Apakah Harta yang Telah Dihibahkan Boleh Diambil Kembali Oleh Ahli Waris bimbingan islam
Apakah Harta yang Telah Dihibahkan Boleh Diambil Kembali Oleh Ahli Waris bimbingan islam

Apakah Harta yang Telah Dihibahkan Boleh Diambil Kembali Oleh Ahli Waris?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang baik hati berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang apakah harta yang telah dihibahkan boleh diambil kembali oleh ahli waris?
Silahkan membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah Azza wa Jalla selalu menjaga Ustadz & keluarga.

Kami mau nanya ustadz, apakah tanah yang sudah dihibahkan bisa diambil lagi oleh ahli warisnya?

(Disampaikan oleh Fulan, Member grup WA BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du

Definisi Hibah

Kata hibah berasal dari bahasa Arab, dari kata (الهِبَةُ) yang berarti pemberian yang dilakukan seseorang saat dia masih hidup dan dalam keadaan sehat kepada orang lain tanpa imbalan (pemberian cuma-cuma), baik berupa harta atau bukan harta.
Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا ﴿٥﴾ يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ ۖ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا

“Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Rabbku, seorang yang diridhai”
(QS. Maryam: 5-6).

Apakah Hibah boleh diambil lagi?

Hukum asal barang yang sudah diberi tidak bisa diambil lagi, asalkan bentuk sighat pemberiannya jelas dan yang diberi telah menerima atau mengiyakannya, karena jika dibatalkan akan menyakiti hati orang yang dihibahi (penerima hibah). Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

العائِدُ في هِبَتِهِ كَالْكَلْبِ يَعُوْدُ فِي قَيْئِهِ

“Orang yang menarik kembali hibahnya seperti anjing yang menjilat kembali muntahnya “
(HR. Bukhari, no. 1490, dan Muslim, no. 1620).

Mayoritas Ulama berpendapat untuk benda yang tidak atau susah berpindah tempat, seperti tanah, atau bangunan permanen perlu diserahterimakan, semacam ada saksi, atau rumahnya sudah ditempati, dan tanahnya sudah dikelola oleh penerima hibah, maka jenis hibah semacam ini berifat permanen dan mengikat, tidak boleh diambil oleh ahli waris (terlarang).

Jika hibah belum diserahterimakan, sedangkan pemberi hibah telah wafat. Maka ketika itu, hibah belum bersifat permanen dan ahli waris boleh mengambil hibah kembali. Hal ini karena melihat 3 alasan penting;

1. hibah adalah akad tabarru’ (nirlaba), seandainya sah tanpa serah terima, tentulah yang diberi hibah memiliki hak untuk menuntut pemberi hibah agar menyerahkan hadiah tersebut kepadanya, sehingga menjadi seperti akad dhaman (ganti rugi). Ini tidak sesuai kaidah pemberian (hibah).

2. Penarikan hibah sebelum terjadi serah terima menunjukkan si pemberi hibah tidak ridha dengan pemberian tersebut. Apabila dipaksa harus menyerahkan, maka sama dengan mengeluarkan harta tanpa keridhaan. Ini bertentangan dengan tabiat hibah secara asal.

3. Pemberi hibah telah wafat, dan hibah belum diserahterimakan, maka ahli waris secara umum lebih berhak menerima harta peninggalan si mayit.

Pengecualian Hibah (Pemberian orang tua kepada anak boleh diambil lagi)

لا يَحِلُّ لِرَجُلِ أنْ يُعْطِيَ عَطِيَّةً، أوْ هِبَةً، ثُمَّ يَرْجِعَ فِيهَا، إِلا الْوَالِدَ فِيمَا يُعْطِي وَلَدَهُ

“Tidak diperbolehkan bagi seorang yang memberikan pemberian atau hibah kemudian ia menarik kembali pemberiannya kecuali pemberian orang tua kepada anaknya.”
(HR Ahmad, Abu Daud, dan lainnya, dihukumi sebagai hadits shahih oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih al jami, no. 2775).

Kesimpulan

Dengan demikian jelaslah setelah serah terima, hibah menjadi milik yang diberi dan dilarang menarik kembali, walaupun oleh ahli waris.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Selasa, 05 Muharram 1442 H / 25 Agustus 2020 M



Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini