Apakah Orang Yang Mati Karena Corona Mati Syahid Dan Bagaimana Cara Memandikannya
Apakah Orang Yang Mati Karena Corona Mati Syahid Dan Bagaimana Cara Memandikannya

Apakah Orang Yang Mati Karena Corona Mati Syahid ? Dan Bagaimana Cara Memandikannya ?untuk mengetahuinya silahkan simak artikel di bawah ini

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Jika ada seorang muslim korban covid 19 meninggal dunia, apakah dapat langsung dikelompokkan kedalam golongan orang yang mati syahid..?

Bagaimana prosedur yang aman cara memandikan sampai menguburkan yang sesuai dengan syariat dan juga agar tidak ada yang tertular..?

Jazakumullah khayran

 


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menjelaskan bahwa orang yang mati dikarenakam Tha’un maka ia mati syahid, beliau nyatakan itu di dalam riwayat sebagai berikut :

الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ الْمَطْعُونُ وَالْمَبْطُونُ وَالْغَرِقُ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Orang yang mati syahid ada lima, yakni orang yang mati karena ath-tha’un (wabah), orang yang mati karena menderita sakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang mati karena tertimpa reruntuhan dan orang yang mati syahid di jalan Allah.”

(HR. Bukhari : 2829, Muslim : 1914)

Dalam hadits yang lain Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الطَّاعُونُ شَهَادَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

“Tha’un adalah merupakan (sebab) syahidnya setiap orang Islam.” (HR Bukhari : 2830, Muslim : 1916).

Yang menjadi pertanyaan kita adalah apakah wabah Corona itu termasuk Tha’un sehingga hukum-hukum Tha’un bisa diberlakukan sama dengan kasus wabah Corona ?.

Atau justru Tha’un itu sesuatu yang lain yang berbeda dengan Wabah Corona, sehingga tidak semua hukum yang berlaku pada kasus Tha’un berlaku pula pada kasus Corona?

Jawabannya para ulama kita ahlissunnah wal jamaah berbeda pendapat dalam masalah ini. Diantara mereka ada yang menyatakan bahwa kasus Corona ini termasuk Tha’un seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili, Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syitsri, Syaikh Abdu Muhsin Al-Abbad dll.

Atas dasar ini maka mereka menyatakan orang yang mati karena wabah Corona maka mati syahid.

Sedang sebagian ulama’ lainnya menyatakan Tah’un itu sesuatu yang lain yang berbeda dengan wabah Corona. Imam An-Nawawi menyatakan tatkala menjelaskan detail tentang penyakit Tha’un :

والطاعون المذكور في باب الوصية: مرض معروف، هو بثر وورم مؤلم جدًا، يخرج مع لهب، ويسود ما حواليه أو يخضر أو يحمر حمرة بنفسجية كدرة، ويحصل معه خفقان القلب والقيء، ويخرج في المراقّ والآباط، غالبًا، والأيدي والأصابع وسائر الجسد

“Thaun yang tersebut dalam wasiat adalah penyakit yang sudah sangat dikenal, ia adalah benjolan, memar, dan rasanya sangat sakit sekali. Mengeluarkan cairan dan lokasi sekitar benjolan akan menghitam, atau membiru atau memerah agak ungu keruh. Disertai dengan kelainan detak jantung dan muntah. Ia keluar di lipatan-lipatan, ketiak, tangan dan sekujur tubuh.”

(Tahdzibul Asma’ Wal Lughat : 3/187).

Diantara hal pula yang menunjukkan bahwa Tha’un itu bukan wabah Corona adalah hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam :

عَلَى أَنْقَابِ الْمَدِينَةِ مَلَائِكَةٌ لَا يَدْخُلُهَا الطَّاعُونُ وَلَا الدَّجَّالُ

“Di setiap pintu masuk Madinah terdapat malaikat yang tidak dapat dimasuki Tha’un dan Dajjal.” (HR Bukhari : 1880, Muslim : 1379).

Sedangkan kita semua mengetahui bahwa virus Corona telah memasuki Madinah pada peristiwa hari-hari ini. Maka menyamakan Thaun dengan wabah Corona dari berbagai sisinya adalah satu hal yang kurang tepat. Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi menyatakan :

Baca:  Buhul Sihir dan Jin Bandel

نتشر في كثير من (وسائل التواصل الاجتماعي)-هذه الأيام-ما صحّ من قول النبي-صلى الله عليه وسلم-:

“ليس من رجل يقع الطاعون، فيمكث في بلده[وفي لفظ: بيته]صابراً محتسباً، يعلم أنه لا يصيبه إلا ما كتب الله له؛ إلا كان له مثل أجر الشهيد”، وتعميم الاستنباط مِن هذا الحديث: ليشملَ كلَّ مريض! أو مبتلى-جلس في بلده، أو بيته-محتسباً..-!

وهذا استدلالٌ فيه نظر:

لأن النص الوارد في (الطاعون) مخصوص به؛ لأنه يتضمن أحكاماً (غيبية)متعلقة به.
والأحكام الغيبية ليس فيها قياس.
وبخاصةٍ أن كل طاعون وباء، وليس كل وباء طاعوناً-كما حقّقه الحافظ ابن حجر وغيره-.

نعَم؛ باب الرجاء بالله-تعالى-واسع، وعفوه-سبحانه- أوسع.

“Telah tersebar di media sosial akhir-kahir ini sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih :

Tidaklah seorang lelaki tatkala ada Tha’un lalu ia duduk di negrinya (dalam riwayat lain di rumahnya) sabar dan berharap pahala. Ia tahu bahwa tidak ada yang akan mengenainya kecuali apa yang telah Allah tetapkan baginya, kecuali pasti ia akan diberikan pahala mati syahid

Memberlakukan secara umum pendalilan dengan hadits ini agar mencakup semua orang sakit dan terkena wabah yang duduk di negrinya, atau rumahnya karena berharap pahala. Cara berargumen seperti ini perlu ditinjau ulang :

Karena dalil yang tersebut tentang Thaun adalah hukum khusus yang berkaitan dengannya saja. Karena ia berhubungan dengan hukum ghaib yang berkaitan dengannya. Sedangkan hukum ghaib itu tidak ada qiyas di dalamnya.

Lebih khusus lagi bahwa setiap Thaun itu adalah wabah dan tidak sebaliknya, sebagaimana dinyatakan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dan yang selainnya.

Iya bahwa masalah harapan terhadap Allah itu adalah masalah yang luas, dan ampunan Allah adalah masalah yang jauh lebih luas lagi.”

(Makalah Syaikh dari Channel Telegram beliau).

Imam Ibnu Utsaimin juga menyatakan :

فهذه الأمراض التي تنتشر بسرعة وتؤدي إلى الهلاك يصح أن نقول: إنها طاعون حقيقة، أو حكماً.

ولكن الظاهر من السنة خلاف ذلك؛ لأن الرسول صلّى الله عليه وسلّم عَدَّ الشهداء فقال: المطعون والمبطون.

وهذا يدل على أن من أصيب بداء البطن غير من أصيب بالطاعون، والمبطون هو الذي انطلق بطنه

“Maka penyakit ini yang tersebar luas dengan cepat dan mengakibatkan kebinasaan boleh bagi kita menyebutnya sebagai Tha’un baik secara hakiki maupun majazi. Akan tetapi secara lahiriyah, sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menyelisihi hal tersebut. karena nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatagorikan para syuhada’ dengan berkata ; Orang yang terkena Tha’un dan orang yang terkena penyakit perut.

Hadits ini menyatakan bahwa orang yang mati terkena penyakit perut berbeda dengan oran yang mati terkena Tha’un. Mabtun adalah orang yang terkena sakit perut nya.”

(Asy-Syarhul Mumti’ : 11/110).

 

 

Dari sini kita memahami bahwa Tha’un memiliki kesamaan dengan wabah corona pada sebagian hukum, tidak pada semua hukum. Seperti cara penanganannya yang sama dengan menjaga jarak dan beberapa hukum lainnya. Akan tetapi berkaitan dengan status orang yang mati karena Corona sebagian ulama menyatakan tidak bisa diberlakukan secara umum.

Baca:  Belum Ada Bank Syari'ah di Daerahnya

Apakah yang Terkena Corona Bisa di Anggap Mati Syahid?

Meski sebagian ulama menyatakan orang yang mati karena wabah Corona mati syahid, hanya saja, kami mengingatkan bahwa hukum mati syahid tersebut adalah hukum (vonis) secara umum. Dan tidak boleh dipastikan dan diberlakukan pada person tertentu bahwa ia pasti mati syahid dan pasti masuk syurga. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

فَإِنَّ الرَّجُلَ مِنْكُمْ لَيَعْمَلُ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجَنَّةِ إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ كِتَابُهُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ وَيَعْمَلُ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّارِ إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja, kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka.

Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.”

(HR Bukhari : 3208, Muslim : 2643).

Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi menyatakan :

ولا ننزل أحدًا منهم جنة ولا نارا، ولا نشهد عليهم بكفر ولا بشرك ولا بنفاق، ما لم يظهر منهم شيء من ذلك، ونذر سرائرهم إلى الله تعالى

“Kami tidak memastikan salah seorang dari mereka masuk surga atau neraka. Kami tidak pula menyatakan mereka sebagai orang kafir, musyrik, atau munafik selama tidak tampak lahiriah mereka seperti itu. Kami menyerahkan urusan hati mereka kepada Allah ta’ala.”

(Ushulul Aqidah Allati Aqarraha Imam Ath-Thahawi : 120).

Apapun pendapat ulama’ yang kita yakini tentanh hal ini, sisi kesamaannya adalah semua ulama’ kita membolehkan bagi kita semua untuk mendoakan dan mengharap kesyahidan, ampunan dan rahmat bagi orang-orang yang wafat dikarenakan Wabah.

Adapun berkaitan dengan kepengurusan jenazah yang terkena Virus Corona

Syaikh DR. Abdul Aziz bin Rayyis Ar-Rayyis pernah ditanya tentang masalah ini dan beliau menjawabnya di salah satu fatwa beliau. Berikut redaksi dari fatwa beliau :

أسأل الله أن يغفر لموتى المسلمين، وأسأل الله أن يجعل لهم أجر الشهيد إنه الرحمن الرحيم.
وليُعلم أن من مات من المسلمين ولم يُتمكن من تغسيله فإنه يُنتقل إلى البدل وهو التيمم، ذكر هذا الحنفية والمالكية والشافعية والحنابلة في قول، ويدل لذلك أن النبي -صلى الله عليه وسلم- فيما أخرج الشيخان من حديث أم عطية قال: «ابدأن بميامنها ومواضع الوضوء منها» فدل على أنه يُوضَّأ.

فمن يُوضَّأ ولم يُستطع توضيؤه فإنه يُنتقل إلى البدل وهو التيمم، فإذا لم يُستطع أن يُنتقل إلى البدل وهو التيمم فإن هذا واجب سقط للعجز، ولا واجب مع العجز.

لكن أنبه إلى أمر: إذا أمكن تغسيله ولو بأن يُغسل بالماء من بعيد، بحيث إن الماء يُعمم على بدنه كله، فإن هذا يُجزئ، إذ شرط تغسيل الميت أن يعم الماء البدن كله، فلو أمكن تغسيله من بعيد فإنه مجزئ، فإن لم يُمكن يُيمم، وإن لم يمكن أن يُيمم فإن هذا واجب سقط للعجز كما تقدم، والقاعدة الشرعية: لا واجب مع العجز. كما قال تعالى: ﴿فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ﴾ [التغابن: 16]، وكما أخرج البخاري ومسلم من حديث أبي هريرة -رضي الله عنه- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: «وما أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم».

ثم بعد ذلك إن لم يُستطع تغسيله ولا أن يُيمم، فيُصلى عليه، كما هو أصح القولين فإن الصلاة عليه ليست مرتبطة بتغسيله، كما هو قول عند المالكية وهو قول الحنابلة وبعض الشافعية، إذ لا دليل على ارتباط الصلاة عليه بتغسيله، فعلى هذا من لم يُغسل يُصلى عليه ويُدفن.

“Aku memohon kepada Allah agar mengampuni setiap rang yang mati dari kalangan kaum muslimin dan aku memohon agar Allah menganugrahkan pahala mati syahid bagi mereka sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Baca:  Membeli Kendaraan (Mobil) Lewat Leasing

Dan hendaknya diketahui bahwa setiap yang mati dari kalangan kaum muslimin dan tidak memungkinkan untuk dimandikan maka beralih kepada penggantinya yaitu tayammum. Pendapat ini disebutkan oleh hanafiyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah dalam salah satu pendapat.

Dalilnya adalah hadits riwayat Bukhari Muslim dari Ummu ‘Athiyyah nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Mulailah dari bagian badannya yang kanan dan bagian-bagian wudhunya.

Ini menunjukkan bahwa jenazah itu duwudhukan.

Barangsiapa diwudhukan dan tidak bisa maka beralih kepada penggantinya yaitu ditayammumi. Maka ini adalah kewajiban yang gugur karena ada ketidaksanggupan. Dan tidak ada kewajiban saat ketidaksanggupan.

Akan tetapi aku memperingatkan satu hal jika memungkinkan untuk dimandikan dengan air meskipun dari kejauhan. Yang mana air bisa diguyurkan merata ke seluruh badannya, maka ini mencukupi. Karena syarat mandi itu dengan mengguyurkan air ke seluruh badan.

Jika memungkinkan dimandikan dari kejauhan maka ini mencukupi dan sah. Jika tidak memungkinkan maka ditayammumi. Jika tidak memungkinkan ditaymmumi maka kewajiban ini gugur sebagaiman telah berlalu. Karena kaidah syariat menyatakan ; Tidak ada kewajiban jika disertai adanya ketidak mampuan, sebagaimana firman Allah ta’ala :

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kemampuanmu (QS At-Taghabun : 16).

Dan sebagaimana disebut dalam hadits riwayat Bukhari Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Apabila aku memerintahkan sesuatu maka kerjakanlah sesuai dengan kemapuan kalian.*

Kemudian jika jeazah tidak bisa dimandikan tidak bisa pula ditayammum maka ia dishalatkan, menurut pendapat yang lebih benar dari dua pendapat yang ada. Karena salat jenazah tidak berkaitan dengan pemandian jenazah. Itulah pendapat dari Malikyyah, Hanabila dan sebagian Syafiiyyah. Karena tidak ada dalil yang menjelaskan keterkaitan antara shalat jenazah dengan pemandian jenazah.

Berdasarkan hal ini maka jenazah yang tidak mungkin dimandikan tetap dishalati dan dikuburkan.”

(Fatwa Syaikh Abdul Aziz Ar-Rayyis di channel telegram beliau).

Wallahu a’lam

 

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله



Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله  
klik disini