. Maka barangsiapa yang menyamaratakannya, pasti ia melampaui batas dan bisa jadi jatuh pada kezaliman.

Insan Lemah

Secara asal, jiwa setiap insan telah diciptakan dalam keadaan lemah. Allah Ta’ala berfirman,

يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا ﴿٢٨﴾

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS. An-Nisa: 28).

Baca juga: Hukum Makanan Pada Acara Bid’ah

2. Bergaul Dan Berteman Dengan Sahabat Terbaik

Oleh karenanya, Allah Yang Maha mulia dengan rahmat-Nya membimbing hamba-hamba-Nya pada perkara yang bisa membantu menjaga agama mereka, yaitu berteman dengan orang-orang baik dan saleh.

Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman,

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini.” (QS. Al-Kahfi: 28).

Baca Juga: Temanmu, Cerminan hidupmu

3. Menjauhi Pelaku Bid’ah

Orang yang paling besar mudaratnya jika dijadikan teman adalah ahlul bid’ah alias pelaku bid’ah tulen yang menyebarkan bid’ahnya dan membelanya. Berbeda dengan orang awam yang terpengaruh dengan bid’ah pelaku tulen, juga tidak menyebarkan bid’ahnya. Keduanya tidak dihukumi sama.

Untuk Pelaku Bid’ah tulen dan para pendakwahnya, bermuamalah seperti berteman, bergaul, dan bermajelis dengan mereka lebih besar daripada mudarat yang terjadi karena bergaul dengan pelaku maksiat yang masih Ahlus Sunnah. Oleh karena itu, telah masyhur dalam kitab-kitab ulama Ahlus Sunnah tentang peringatan agar tidak berteman atau bermajelis dengan mereka.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ  وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ ﴿٦٨﴾ 

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (QS. Al-An’am: 68)

Baca Juga: Bagaimana Penjelasan Hukum Bid’ah?

4. Menghadapi Masyarakat Yang Terpengaruh Dengan Bid’ah

Untuk orang awam yang terpengaruh dengan bid’ah yang benar-benar bid’ah dengan kesepakatan para ulama, maka bermumalah dengan mereka harus memperhatikan arahan dan penjelasan para ulama, agar tidak menzalimi dan melampaui batas dalam sikapnya.

Sebagian kaum muslimin mempraktikkan hajr kepada Ahlul Bid’ah (menjauhi masyarakat yang terpengaruh bid’ah) secara sembrono tanpa melihat dan menimbang antara maslahat dan mudharat, mereka menyangka bahwasanya hajr (memutus hubungan) yang mereka selalu terapkan tersebut adalah tujuan.

Praktek hajr secara sembrono tersebut banyak menimbulkan mafsadah dan menyebabkan terhalangnya dakwah ahlus sunnah, dan semakin membuat image pada masyarakat bahwa dakwah Ahlu Sunnah adalah dakwah yang sangar dan keras.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelasakan (yang artinya);

“Menjauhi pelaku bid’ah atau hajr ini bervariasi penerapannya, sesuai dengan kondisi para pelaksananya, tergantung kuat atau lemahnya kekuatan mereka. Demikian juga banyak atau sedikitnya jumlah mereka. Sebab, tujuan dari hajr adalah memberi hukuman dan pelajaran bagi orang yang di-hajr, sekaligus agar orang umum tidak melakukan seperti perbuatan orang yang di-hajr.

Jika maslahatnya lebih besar -di mana praktek hajr terhadap pelaku maksiat mengakibatkan berkurangnya keburukan- maka kala itu hajr disyari’atkan. Namun, apabila orang yang di-hajr, demikian juga orang lain tidak berhenti dari kemaksiatannya, bahkan semakin menjadi-jadi, dan pelaku hajr itu sendiri lemah, sehingga mudharat yang timbul lebih besar daripada kemaslahatan, maka hajr tidaklah disyari’atkan, bahkan sikap lemah lembut kepada sebagian orang lebih bermanfaat daripada penerapan hajr untuk kondisi semacam ini.

Terkadang, penerapan hajr kepada sebagian orang lebih bermanfaat dibandingkan bersikap lemah lembut. Sebaliknya banyak juga dakwah dengan lemah lembut, dan hal itu diterima secara sukarela.” (intisari penejelasan Ibnu Taimiyah dalam Majmuu’ al-Fataawa 18/206).

Baca juga: Cara Lembut dan Hikmah Menasehati Orang Tua 

5. Tiga Keadaan Menjauhi Pelaku Bid’ah Atau Maksiat

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Ada 3 Kondisi hajr/menjauhi pelaku bid’ah atau pelaku maksiat:

1. Maslahat lebih kuat dibandingkan kerusakan, maka hajr tersebut dituntut (untuk diterapkan)

2. Atau kerusakan yang lebih kuat, maka penerapan hajr tanpa diragukan lagi adalah dilarang

3. Atau belum dapat ditentukan manakah yang lebih kuat antara kerusakan maupun maslahat, maka yang lebih dekat (kepada kebenaran) adalah dilarangnya penerapan hajr, karena keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثٍ يَلْتَقِيَانِ فَيَصُدُّ هَذَا وَيَصُدُّ هَذَا وَخَيْرُهُمَا الَّذِىْ يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ

Tidak halal bagi seorang muslim untuk meng-hajr saudaranya lebih dari tiga hari. Keduanya bertemu, tetapi yang satu berpaling, begitu juga yang lainnya. Dan yang terbaik dari keduanya adalah yang mulai mengucapkan salam.” (HR . Al-Bukhari, 5/2302), 5879 dan Muslim, 4/1984).

Baca juga: Tentukan Nasibmu Kelak Di Telaga Rasūlullāh

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Senin, 25 Rabiul Awal 1443 H/ 1 November 2021 M


Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

Baca Juga :  Tolak Ukur Disebut Negara Muslim Atau Kafir

Ustadz Fadly Gugul, S.Ag

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2012 – 2016 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Takhosus Ilmi di PP Al-Furqon Gresik Jawa Timur | Beliau juga pernah mengikuti Pengabdian santri selama satu tahun di kantor utama ICBB Yogyakarta (sebagai guru praktek tingkat SMP & SMA) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Dakwah masyarakat (kajian kitab), Kajian tematik offline & Khotib Jum’at

Related Articles

Back to top button