Ibadah

Apakah Pahala Masih Mengalir, Jika Masjid Wakaf Direnovasi?

Pendaftaran Mahad Bimbingan Islam

Apakah Pahala Masih Mengalir, Jika Masjid Wakaf Direnovasi?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Apakah Pahala Masih Mengalir, Jika Masjid Wakaf Direnovasi? selamat membaca.

Pertanyaan:

Bismillah, Assalamualaikum ustadz. Afwan mau bertanya. Jika seseorang menyumbang untuk pembangunan mesjid kemudian setelah beberapa tahun mesjid tersebut dibongkar dan dibangun ulang dengan dana dari penyumbang yang baru.

Apakah penyumbang pembangunan masjid yang lama tetap mendapatkan pahalanya walaupun wujud fisik sumbangannya tidak ada karena sudah diganti. Syukron jazaakallahu khoiron

Ditanyakan oleh Santri Mahad Bimbingan Islam


Jawaban:

Waalaikum salam warahmatullah wabarokatuh

Sesuatu yang sangat dimaklumi, bahwa setiap manusia berusaha mempertahankan dan mengharapkan apa yang telah dilakukannya menjadi pahala jariyah yang terus mengalir bagi pelaku kebaikan tersebut walaupun nanti ia telah meninggalkan dunia.

Karenanya islam sangat menganjurkan seorang muslim yang mampu untuk melakukan wakaf yang dipergunakan di jalan Allah walau tidak mudah untuk di lakukan .

Sebagaimana firman Allah ta`ala,”

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai.” [Ali Imran/3:92].

Karenanya islam sangat mengnjurkan umatnya untuk berwakaf bagi yang mampu, sebagaimana hadist dari sahabat Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata :

أَصَابَ عُمَرُ بِخَيْبَرَ أَرْضًا فَأَتَى النَّبِيَّ فَقَالَ أَصَبْتُ أَرْضًا لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ أَنْفَسَ مِنْهُ فَكَيْفَ تَأْمُرُنِي بِهِ قَالَ إِنْ شِئْتَ حَبَّسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا , فَتَصَدَّقَ عُمَرُ , أَنَّهُ لَا يُبَاعُ أَصْلُهَا وَلَا يُوهَبُ وَلَا يُورَثُ , فِي الْفُقَرَاءِ وَالْقُرْبَى وَالرِّقَابِ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالضَّيْفِ وَابْنِ السَّبِيلِ , لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ أَوْ يُطْعِمَ صَدِيقًا غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيه

Umar Radhiyallahu ‘anhu telah memperoleh bagian tanah di Khaibar, lalu ia datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seraya berkata,”Aku telah mendapatkan bagian tanah, yang saya tidak memperoleh harta selain ini yang aku nilai paling berharga bagiku. Maka bagaimana engkau, wahai Nabi? Engkau memerintahkan aku dengan sebidang tanah ini?” Lalu Beliau menjawab, ”Jika engkau menghendaki, engkau wakafkan tanah itu (engkau tahan tanahnya) dan engkau shadaqahkan hasilnya,” lalu Umar menyedekahkan hasilnya. Sesungguhnya tanah ini tidak boleh dijual, tidak boleh dihibahkan dan tidak boleh diwaris, tetapi diinfakkan hasilnya untuk fuqara, kerabat, untuk memerdekakan budak, untuk kepentingan di jalan Allah, untuk menjamu tamu dan untuk ibnu sabil. Orang yang mengurusinya, tidak mengapa apabila dia makan sebagian hasilnya menurut yang makruf, atau memberi makan temannya tanpa ingin menimbunnya.” [HR Bukhari no. 2565, Muslim 3085].

Imam Nawawi berkata : Hadits ini menunjukkan asal disyari’atkan wakaf. Dan inilah pendapat jumhurul ulama’, serta menunjukkan kesepakatan kaum muslimin, bahwa mewakafkan masjid dan sumber mata air adalah sah. [Lihat Syarah Muslim, 11/86].

Pahala jariyah yang dianjurkan oleh Islampun tidak sebatas dengan satu amalan saja, namun ada banyak jalan yang bisa dilakukan, diantaranya apa yang disebutkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga perkara : shadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” [HR Muslim 3084].

Syaikh Ali Bassam berkata: Adapun yang dimaksud dengan shadaqah dalam hadits ini ialah wakaf. Hadits ini menunjukkan, bahwa amal orang yang mati telah terputus. Dia tidak akan mendapat pahala dari Allah setelah meninggal dunia, kecuali (dari) tiga perkara ini ; karena tiga perkara ini termasuk usahanya. Para sahabat dan tabi’in mengizinkan orang berwakaf, bahkan menganjurkannya. [Lihat kitab Taisiril Allam, 2/132].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan,”

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ

‎”Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menemuinya setelah kematiannya adalah: ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mush-haf Alquran yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil yang dibangunnya, sungai (air) yang dialirkannya untuk umum, atau shadaqah yang dikeluarkannya dari hartanya diwaktu sehat dan semasa hidupnya, semua ini akan menemuinya setelah dia meninggal dunia.” (HR. Ibnu Majah dan Baihaqi, dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani).

Baca Juga:  Kenapa Nabi diberi Gelar Shallallahu 'Alaihi Wasallam, Bukan Alaihissalam

Bila melihat sedikit apa yang dipaparkan diatas bahwa fungsi wakaf untuk menghasilkan pahala yang terus mengalir mempunyai banyak pintu, dimana setiap muslim mencoba melihat kembali dengan kemampuan yang dimiliki dari pintu mana ia mencoba untuk berjuang mendapatkan aliran pahala yang akan bisa ia nikmati sampai ia di masukkan oleh Allah kedalam surga.
Bila seseorang mempunyai kemampuan di dalam membangun masjid

Islampun telah menjanjikan kepada pelakunya dengan pahala besar akan dibangunkan rumah di dalam surga. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,”

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللَّهِ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang membangun masjid (karena mengharap wajah Allah), Allah akan membangunkan bangunan yang semisalnya di surga.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari ‘Utsman bin ‘Affan).

Bahkan bila hanya sekedar memberikan sebagian dari hartanya untuk membantu pembangunan atau kegiatan yang dilakukan, akan tetap mendapatkan pahala sesuai dengan usaha dan pengorbanan yang telah dilakukannya.

Dalam fatwa Lajnah Daimah (6/237) dijelaskan, “Memberikan harta untuk pembangunan masjid atau patungan dalam membagun masjid, termasuk sedekah jariyah. Bagi mereka yang memberikan dan meniatkan untuk tujuan membangun masjid, bila tulus ikhlas niatnya, maka ini termasuk perbuatan yang mulia.” (Fatwa Lajnah Daimah (6/237), dikutip dari Islamqa.com).

Kemudian bagi mereka yang telah membangun masjid atau bangunan lainnya yang dipergunakan untuk shalat, belajar, mengaji dan kegiatan kegiatan islam lainnya yang telah diajarkan oleh islam dan mempunyai pengaruh positif kepada umat dan generasi umat setelah nya.

Dimana bila bangunan dipergunakan untuk menghasilkan kebaikan dan selama kebaikan teresebut terus disebarkan dan diteruskan kepada umat berikutnya maka bukan hal yang mustahil ia akan mendapatkan pahala jariyah dari sisi kemanfaatan dari bangunan yang telah ia bangunkan.

Karenanya tidak ada hal yang sia sia dari bangunan yang telah ia wakafkan atau bangun.

Walaupun bentuknya bisa jadi berubah atau dihancurkan untuk dibangun kembali dengan bangunan yang baru pada hakikatnya jariyah akan tetap mengalir karena pondasi awal dan akar yang telah ia lalukan, sebagaimana batang pohon tidak akan kuat berdiri kecuali telah ada akar yang sebelumnya telah dan akan menopang batang yang diatasnya.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi mengatakan,

لا مانع من هدم المسجد القديم وتعميره على الطراز الحديث ؛ لما في ذلك من المصلحة العامة لأهل القرية وغيرهم ، وأما الذين بنوا الأول فأجرهم كامل ولا ينقطع بتجديده.

‘Tidak mengapa untuk merobohkan Masjid yang lama untuk dibangun dengan model yang baru. Karena ada maslahat di dalamnya baik untuk penduduk desa tersebut maupun yang selain mereka. Dan adapun mereka yang membangun bangunan yang pertama, maka pahala mereka adalah sempurna dan tak terputus karena adanya renovasi tersebut’. [Fatawa Lajnah Daimah 6/232-233]

Wakafkan apa yang kita miliki dari harta dan tenaga kepada pihak dan bidang yang kita yakini ada maslahat untuk umat, bukan sekedar memperkaya dan menjadi kebangggan para pengurusnya kerena telah memiliki wakaf yang besar namun kosong dari pemanfaatan.

Dan yakinlah dengan keadilan Allah dengan pahala dan kebaikan yang telah dilakukan oleh setiap hambaNya, bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan amalan para hambaNya. Sebagaimana firmanNya:

وَاصۡبِرۡ فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيۡعُ اَجۡرَ الۡمُحۡسِنِيۡنَ

“Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan”. (QS. Hud Ayat 115)

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله

Kamis, 4 Rajab 1444H / 26 Januari 2023 M 


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di sini

Akademi Shalihah Menjadi Sebaik-baik Perhiasan Dunia Ads

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button