Apakah Takdir Bisa Diubah bimbingan islam
Apakah Takdir Bisa Diubah bimbingan islam

Apakah Takdir Bisa Diubah?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang apakah takdir bisa diubah?
selamat membaca.

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Ustadz dan keluarga selalu dalam kebaikan dan lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ustadz, afwan ingin bertanya lagi. Ada ikhwan yang bilang, Takdir itu sudah ditetapkan,takdir ada dua: qadha’ & qadar, qadha’ tidak bisa diubah dan qadar bisa diubah”. Apakah pernyataan ikhwan tersebut benar?

(Disampaikan oleh Fulan, penanya dari media sosial bimbingan islam)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du

Iman Kepada Qadar Termasuk Enam Rukun Iman

Takdir di dalam bahasa kita di dalam istilah agama Islam disebut dengan qadar. Iman kepada qadar termasuk rukun iman ke enam. Iman seseorang rusak, jika tidak beriman kepada qadar. Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada malaikat Jibril, ketika ditanya tentang iman:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari akhir, dan engkau beriman kepada qadar, yang baik dan yang buruk.”
(HR. Bukhori, no: 50; Muslim, no: 9)

Ini merupakan rukun iman yang enam, wajib diyakini oleh setiap mukmin, barangsiapa mengingkari salah satunya, maka dia kafir, keluar dari islam!

Makna Qadar dan Qadha’

Qadar secara bahasa artinya: takdir (penentuan). Sedangkan qadha’ secara bahasa artinya: hukum (keputusan).
Qadha’ dan qadar adalah dua istilah, jika keduanya berpisah, maka maknanya sama, dan jika berkumpul, maknanya berbeda.
Yaitu jika disebut qadar Allah, maka semakna dengan qadha’ Allah, begitu pula sebaliknya.

Dan jika disebut bersama-sama, maka masing-masing memiliki makna yang berbeda, yaitu:

– Qadar adalah: apa yang telah Allah tentukan semenjak dahulu akan terjadi pada makhlukNya.

– Qadha’ adalah: apa yang Allah putuskan pada makhlukNya, yang berupa mewujudkan, meniadakan, atau merubah. Sehingga qadar mendahului qadha’.
(Syarh Aqidah Wasitiyah, hlm: 442, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, penerbit: Dar Ibnil Haitsam)

Iman Kepada Qadar Mencakup Empat Perkara

Iman kepada qadar mencakup empat perkara. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat th 728 H) rohimahulloh berkata:
“Firqah Najiyah (golongan yang selamat), Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani qadar yang baik dan yang buruk. Iman kepada qadar meliputi dua derajat, setiap satu derajat memuat dua perkara.

Derajat Pertama:
Beriman bahwa Allah Ta’ala mengetahui seluruh makhlukNya, semua makhluk berbuat dengan pengetahuan Allah yang ada semenjak dahulu, yang ilmu Allah disifati dengan azali (ada semenjak dahulu) dan abadi (terus menerus ada). Dan Dia mengetahui seluruh keadaan hamba, yang berupa ketaatan, kemaksiatan, rizqi, dan ajal.
Kemudian Allah menulis takdir-takdir seluruh makhluk di  Lauhil Mahfuzh

Adapun derajat kedua:
yaitu kehendak Allah yang pasti terjadi, dan kekuasaan Allah yang universal, yaitu beriman bahwa apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki pasti tidak akan terjadi.

Dan bahwa tidak ada di langit-langit dan di bumi yang berupa gerakan dan diam, kecuali dengan kehendak Allah Ta’ala. Tidak terjadi di dalam kerajaanNya apa yang tidak Dia kehendaki. Dan bahwa Allah Ta’ala Maha Kuasa atas segala sesuatu, dari segala yang ada dan segala yang tidak ada.
Tidak ada satu makhluk di bumi dan di langit kecuali Allah adalah penciptanya, tidak ada Pencipta selainNya, tidak ada Rabb (Pemilik; pengatur) selainNya.

Bersamaan dengan itu, Dia memerintahkan hamba-hambaNya untuk mentaatiNya dan mentaati para RasulNya, dan melarang mereka dari bermaksiat kepadaNya. Sedangkan Dia (Allah) Ta’ala mencintai orang-orang yang bertaqwa, orang-orang yang berbuat ihsan, orang-orang yang berbuat adil, dan meridhai orang-orang yang beriman dan beramal shalih.
Dan Dia tidak mencintai orang-orang kafir dan tidak meridhai orang-orang fasiq. Dia juga tidak memerintahkan kekejian, dan tidak meridhai kekafiran untuk hamba-hambaNya. Dan Dia tidak mencintai kerusakan.

Hamba adalah pelaku yang sebenarnya, sedangkan Alloh adalah Pencipta perbuatan-perbuatan mereka. Hamba ada yang mukmin, kafir, berbakti, durhaka, melakukan sholat, dan melakukan puasa. Hamba memiliki kemampuan dan kehendak terhadap perbuatan-perbuatan mereka, sedangkan Alloh adalah Pencipta mereka dan Pencipta kemampuan dan kehendak mereka. Sebagaimana firman Alloh Ta’ala:

لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ (28) وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (29

(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. (QS. At-Takwir/81: 28-29)

Derajat (kedua) dari (iman) kepada takdir ini didustakan oleh mayoritas Qodariyyah, kelompok orang-orang yang dinamakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Majusi umat ini.

Namun sekelompok orang yang menetapkannya bersikap ghuluw (melewati batas) dalam hal ini, sehingga mereka menghilangkan kemampuan dan pilihan hamba, dan mereka meniadakan hikmah dan mash-lahat dari perbuatan dan hukum Alloh”. (Aqidah Wasithiyah)

Qadar Allah yang Akan Terjadi Adalah Perkara Ghaib

Seorang muslim tidak mengetahui apa yang Allah takdirkan baginya, kecuali setelah terjadi. Sehingga qadar adalah perkara ghaib, kewajiban manusia meyakininya.

Demikian juga seorang muslim diperintahkan melakukan sebab atau usaha atau amalan. Dan hal ini tidak bertentangan dengan keimanan kepada qadar. Bahkan melakukan sebab itu termasuk qadar Allah.
Sahabat Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu berkata:

كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ الجَنَّةِ، وَمَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ» فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نَتَّكِلُ؟ قَالَ: «لاَ، اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ» ثُمَّ قَرَأَ: {فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى} [الليل: 5] إِلَى قَوْلِهِ {فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى} [الليل: 10]

“Kami duduk dekat Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda: “Tidak ada seorangpun dari kamu kecuali telah ditulis tempat tinggalnya di sorga atau tempat tinggalnya di neraka”.
Maka kami bertanya, “Wahai Rosululloh, tidakkah kita pasrah (kepada qadar)?”
Beliau menjawab, “Tidak. Hendaklah kamu beramal. Semua orang dimudahkan (kepada apa dia diciptakan)”.

Kemudian beliau membaca: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (sorga). Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup. Serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar”.(QS. Al-Lail/92: 5-10)
(HR. Bukhori, no. 4947)

Dua Jenis Qadar

Para Ulama telah menetapkan bahwa qadar ada dua macam:

1) Al-Qadar Al-Mutsbat atau Al-Mutlaq atau Al-Mubrom.

Yaitu qadar yang tetap, tidak akan berubah, tidak akan diganti. Ini adalah qadar yang telah ditulis di dalam Ummul Kitab atau Al-Lauhul Mahfuzh atau Kitabum Mubin, di sisi Allah Ta’ala.
Alloh Ta’ala berfirman:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”.
(QS. Al-An’am/6: 59)

Di dalam sebuah hadits yang shohih diriwayatkan:

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي لِأُمَّتِي أَنْ لَا يُهْلِكَهَا بِسَنَةٍ بِعَامَّةٍ وَلَا يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ
وَإِنَّ رَبِّي قَالَ لِي يَا مُحَمَّدُ إِنِّي إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لَا يُرَدُّ وَلَا أُهْلِكُهُمْ بِسَنَةٍ بِعَامَّةٍ وَلَا أُسَلِّطُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ وَلَوْ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِ أَقْطَارِهَا أَوْ قَالَ بِأَقْطَارِهَا حَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضًا وَحَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يَسْبِي بَعْضًا 

Dari Tsauban, dia berkata: Rosululloh sholallohu ‘alaihi was salam bersabda: “Sesungguhnya aku memohon kepada Robbku untuk umatku agar Dia tidak membinasakan umatku dengan paceklik yang merata, dan agar Dia tidak menjadikan musuh dari selain mereka menguasai mereka, sehingga musuh itu akan merampas daerah mereka.”

Dan sesungguhnya Robbku berkata kepadaku: “Wahai Muhammad, sesungguhnya jika Aku telah menetapkan satu keputusan, maka itu tidak akan ditolak. Dan Aku tidak akan membinasakan mereka (umatmu) dengan paceklik yang merata. Dan Aku tidak akan menjadikan musuh dari selain mereka menguasai mereka, sehingga musuh itu akan merampas daerah mereka, walaupun musuh berkumpul dari berbagai penjuru bumi, sampai sebagian mereka (umatmu) membinasakan sebagian yang lain, dan  sampai sebagian mereka (umatmu) menjadikan tawanan sebagian yang lain”.
(HR. Abu Dawud, no: 4252; Ahmad 5/278, 284; Al-Baihaqi, no: 3952. Dishohihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani)

2) Al-Qadar Al-Mu’allaq atau Al-Muqoyyad.

Yaitu qadar yang terjadi perubahan, penetapan, penghapusan, penambahan, atau pengurangan. (maupun yang) tetap, tidak akan berubah, tidak akan diganti. Ini adalah Qadar yang ditulis di lembaran-lembaran para malaikat.
Alloh Ta’ala berfirman:

يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).”
(QS. Ar-Ra’d/13: 39)

Di dalam sebuah hadits yang shohih diriwayatkan:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ»

Dari Anas bin Malik, rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa senang diluaskan rizkinya, atau dipanjangkan umurnya, hendaklah dia menyambung silaturrahim”.
(HR. Bukhori, no. 2067; Muslim, no. 2557)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat 728 H) berkata:

“Ajal itu ada dua: ajal mutlak yang diketahui oleh Allah, dan ajal muqayyad. Dengan ini menjadi jelas makna sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam: “Siapa senang diluaskan rizkinya, atau dipanjangkan umurnya, hendaklah dia menyambung silaturrahim”.
Sesungguhnya Allah memerintah malaikat menulis ajal manusia, dan Allah berkata, “Jika dia menyambung silaturrahim Aku tambahi sekian”. Sedangkan malaikat tidak mengetahui apakah ajalnya akan bertambah atau tidak. Tetapi Allah mengetahui apa yang akan terjadi, jika ajalnya telah datang, ia tidak akan maju dan tidak akan mundur”.
(Majmu’ Fatawa, 8/728)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaniy (wafat 852 H) menjelaskan tentang maksud tambahan umur bagi orang yang melakukan shilatur rohmi. Beliau berkata: “Ibnut Tiin berkata, “Zhahir haidts ini bertentangan dengan firman Allah Ta’ala:  “Maka apabila telah datang ajal (batas waktu)nya,  mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”.
(QS. Al-A’raf/7: 34; An-Nahl/16: 61)

Maka menggabungkan antara keduanya dari dua sisi pandang:

Pertama:
Bahwa tambahan umur ini adalah kinayah (kiasan) dari berkah di dalam umurnya. Dengan sebab taufiq (bimbingan Allah) melakukan ketaatan dan mengisi waktu dengan perkara yang bermanfaat di akhirat dan menjaga waktu dari menyia-nyiakan untuk selainnya.

Kedua:
Bahwa tambahan umur ini adalah benar sesuai hakekatnya. Hal itu berkaitan dengan ilmu malaikat yang bertugas (menulis) umur. Adapun (ajal) yang ditunjukkan oleh ayat adalah berkaitan dengan ilmu Allah Ta’ala. Seolah-olah seperti dikatakan kepada malaikat: “Sesungguhnya umur Si A 100 tahun jika dia menyambung silaturrahim, dan 60 tahun jika dia memutuskan silaturrahim”.

Dan telah pasti di dalam ilmu Allah bahwa dia akan menyambung silaturrahim, atau memutuskan silaturrahim. Maka di dalam ilmu Allah, umur itu tidak maju dan tidak mundur.
Adapun  di dalam ilmu malaikat, itu yang mungkin bertambah atau berkurang. Inilah yang diisyaratkan oleh firman Alloh Ta’ala, “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).”
(QS. Ar-Ra’d/13: 39)

Maka “menetapkan dan menghapuskan” itu berkaitan dengan ilmu malaikat.
Sedangkan yang terdapat di dalam Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh), yang berada di dalam ilmu Allah Ta’ala, maka tidak ada penghapusan sama sekali. Ini dinamakan qadha’ mubrom. Adapun yang pertama, (yang ada pada malaikat) dinamakan qadha’ mu’allaq”.
(Fathul Bari, 10/416)

Dari penjelasan ini anda bisa mengetahui apakah pernyataan ikhwan tersebut benar atau salah. Wallohu a’lam bish showwab.

Disusun oleh:
Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله
Jum’at, 02 Sya’ban 1441 H/ 27 Maret 2020 M



Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله
Beliau adalah Pengajar di Pondok Pesantren Ibnu Abbas As Salafi, Sragen
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله 
klik disini