Bagaimana Apabila Masih Mempunyai Hutang Puasa Ramadhan?

Bagaimana Apabila Masih Mempunyai Hutang Puasa Ramadhan?

Bagaimana Apabila Masih Mempunyai Hutang Puasa Ramadhan?

Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الر حيم
السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Istri saya tadi pagi baru inget kalo masih punya utang puasa tahun lalu, nah apa yang harus di lakukan ya Ustadz? Dibayar setelah puasa ini atau gimana ya ?

(Disampaikan oleh Admin N08)

 


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

بِسم الله

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Puasa pada bulan bulan ramadhon adalah puasa yang Allah wajibkan bagi setiap orang yang beriman,

Allah berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Bulan ramadhon adalah bulan diturunkannya alquran, sebagai petunjuk bagi manusia, penjelas dan pembeda (antara haq dan bathil), maka siapa yang berada di bulan itu maka wajib baginya berpuasa”

(QS. Al-Baqarah 185)

Dan Rasulullah bersabda:

بني الإسلام على خمس شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة وحج البيت وصوم رمضان

Islam itu dibangun diatas 5 pilar : Syahadat bahwasanya tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan berpuasa dibulan ramadhon.”

(HR. Bukhari 8, HR Muslim 16, HR Tirmidzi 2612)

Akan tetapi Allah memberi keringanan bagi sebagian kaum muslimin untuk tidak berpuasa disebabkan alasan syar’i, seperti sakit, safar, hadih dan nifas, akan tetapi wajib bagi mereka menggantinya di hari yang lain diluar bulan ramadhon.

Allah berfirman:

وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka siapa yang sakit atau sedang safar (di bulan ramadhon) maka wajib dia ganti pada hari yang lain”.

(QS. Al-Baqoroh 184)

Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

كنا نؤمر بقضاء الصوم ولا نؤمر بقضاء الصلاة

“Dahulu (ketika kita haidh di zaman rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam), kita diperintahkan untuk mengganti puasa dan tidak diperintahkan mengganti sholat.”

(HR. Muslim 508)

Dan para ulama sepakat atas wajibnya bagi seseorang yang memilki udzur, untuk mengganti puasa sebelum datang ramadhon berikutnya.

Lalu, bagaimana dengan orang yang sengaja tidak menggantinya (tanpa udzur) sampai datang ramadhon berikutnya?

Maka para ulama mengatakan dia berdosa akan kelalaiannya dan tetap wajib mengganti puasa tersebut, dan mereka berselisih pendapat apakah ditambahkan kewajiban memberi makan kepada faqir miskin:

1. Imam Malik, Syafi’i dan Ahmad berpendapat bahwsanya wajib baginya memberi makan orang miskin.
2. Imam Abu Hanifah berpendapat: orang tersebut wajib mengganti saja. (lihat penjelasan lebih lanjut dalam kitab majmu’ dan mughny).

Pendapat yang kuat insya Allah adalah pendapat yang dipegang Abu Hanifah, dikarenakan kewajiban yang Allah tetapkan dalam al-quran adalah mengganti hari yang batal di hari lain, tanpa menjelaskan harus memberi makan.

Wallohu A’lam
Wabillahittaufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Senin , 01 Ramadhan 1440 H/ 06 Mei 2019



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS