MuamalahUmum

Apakah Ucapan “Insyaallah” Termasuk Hutang?

Apakah Ucapan “Insyaallah” Termasuk Hutang?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan apakah ucapan “insyaallah” termasuk hutang? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Saya mau bertanya, jika seseorang pada sebelumnya pernah berbisnis bersama dan di awal mengatakan kalau “insyallah uang modal bisa kembali, nanti insyallah saya bantu”.

Lalu suatu waktu karena ada sesuatu hal yang mana bisnisnya tidak dapat dilanjutkan dan uangnya sama-sama tidak kembali, lantas apakah seseorang itu wajib untuk menggantinya?

Jikalau wajib, lantas bagaimana cara mengganti uang tersebut jika teman bisnisnya tidak tahu keberadaannya? Terima kasih.

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh

Penggunaan kata insyaallah diarahkan untuk menyerahkan semua perkara hanya tergantung kehendak Allah, bukan atas kehendak seorang hamba.

وَلا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فاعِلٌ ذلِكَ غَداً إِلَّا أَنْ يَشاءَ اللَّهُ

Baca Juga:  Menyoal Aplikasi Vtube, Halal Atau Haram?

Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu besok pagi,” kecuali (dengan mengatakan), “Insya Allah”. (QS. Al-Kahfi 23)

Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan: Ini adalah petunjuk dari Allah kepada Rasul-Nya –semoga sholawat Allah dan keselamatan dari Allah kepada beliau- kepada adab.

Yaitu jika beliau telah memiliki tekad untuk mengerjakan sesuatu di masa yang akan datang, hendaknya mengembalikan hal itu kepada Masyi-ah (Kehendak) Allah Azza Wa Jalla, Yang Maha Mengetahui perkara yang ghaib.

Yang Maha Mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang sedang/akan terjadi, dan apa yang tidak terjadi, bagaimana kalau terjadi (Tafsir Ibn Katsir)

Saat bertemu Khidhr, Nabi Musa ingin mengambil ilmu darinya. Nabi Musa juga berjanji dengan mengucapkan InsyaAllah bahwa beliau akan berusaha sabar tidak akan bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan Khidhr, namun qoddarollah hal itu tidak tercapai.

Baca Juga:  Apakah Menelan Air Liur Membatalkan Puasa?

قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا

Nabi Musa berkata : Engkau akan mendapati aku insyaAllah sebagai orang yang sabar dan tidak akan bermaksiat terhadap perintahmu (QS. Al-Kahfi ayat 69)

Maka apa pun yang diinginkan dari kandungan kalimat yang terlontar dari seorang hamba, baik keinginan biasa atau tekat kuat atau janji hendaknya selalu menggantukan urusan hanya kepada Allah dengan mengatakan kalimat tersebut.

Maka kembali melihat niat seseorang dengan mengatakan kalimat tersebut, bila ternyata janji kepada seseorang maka ia harus/berusaha menunaikannya, semampu dan sebisanya. Bila sudah berusaha maka tidak berdosa, insyaallah.

Bila maksudnya adalah keinginan untuk menjalankannya bila dimudahkan maka bila ada halangan untuk menjalankannya maka tidak ada konsekuensi dalam meninggalkannya.

Tetap mencoba memahamkan kepada orang terkait yang terkena dampak dari ketidakmampauan dalam menjalankannya, sehingga tidak akan ada yang tersinggung atau pemikiran negatif dari orang tersebut.

Baca Juga:  "Kehidupan Hanya Kesenangan"?

Terkait dengan uang yang tidak bisa kembali dari modal yang telah hilang, maka itu adalah takdir dan sebagai resiko dalam berbisnis.

Sehingga terkait dengan kata insyaallah dan ketikmampuan setelahnya maka sekali lagi tidak ada kewajiban dalam menanggung suatu keinginan yang itu bukan bagian dari hutang harta yang harus dilunasi.

Semoga Allah memberikan kemampuan kepada kita semua untuk bisa melaksanakan semua janji dan tekat baik kita serta bisa memberikan manfaat kepada sesama.

Wallahu `alam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Rabu 18 Safar 1444 H/14 September 2022 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di sini

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid
Back to top button