Dikuasai setan? Kerasukan setan?

Dikuasai setan? Kerasukan setan?

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Fenomena kemasukan setan atau kesurupan tentu telah diketahui oleh masyarakat. Jika kita tanya pada masyarakat tentang apa saja sebab seseorang diganggu setan, niscaya kita dapati jawaban yang beragam, pernah belajar tenaga dalam, pernah pakai susuk, pernah semedi, dll. Namun ada satu yang jarang terlintas dibenak kita semua, yaitu bagaimana proses kita “memulai” berhubungan dengan istri atau suami kita.

Dalam hadits Ibnu ‘Abbas rodhiallohu ‘anhu,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :  لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا ، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا

“Dari sahabat Ibnu ‘Abbas rodhiallohu ‘anhuma, dari Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jika salah seorang diantara kalian ingin mendatangi istrinya (untuk berjima’), dan ia membaca

بِسْمِ اللَّهِ اللهم جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ ما رَزَقْتَنَا

“Dengan menyebut Nama Alloh. Ya Alloh, jauhkanlah kami dari setan, dan jauhkanlah setan dari anak yang Engkau karuniakan kepada kami” 

kemudian jika mereka berdua dikaruniai anak (karena jima’ tersebut), niscaya ia (anak) itu tidak akan diganggu oleh setan selamanya”  [HR Bukhori 6388, Muslim 1434]

Dan adalam riwayat yang lain disebutkan;

لم يَضُرَّهُ الشَّيْطَانُ ولم يُسَلَّطْ عليه

“niscaya ia (anak) itu tidak akan diganggu oleh setan, dan setan pun juga tidak akan dapat untuk menguasainya”. [HR Bukhori 3283]

Apa makna sabda Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam : “…setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya” ? Maknanya setan tidak akan bisa menyesatkan dan mencelakakan anak tersebut dalam diri dan agamanya, tapi bukan berarti ini menunjukkan bahwa anak tersebut terlindungi dan terjaga dari perbuatan dosa. (Fathul Baari  9/229 dan Faidhul Qadiir  5/306)
Ibnu Hajar rohimahulloh juga berkata: “Banyak dari orang yang telah memahami keutamaan bacaan dzikir ini, akan tetapi ia lalai darinya ketika hendak berjima’, dan sebagian dari yang ingat akan bacaan doa ini serta mengucapkannya tidak dikaruniai anak. (Fathul Bari 9/263).

Jika kita pahami hadits serta penjelasan diatas, tentu kita akan dapat faedah bahwa mengamalkan doa tersebut akan “menjaga” anak turunan kita dari gangguan serta penyesatan setan, baik itu kesurupan atau yang semisalnya.
Karena itulah saudaraku, sangat disayangkan jika saat kita mendatangi istri untuk berhubungan dan tidak mengucapkan doa diatas, ternyata Alloh karuniakan anak dari hasil persetubuhan tanpa doa  itu…
Semoga ini bisa jadi pengingat bagi kita semua.

Wallohu A’lam
Wabillahit Taufiq

Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)

TAUSIYAH
Bimbinganislam.com

CATEGORIES
Share This

COMMENTS