Ar Rahman Dzat maha Pengasih lagi Penyayang bimbingan islam
Ar Rahman Dzat maha Pengasih lagi Penyayang bimbingan islam

Ar Rahman Dzat maha Pengasih lagi Penyayang

Diantara nama-nama Allah yang baik adalah Ar Rahman. Kata Ar Rahman berasal dari kata rahmat yang berarti kasih sayang. Sehingga nama tersebut menunjukkan bahwa Allah ﷻ memiliki rahmat dan rasa kasih sayang yang sangat luas dan sempurna.

Allah ﷻ menyebutkan Ar Rahman dalam alquran sebanyak 57 kali, diantaranya :

هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِى لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَٰلِمُ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ۖ هُوَ ٱلرَّحْمَٰنُ ٱلرَّحِيمُ

“Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al – Hasyr: 22).

ٱلرَّحْمَٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَىٰ

“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy.”
(QS. Thaha : 5).

إِن كُلُّ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ إِلَّآ ءَاتِى ٱلرَّحْمَٰنِ عَبْدًا

“Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.”
(QS. Maryam : 93).

Perbedaan antara Ar Rahman dan Ar rahim

Ar Rahman dan Ar rahim pada asalnya sama-sama diambil dari kata rahmat, namun kata Ar Rahman secara makna lebih sangat rahmatnya daripada Ar rahim.

Adapun perbedaan antara dua nama tersebut bagi Allah ﷻ diperselisihkan oleh para ulama:

Pendapat pertama menyatakan bahwa Ar Rahman memiliki makna rahmat yang mencakup seluruh makhluk di dunia dan seluruh orang beriman di akhirat, sedangkan Ar rahim memiliki makna rahmat yang khusus untuk orang beriman saja di dunia maupun di akhirat.

Mereka berdalil dengan firman Allah ﷻ:

ٱلرَّحْمَٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَىٰ

“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy.”
(QS. Thaha : 5).

Allah ﷻ menyebutkan dirinya berada tinggi diatas ‘arsy (makhluk paling tinggi) dengan kata Ar Rahman untuk menunjukkan rahmatnya mencakup semua makhluk.

Dalam ayat lain Allah ﷻ berfirman:

وَكَانَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

“Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”
(QS. Al – Ahzab: 43).

Namun, ada satu ayat yang menunjukkan bahwa kata Arrahim juga mencakup semua makhluk yang bisa melemahkan pendapat ini, yaitu dalam firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia”
(QS. Al-Baqarah : 143).

Pendapat kedua menyatakan bahwa ArRahman menunjukkan sifat yang melekat pada Allah ﷻ yang tidak mungkin terpisahkan dariNya (sifat dzatiyyah), sedangkan Arrahim menunjukkan perbuatan rahmat Allah ﷻ kepada hambaNya. Jadi Ar Rahman disebutkan untuk menjelaskan bahwa Allah ﷻ memiliki sifat rahmat yang luas sedangkan Arrahim disebutkan tatkala rahmat tersebut berhubungan dengan hambaNya.

Perbedaan lain antara ArRahman dan Arrahim adalah bahwa Ar Rahman adalah sifat khusus Allah ﷻ tidak boleh diberikan kepada makhluk, berbeda halnya dengan Arrahim yang dibolehkan diberikan kepada makhluk, sebagaimana firman Allah ﷻ:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
(QS. At- Taubah: 128).

Dalam ayat tersebut Allah ﷻ memberikan sifat Arrahim kepada rasulullah ﷺ yang menunjukkan nama tersebut tidak khusus kepada untuk Allah ﷻ.

Keagungan nama Ar Rahman

Keagungan nama Ar Rahman terlihat pada:

1. Allah ﷻ membuka kitabNya dengan nama Ar Rahman yaitu di dalam:

بسم الله الرحمن الرحيم

“Dengan nama Allah ﷺ ArRahman Arrahim.”

2. Allah ﷻ menjadikan nama tersebut sebagai permulaan setiap surat.

3. Nabi Sulaiman عليه السلام membuka suratnya dengan nama tersebut, sebagaimana yang Allah firmankan:

إِنَّهُۥ مِن سُلَيْمَٰنَ وَإِنَّهُۥ بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

“Sesungguhnya surat ini dari Sulaiman, sesungguhnya (isi)nya: Dengan menyebut nama Allah ArRahman Arrahim.”
(QS. An – Naml : 30).

Disarikan dari kitab An-Nahjul Asma fii syarhi Asmaillah husna karangan Muhammad Hamud Annajdy dan kitab Fikih Asmaul Husna karangan Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Badr

Ditulis oleh:
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
(Kontributor bimbinganislam.com)



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini